Lameson 8 tablet 8 mg adalah obat golongan kortikosteroid digunakan untuk menekan sistem kekebalan tubuh dan mengurangi peradangan.
Lameson 8 tablet 8 mg adalah obat golongan kortikosteroid digunakan untuk menekan sistem kekebalan tubuh dan mengurangi peradangan.
Lameson 8 tablet 8 mg adalah obat golongan kortikosteroid digunakan untuk menekan sistem kekebalan tubuh dan mengurangi peradangan.
Lameson 8 tablet 8 mg adalah obat golongan kortikosteroid digunakan untuk menekan sistem kekebalan tubuh dan mengurangi peradangan.
Golongan obat Merah Obat keras: diharuskan menggunakan resep dokter.
HET Rp 75.625/strip (10 tablet) per Desember 2019
Kemasan 1 box isi 10 strip @ 10 tablet
Produsen Lapi Laboratories

Lameson 8 adalah obat golongan kortikosteroid digunakan untuk menekan sistem kekebalan tubuh dan mengurangi peradangan. Obat ini merupakan obat keras yang membutuhkan resep dokter. Lameson 4 mengandung methylprednisolone sebagai zat aktifnya.

  • Diindikasikan untuk:
    • Penyakit kolagen:
      • Penyakit yang terkait dengan kekebalan tubuh manusia (lupus eritematosus sistemik).
      • Peradangan, yang merupakan komplikasi dari radang tenggorokan akibat infeksi bakteri Streptococcus. (karditis reumatik akut).
      • Peradangan dan pelemahan pada otot (polimiositis).
    • Penyakit alergi dan autoimun:
      • Radang pada hidung yang terjadi ketika sistem imun bereaksi lebih terhadap alergen di udara (rinitis alergi),
      • Peradangan berupa ruam gatal kemerahan pada kulit yang muncul akibat kontak langsung dengan zat tertentu (dermatitis kontak).
      • Penyakit kulit kronis yang membuat kulit meradang, gatal, kering, dan pecah-pecah (dermatitis atopik).
      • Asma umum yang disebabkan oleh peradangan dalam saluran udara (asma bronkial).
    • Kelainan kulit tertentu:
      • Kondisi ruam gatal yang berkaitan dengan gluten-sensitive enteropathy (dermatitis herpetiformis).
      • Kelainan serius pada kulit, serta lapisan bola mata, dalam mulut, dubur, dan alat kelamin (sindroma steven-johnson).
      • Kondisi kulit yang kemerahan dan mengelupas pada area tubuh yang luas (dermatitis eksfoliatif).
      • Peradangan pada kulit yang ditandai dengan ruam merah, kulit kering, tebal, bersisik, dan mudah terkelupas (psoriasis).
    • Radang mata akut dan kronis:
      • Reaksi sistem kekebalan tubuh pada permukaan mata (konjungtivitas alergi), peradangan yang terjadi pada kornea mata (keratitis).
      • Gangguan penglihatan akibat peradangan pada saraf mata (neuritis optik).
      • Iritis.
    • Penyakit keganasan:
      • Kanker darah yang berawal dalam sumsum tulang belakang (leukimia).
      • kanker darah yang terjadi ketika limfosit B atau T, yaitu sel darah putih yang menjaga daya tahan tubuh, menjadi abnormal dengan membelah lebih cepat dari sel biasa atau hidup lebih lama dari biasanya (limfoma) pada orang dewasa.
      • leukimia akut pada anak.
      • Peradangan kronis yang terjadi pada usus besar dan rektum (kolitis ulseratif) dan (penyakit crohn) enteritis regional.
      • Pembengkakan pada anggota tubuh yang terjadi karena penimbunan cairan di dalam jaringan (edema): Menginduksi diuresis atau remisi proteinuria pada syndrome nefrotik.
    • Kelainan endokrin tertentu: Insufisiensi korteks adrenal.
    • Kelainan hematologik:
      • Penyakit autoimun yang menyerang keping darah sehingga jumlah sel darah merah berkurang (trombositopenia purpura) pada orang dewasa.
      • Kelainan sel darah merah dan kelainan sistem kekebalan tubuh yang langka (anemia hemolitik autoimun).
      • Eristoblastopenia.
      • Penyakit reumatik artritis.
      • Radang sendi pada punggung yang membuat bagian punggung belakang terasa nyeri dan kaku (ankylosing spondilitas).
      • Radang pada pelumas dan bantalan di sekitar sendi yang berfungsi mengurangi gesekan antara tulang dan tendon saat bergerak (bursitis).
      • Pembengkakan pada sendi akibat kadar asam urat berlebih dalam tubuh (artritis gout akut).
      • Sendi terasa nyeri akibat inflamasi ringan yang timbul karena gesekan ujung-ujung tulang penyusun sendi (osteoartritis) pasca trauma.

