Lodia Tablet 2 mg

25 Nov 2020| Aby Rachman
Lodia tablet adalah obat untuk mengatasi diare akut yang tidak diketahui penyebabnya dan kronik

Deskripsi obat

Lodia tablet adalah obat untuk mengatasi diare akut yang tidak diketahui penyebabnya dan kronik. Lodia juga dapat digunakan untuk mengurangi jumlah feses pada orang yang akan menjalani operasi terkait masalah buang air besar yang disebabkan adanya gangguan pada usus besar (ileostomy). Obat ini termasuk dalam golongan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Lodia tablet mengandung zat aktif loperamide. Loperamide termasuk ke dalam golongan obat agonis opioid reseptor yang bekerja dengan mengurangi aktivitas usus besar, sehingga memperlambat pergerakan dan kontraksi usus. Dengan begitu, usus memiliki waktu untuk menyerap makanan, sehingga menyebabkan zat-zat tinggal lebih lama dalam usus, menyediakan waktu lebih banyak untuk menyerap air keluar, dan feses menjadi lebih padat.
Lodia Tablet 2 mg
HETRp 78.375/box (6 strip) per Maret 2019
Kandungan utamaLoperamide.
Kelas terapiAntidiare.
Klasifikasi obatAgonis opioid.
Kemasan1 box isi 6 strip @ 10 tablet (2 mg)
ProdusenSanbe Farma

Informasi zat aktif

Loperamide merupakan obat yang dapat mengatasi diare, yang termasuk dalam golongan agonis opioid reseptor. Loperamid bekerja dengan cara memperlambat pergerakan usus. Dengan begitu, zat-zat akan tertahan lebih lama dalam usus dan menyerap air keluar dari feses, sehingga membuat feses menjadi lebih padat.

Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, loperamid diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Buruk, diserap di saluran pencernaan. Kadar obat yang masuk ke dalam peredaran darah (ketersediaan hayati) sekitar 0,3%.
  • Distribusi: Buruk, didistribusikan ke otak. Memasuki ASI (jumlah kecil). Ikatan protein plasma: sekitar 95%, terutama untuk albumin.
  • Metabolisme: Hampir sepenuhnya dimetabolisme di hati.
  • Ekskresi: Terutama melalui feses (sebagai obat dan metabolit yang tidak berubah); air seni. Waktu yang dibutuhkan obat untuk dikeluarkan oleh tubuh dari separuh kadar awal obat (waktu paruh eliminasi) kira-kira selama 10 jam.

Indikasi (manfaat) obat

  • Mengatasi diare akut yang tidak diketahui penyebabnya dan diare yang terjadi dalam waktu yang lama, yaitu selama 2 minggu ke atas (diare kronik).
  • Mengurangi frekuensi buang air besar.
  • Mengurangi jumlah feses pada orang yang akan menjalani operasi terkait masalah buang air besar yang disebabkan adanya gangguan pada usus besar (ileostomy).

Loperamide bekerja dengan memperlambat aktivitas usus Anda. Jadi, kecepatan makanan yang melewatinya akan berkurang, sehingga makanan tetap berada di usus Anda lebih lama. Hal ini memungkinkan lebih banyak air diserap kembali ke dalam tubuh Anda dan menghasilkan feses yang lebih padat, sehingga lebih jarang dikeluarkan.

Komposisi obat

Loperamide hidroklorida 2 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Diare kronis:

  • Dewasa:
    • Dosis awal: 4-8 mg/hari dikonsumsi dalam dosis terbagi. Ditambah 2 mg setiap buang air besar.
    • Dosis maksimal: 16 mg/hari. Hentikan penggunaan jika selama 48 jam kondisi tidak membaik.

