Lexapram Tablet 10 mg

14 Jan 2021| Ajeng Prahasta
Lexapram tablet adalah obat untuk mengatasi mual dan muntah seperti migrain dan setelah kemoterapi.

Deskripsi obat

Lexapram tablet adalah obat untuk mengatasi mual dan muntah seperti migrain dan setelah kemoterapi. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Lexapram tablet mengandung zat aktif metoklopramid hidroklorida.

Lexapram Tablet 10 mg
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
Produk HalalYa
Kandungan utamaMetoklopramid hidroklorida.
Kelas terapiAntiemetik dan prokinetik.
Klasifikasi obatAgen prokinetik.
Kemasan1 box isi 10 strip @ 10 tablet (10 mg)
ProdusenMolex Ayus

Informasi zat aktif

Metoklopramid memiliki efek antiemetik dengan menghambat reseptor dopamin D2 dan serotonin 5-HT3 di chemoreceptor trigger zone (CTZ) yang terletak di area postrema otak sehingga dapat meredakan mual dan muntah dan menghambat reseptor D2 di saluran pencernaan, hal tersebut merangsang motilitas saluran pencernaan bagian atas dan mempercepat peristaltik lambung tanpa mempengaruhi sekresi lambung, empedu atau pankreas yang menyebabkan peningkatan pengosongan lambung dan waktu transit usus. Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, metoklopramid diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diabsorpsi secara cepat dan sempurn dari saluran cerna setelah pemberian oral. Ketersediaan hayati adalah 80±15.5% dan waktu puncak konsentrasi plasma sekitar 1-2 jam.
  • Distribusi: Didistribusi secara luas keseluruh jaringan tubuh, melewati sawar darah otak dan plasenta serta memasuki ASI dalam kadar yang rendah. Volume distribusi sekitar 3,5 L/kg dan ikatan protein plasma sekitar 30%.
  • Metabolisme: Metabolisme lintas pertama di hati oleh CYP2D6 melalui oksidasi dan konjugasi glukuronida dan sulfat menjadi metabolit utama, monometil metoklopramid.
  • Eksresi: Sekitar 85% diekskresi melalui urin dengan 50% dalam bentuk bebas atau konjugasi metoklopramid dan sebanyak 5% diekskresi melalui feses. Waktu paruh eliminasi adalah 2,5-6 jam.

Indikasi (manfaat) obat

  • Mencegah mual dan muntah karena sakit kepala sebelah (migrain), setelah operasi, radioterapi atau kemoterapi.
  • Mengatasi sensasi rasa panas dan terbakar pada dada akibat naiknya asam lambung ke kerongkongan (heartburn).

Metoklopramid menyebabkan efek antiemetik dengan menghambat reseptor dopamin D2 dan serotonin 5-HT3 di zona pemicu chemoreceptor (CTZ) yang terletak di area postrema otak. Administrasi obat ini mengarah ke efek prokinetik melalui tindakan penghambatan pada presinaptik dan pascasinaptik D2 reseptor, agonis reseptor serotonin 5-HT4, dan antagonisme penghambat reseptor muskarinik. Sehingga akan meningkatkan pelepasan asetilkolin, menyebabkan peningkatan sphincter esofagus yang lebih rendah (LES) dan tonus lambung, mempercepat pengosongan lambung dan transit melalui usus. Metoklopramid memusuhi reseptor dopamin D2. Dopamin memberikan efek relaksasi pada saluran gastrointestinal melalui pengikatan pada reseptor D2 otot.

Komposisi obat

Metoklopramid hidroklorida 10 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Mencegah mual dan muntah karena radioterapi atau kemoterapi:

  • Dewasa: 10 mg dalam dosis tunggal. Maksimal dikonsumsi selama 5 hari.
  • Anak-anak:
    • 6 tahun ke bawah: 0,1 mg/kg BB/hari.
    • 6-14 tahun: 2,5-5 mg/kg BB/hari.
      Dihitung dengan mengalikan berat badan pasien.

Masalah lambung yang disebabkan karena penyakit kencing manis:

  • Dewasa: 10 mg dikonsumsi sebanyak 4 kali/hari, dikonsumsi selama 2-8 minggu.
  • Dosis maksimal: 40 mg/hari.

Gastroesophageal reflux disease (GERD):

  • Dewasa: 10-15 mg sebanyak 4 kali/hari atau 20 mg dalam dosis tunggal. Maksimal dikonsumsi selama 12 minggu.

Aturan pakai obat

Dapat dikonsumsi 30 menit sebelum makan dan sebelum tidur. Obat ini dikonsumsi selama 4 hingga 12 minggu.