Methylprednisolone 8 mg.

4-48 mg/hari tergantung jenis dan bertanya penyakit.

Dikonsumsi sesuai petunjuk dokter.

  • Gangguan pada cairan dan elektrolit:
    • Retensi natrium, retensi cairan.
    • Gagal jantung kongestif.
    • Kehilangan kalium pada pasien yang rentan.
    • Tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Jaringan otot: Lemah otot, osteoporosis, keretakan tulang belakang, keretakan patologi.
  • Saluran pencernaan:
    • Pankreatitis.
    • Ulserasi esofagitis.
    • Perforasi pada perut.
    • Pendarahan gastrik.
    • Kembung perut.
    • Peningkatan alanin transaminase.
  • Dermatologi: mengganggu penyembuhan luka, menipiskan kulit yang rentan, eritema pada wajah, banyak keringat.
  • Metabolisme: keseimbangan nitrogen yang negatif sehubungan dengan katabolisme protein.
  • Neurologi: peningkatan tekanan intracranial, perubahan fisik, pseudotumor cerebri, epilepsi.
  • Endokrin:
    • Menstruasi yang tidak teratur.
    • Penurunan toleransi karbohidrat.
    • Timbulnya gejala diabetes melitus laten.
    • Peningkatan kebutuhan insulin.
    • Menghambat pertumbuhan anak.
  • Mata: Katarak, peningkatan tekanan intrakranial.
  • Sistem imun: penutupan infeksi, infeksi laten menjadi aktif, infeksi oportunistik, reaksi hipersensitif termasuk anafilaksis, dapat menekan reaksi pada lesi kulit.
  • Tuberkulosis.
  • Infeksi jamur sistemik.
  • Cacar air (varisela).
  • Keratitis herpse simplex.
  • Tukak peptik.
  • Sindroma cushing.
  • Psikosis akut.
  • Pasien yang baru divaksinasi.
  • Infeksi jamur.
  • Penderita yang hipersensitif terhadap komponen obat.
  • Wanita hamil.
  • Penderita yang sedang mendapat terapi methylprednisolone hendaknya jangan diberi vaksinasi.
  • Pemberian methylprednisolone jangka lama menimbulkan katarak subkapsuler, glaucoma, dan aktivasi infeksi virus atau jamur pada mata.
  • Pemberian methylprednisolone dosis tinggi dapat menyebabkan penurunan tekanan darah, retensi garam dan air, peningkatan ekskresi potassium dan kalium, serta menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi jamur, bakteri dan virus.
  • Pasien yang mendapat terapi methylprednisolone jangan diberikan vaksinasi cacar.
  • Pemberian obat pada pasien tuberculosa laten atau reaktivitas tuberculin, harus disertai observasi lanjutan
  • Glikosida jantung.
  • Diuretik.
  • Antikoagulan.
  • Rifampisin.
  • Fenitoin.
  • Barbitural.
  • Golongan NSAID.
  • Cylesporine.
  • Obat yang menginduksi enzim hepatic.
  • Trolendomycin.
  • Ketoconazole.
  • Kortikosteroid.

Sesuai kemasan per Desember 2019

Artikel Terkait