Diare akut non spesifik:

  • Dewasa:
    • Dosis awal: 4 mg, dilanjutkan dengan 2 mg setiap setelah buang air besar.
    • Dosis maksimal: 16 mg/hari. Hentikan penggunaan jika selama 48 jam kondisi tidak membaik.
  • Anak-anak:
    • 4-8 tahun: 1 mg sebanyak 3-4 kali/hari.
    • 9-12 tahun: 2 mg sebanyak 4 kali/hari. Dikonsumsi selama 5 hari.

Aturan pakai obat

Dapat diberikan bersama atau tanpa makanan.

Efek samping obat

  • Perut kembung.
    Hindari makanan yang menyebabkan angin, seperti lentil, kacang-kacangan, dan bawang. Makan lebih sedikit dan lebih sering, makan dan minum perlahan, dan berolahraga secara teratur juga mungkin dapat membantu mengurangi efek samping ini. Konsumsi produk yang bisa Anda beli dari apotek untuk membantu mengatasi angin, seperti tablet arang atau simethicone.
  • Kesulitan buang air besar (sembelit).
    Konsumsilah lebih banyak makanan berserat tinggi, seperti buah, sayuran segar, dan sereal, serta minumlah banyak air. Lakukan olahraga dengan berjalan-jalan atau berlari setiap hari. Jika cara ini tidak membantu, segera hubungi apoteker atau dokter Anda.
  • Mual.
    Coba minum loperamide dengan atau setelah makan atau ngemil. Konsumsilah makanan sederhana dan hindari makanan kaya rasa atau pedas.
  • Pusing.
    Jika loperamide membuat Anda merasa pusing saat berdiri, cobalah bangun dengan sangat lambat atau tetap duduk sampai Anda merasa lebih baik. Jika Anda mulai merasa pusing, berbaringlah agar tidak pingsan, lalu duduklah sampai Anda merasa lebih baik. Berhati-hatilah saat mengemudi atau mengoperasikan mesin jika Anda pusing.
  • Muntah.
  • Nyeri perut.
  • Ruam kulit.
  • Letih.
  • Mengantuk.
  • Infeksi bakteri Clostridium difficile pada usus (toksik megakolon).

Perhatian Khusus

  • Pasien penderita gangguan irama jantung (aritmia).
  • Pasien penderita acquired immune deficiency syndrome (AIDS).
  • Pasien penderita peningkatan tekanan bola mata (glaukoma).
  • Pasien penderita penyumbatan pada pyloric.
  • Tidak direkomendasikan untuk penggunaan jangka panjang.
  • Hentikan penggunaan jika terjadi sembelit, perut kembung, dan kelumpuhan pada usus (ileus).
  • Pasien yang mengalami pendarahan pada leher kandung kemih.
  • Hentikan setelah 48 jam penggunaan jika tidak ada perbaikan.
  • Pasien penderita peradangan pada usus besar (kolitis akut).
  • Pasien yang mengalami infeksi bakteri atau parasit.
  • Anak-anak 2 tahun ke bawah.
  • Pasien denga gangguan fungsi hati.
  • Selama penggunaan obat ini imbangi dengan cairan.
  • Wanita hamil dan ibu manyusui.
  • Hindari mengemudi kendaraan atau menjalankan mesin jika Anda mengalami ngantuk, pusing, dan kelelahan.

Kategori kehamilan

Kategori C: Belum terdapat penelitian terkontrol untuk penggunaan Lodia tablet pada ibu hamil. Namun, ada efek samping yang mungkin dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan janin. Oleh karena itu, penggunaannya pada ibu hamil hanya dapat dilakukan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin. Konsultasikan penggunaan obat ini dengan dokter sebelum digunakan.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien disentri akut yang ditandai dengan feses berdarah dan demam tinggi.
  • Pasien dengan kondisi ketika otot usus mengalami kelumpuhan (ileus).
  • Pasien dengan kondisi peradangan kronis yang terjadi pada usus besar.
  • Diare akut yang berkaitan dengan organisme yang mempenetrasi mukosa usus atau kolitis pseudomembranosa yang disebabkan antibiotik spektrum luas.
  • Pasien dengan kondisi ketika ada gas atau cairan menumpuk di dalam perut yang menyebabkan perut atau pinggang mengembung (distensi abdomen).
  • Pasien dengan kondisi peradangan pada usus besar atau usus halus (enterokolitis).
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini.
  • Pasien penderita diare karena infeksi.
  • Hindari penggunaan pada pasien yang mengalami kesulitan buang air besar (sembelit).