Efek samping obat

  • Mengantuk dan kekurangan energi.
    Hindari mengendarai kendaraan atau menjalankan mesin dan hindari mengonsumsi alkohol karena akan menyebabkan rasa lelah yang berlebih. Jika gejala tidak hilang atau berlangsung lama, segera hubungi dokter Anda.
  • Penurunan mood.
    Jika terjadi dalam beberapa hari, segera hubungi dokter Anda.
  • Pusing atau pingsan karena terjadi penurunan tekanan darah hingga di bawah batas normal (hipotensi).
    Hindari mengemudi kendaraan, bersepeda ataupun menjalankan mesin. Duduk dan berbaring hingga gejala berkurang. Hindari mengonsumsi alkohol, karena akan memperparah efek samping ini. Segera hubungi dokter Anda jika gejala tidak hilang setelah beberapa hari atau semakin memburuk.
  • Pada penggunaan dosis tinggi dapat menyebabkan terjadinya diare.
    Mengonsumsi banyak cairan, untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Dehidrasi ditandai dengan adanya gejala penurunan buang air kecil atau urin berwarna gelap, dan berbau kuat. Jangan mengonsumsi obat lain untuk mengatasi diare, segera hubungi dokter Anda.
  • Pusing.
  • Gangguan kesulitan tidur (insomnia).
  • Gangguan kondisi kejiwaan seperti marah dan gelisah dengan atau tanpa disertai pemicu (agitasi).
  • Gangguan perubahan mood.
  • Demam.
  • Nyeri pada otot.
  • Berkeringat.
  • Reaksi alergi seperti gatal dan ruam pada kulit.
  • Mengantuk.
  • Detak jantung yang melambat.
  • Gangguan menstruasi yang tidak teratur.
  • Kekakuan pada otot.
  • Penurunan tekanan darah hingga di bawah batas normal (hipotensi).
  • Gangguan gemetar yang tidak terkendali (tremor).

Perhatian Khusus

  • Pasien penderita gangguan fungsi hati atau ginjal.
  • Pasien lanjut usia.
  • Pasien yang mengalami gangguan mental.
  • Pasien penderita penyakit parkinson.
  • Pasien penderita tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Pasien penderita gagal jantung.
  • Pasien penderita gangguan ginjal.
  • Pasien dengan gangguan keseimbangan elektrolit.
  • Pasien yang mengalami detak jantung melambat (bradikardi).
  • Pasien penderita asma.
  • Pasien penderita kencing manis (diabetes melitus).
  • Anak-anak.
  • Pasien dengan kelainan genetik yang timbul akubat pembentukan heme yang tidak sempurna (porfiria).

Kategori kehamilan

Kategori B: Penelitian tidak menemukan efek malformasi atau efek yang mengganggu perkembangan janin pada trimester pertama dan selanjutnya. Studi pada reproduksi hewan telah membuktikan tingkat keamanan obat ini.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien penderita penyumbatan pada saluran pencernaan (obstruski gastrointestinal).
  • Pasien penderita luka atau perdarahan pada saluran pencernaan.
  • Pasien yang menjalani operasi saluran pencernaan pada 3-4 hari sebelumnya.
  • Pasien yang memiliki tumor jinak yang terbentuk pada bagian tengah kelenjar adrenal (freokromositoma).
  • Pasien penderita epilepsi.
  • Pasien yang mengonsumsi obat yang dapat menyebabkan terjadinya gejala ekstrapiramidal seperti obat fenotiazin dan butirofenon.
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap metoklopramid.
  • Pasien yang mengalami gerakan yang tidak terkendali pada wajah dan bagian tubuh lain yang disebabkan karena efek samping dari penggunaan obat untuk gangguan mental dan sistem saraf (tardive dyskinesia).

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Siklosporin.
    Penggunaan bersama metoklopramid dapat menyebabkan peningkatan efektivitas siklosporin.
  • Turunan morfin, ansiolitik, penghambat reseptor H1, antidepresan sedatif, barbiturat, dan klonidin.
    Penggunaan bersama metoklopramid dapat menyebabkan peningkatan efek sedatif.
  • Fenotiazin dan tetrabenazin.
    Dapat menyebabkan peningkatan terjadinya risiko gangguan ekstrapiramidal.
  • Digoksin.
    Penggunaan bersama metoklopramid dapat menyebabkan terjadinya penurunan efektivitas obat digoksin.
  • Fluoksetin dan paroksetin.
    Penggunaan bersama metoklopramid dapat menyebabkan terjadinya peningkatan kadar serum fluoksetin dan paroksetin.
  • Atovakuon.
    Penggunaan bersama atovakuon menyebabkan terjadinya penurunan kadar metklopramid.
  • Penghambat monoamin oksidase (MAOI).
    Penggunaan bersama MAOI dapat menyebabkan peningkatan terjadinya risiko tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Obat penurun kadar glukosa darah (antidiabetes).
    Metoklopramid dapat menurunkan efektivitas obat antidiabetes.

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, maka dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutnya konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa untuk mengonsumsi obat, cobalah untuk menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau meminta bantuan orang lain untuk membantu mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Jika otot atau mata Anda mulai bergerak dengan cara yang tidak biasa atau tidak terkontrol, dan mengalami kejang segera hubungi dokter Anda.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/metoclopramide
Diakses pada 22 Juli 2020

Medscape. https://reference.medscape.com/drug/reglan-metozolv-odt-metoclopramide-342051#0
Diakses pada 22 Juli 2020

ndrugs. https://www.ndrugs.com/?s=metolon
Diakses pada 22 Juli 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-8679/metoclopramide-oral/details
Diakses pada 22 Juli 2020

Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/metoclopramide/
Diakses pada 22 Juli 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email