Latibet Tablet 5 mg

09 Agu 2020| Lenny Tan
Latibet tablet adalah obat untuk mengobati diabetes melitus tipe 2.

Deskripsi obat

Latibet tablet adalah obat untuk menurunkan kadar gula dalam darah pada pasien diabetes melitus tipe 2. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Latibet tablet mengandung zat aktif glibenklamid.
Latibet Tablet 5 mg
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
HETRp 5.025/strip per Oktober 2019
Kemasan1 box isi 10 strip @ 10 tablet (5 mg)
ProdusenIfars Pharmaceutical Laboratories

Indikasi (manfaat) obat

  • Menurunkan kadar gula darah pada pasien penderita diabetes melitus tipe 2.
  • Membantu mengontrol kadar gula darah yang tinggi sehingga mencegah terjadinya kerusakan ginjal, masalah saraf, gangguan fungsi seksual, dan kehilangan anggota tubuh.
  • Membantu mengurangi risiko terjadinya stroke atau serangan jantung.

Glibenklamid termasuk dalam golongan sulfonilurea yang dapat menurunkan kadar gula darah dan menyebabkan pelepasan insulin alami tubuh.

Komposisi obat

Glibenklamid 5 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Dosis awal: 2,5-5 mg sebanyak 1 kali/hari.
  • Dosis pemeliharaan: 1,25-15 mg sebanyak 1 kali/hari
  • Dosis maksimum: 15 mg sebanyak 1 kali/hari.
  • Dosis awal untuk usia lanjut, penderita gangguan ginjal, hati, dan pasien yang sensitif: 1,25 mg sebanyak 1 kali/hari dan setiap 7 hari ditingkatkan dengan 2,5-5 mg/hari.

Aturan pakai obat

Dikonsumsi pada saat makan pagi atau makan pertama.

Efek samping obat

  • Gangguan saluran pencernaan seperti mual, muntah, dan nyeri perut
  • Sakit kepala.
  • Demam.
  • Reaksi alergi pada kulit.
  • Penurunan kadar gula darah hingga di bawah batas normal (hipoglikemia).
  • Kekurangan darah yang disebabkan hancurnya sel darah merah lebih cepat (anemia hemolitik).
  • Peningkatan berat badan.
  • Kegagalan sumsum tulang membentuk granulosit (agranulositosis).
  • Penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia).
  • Penurunan kadar trombosit dalam darah (trombositopenia).
  • Mual.
  • Muntah.
  • Rasa tidak nyaman pada perut (dispepsia).
  • Penglihatan kabur.
  • Diare.
  • Sensasi rasa panas dan seperti terbakar pada dada akibat naiknya asam lambung menuju kerongkongan (heartburn).
  • Demam.
  • Biduran (urtikaria).

Perhatian Khusus

  • Pasien dengan defisiensi G6PD.
  • Pasien dengan gangguan kelenjar adrenal atau hipofisis.
  • Pasien dengan kondisi yang meningkatkan risiko pengembangan hipoglikemia.
  • Pasien penderita penyakit kardiovaskuler.
  • Pasien yang telah menjalani bypass lambung dan gastrektomi lengan.
  • Pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan hati ringan sampai sedang.
  • Pasien yang lemah dan kurang gizi.
  • Ibu menyusui.
  • Pasien lanjut usia.
  • Anak-anak.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien diabetes melitus tipe 1.
  • Pasien prekoma dan koma diabetes.
  • Pasien gangguan fungsi ginjal berat.
  • Pasien gangguan fungsi hati.
  • Pasien gangguan berat fungsi tiroid atau adrenal.
  • Penderita yang memiliki alergi terhadap glibenklamid.
  • Wanita hamil.
  • Diabetes melitus dengan komplikasi (demam, trauma, luka diabetes).
  • Penderita komplikasi diabetes yang disebabkan karena tingginya produksi asam darah tubuh (diabetes ketoasidosis).

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Azapropazon, kloramfenikol, siprofloksasin, kotrimoksazol, sulfonamid, tetrasiklin, antikoagulan, disopiramid, TCA, penghambat monoamin oksidas (MAO), allopurinol, sulfinpirazon, steroid testosteron, steroid inhibitor, dan ACE steroid.
    Obat di atas dapat meningkatkan efek hipoglikemia atau penurunan kadar gula dalam darah.
  • Beta bloker.
    Meningkatkan efek hipoglikemik dan menutupi gejala hipoglikemia.
  • Rifampisin, barbiturat, diazoksida, klorpromazin, loop dan diuretik tiazid, estrogen, progesteron, kontrasepsi oral, kortikosteroid, dan hormon tiroid.
    Obat di atas dapat mengurangi efek hipoglikemik.
  • Mikonazol dan flukonazol.
    Meningkatkan konsentrasi plasma.
  • Klofibrat.
    Klofibrat dapat memberikan efek tambahan pada glibenklamid.
  • Siklosporin.
    Glibenklamid dapat meningkatkan kadar siklosporin dalam plasma.
  • Warfarin.
    Glibenklamid dapat mengubah efek antikoagulan warfarin.
  • Kolesevalam.
    Glibenklamid dapat mengurangi konsentrasi dan paparan plasma dengan kolesevalam.
  • Bosentan.
    Peningkatan risiko kerusakan hati (hepatotoksisitas).

Sesuai kemasan per Oktober 2019

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/glibenclamide
Diakses pada 30 Juli 2020

Mayoclinic. https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/glyburide-oral-route/description/drg-20072094
Diakses pada 30 Juli 2020

Patient. https://patient.info/medicine/glibenclamide-for-diabetes
Diakses pada 30 Juli 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-3917/glyburide-oral/details
Diakses pada 30 Juli 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email