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Desmopresin oral.
    Lorapamid dapat meningkatkan efek dan kadar desmopresin oral, sehingga dapat menyebabkan terjadinya efek samping.
  • Quinidine, ritonavir, dan ketoconazole.
    Obat di atas dapat meningkatkan kadar Lodia tablet, sehingga akan menimbulkan reaksi terjadinya efek samping.
  • Kuinidin, ritonavir, gemfibrozil, ketokonazol, dan itrakonazol.
    Penggunaan lorapamid dengan obat di atas dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi obat dan meningkatkan risiko efek samping.
  • Saquinavir.
    Lodia tablet dapat menurunkan sebagian kadar saquinavir dalam tubuh, sehingga akan menurunkan efektivitas dari saquinavir.
  • Obat golongan narkotika yang dapat mengurangi rasa sakit (opioid), obat untuk mengatasi alergi (antihistamin), obat untuk mengurangi pergerakan usus (antikolinergik), dan obat untuk gangguan mental seperti halusinasi (antipsikotik).
    Penggunaan bersama obat di atas dapat menyebabkan risiko terjadinya kesulitan buang air besar (sembelit).

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutkan konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa mengonsumsi obat, cobalah menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau mintalah bantuan orang lain mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian sesuai kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Hentikan penggunaan dan hubungi dokter jika Anda mengalami:

  • Diare yang berair atau berdarah.
  • Sakit perut atau perut kembung.
  • Diare yang sedang berlangsung atau memburuk.
  • Detak jantung cepat atau berdebar-debar, dada berdebar-debar, sesak napas, dan pusing tiba-tiba (seperti Anda mungkin akan pingsan).

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/lodia/?type=brief
Diakses pada 13 November 2020

Drugs. https://www.drugs.com/mtm/loperamide.html
Diakses pada 13 November 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-4789-4025/loperamide-oral/loperamide-oral/details
Diakses pada 13 November 2020

NHS. https://www.nhs.uk/medicines/loperamide/
Diakses pada 13 November 2020

Patient. https://patient.info/medicine/loperamide-for-diarrhoea-imodium-diah-limit-dioraleze-entrocalm-norimode
Diakses pada 13 November 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

4 Cara Mengatasi Diare yang Dapat Dilakukan di Rumah

Diare merupakan reaksi alamiah tubuh dalam melawan bakteri atau virus yang masuk ke tubuh. Akan tetapi, terkadang reaksi ini membuat kewalahan dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari Anda. Diare dapat disebabkan oleh beberapa hal, tetapi penyebab paling umum adalah karena infeksi bakteri, virus, atau parasit.
12 Apr 2019|Anita Djie
Baca selengkapnya
4 Cara Mengatasi Diare yang Dapat Dilakukan di Rumah

Terlambat Menstruasi Tapi Tak Hamil? Ini Mungkin Penyebabnya

Terlambat menstruasi adalah masa menstruasi yang tidak datang lebih dari 35 hari. Umumnya ini adalah pertanda kehamilan jika Anda melakukan hubungan seksual sebelumnya.
18 Jun 2019|Asni Harismi
Baca selengkapnya
Terlambat Menstruasi Tapi Tak Hamil? Ini Mungkin Penyebabnya

Sakit Perut pada Anak, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Sakit perut pada anak merupakan hal yang umum terjadi. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari yang ringan hingga berat. Pada kasus yang parah, bahkan memerlukan bantuan medis.
23 Oct 2019|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
Sakit Perut pada Anak, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya