Lactulose (Alias: Laktulosa)

Terakhir ditinjau oleh dr. Virly Isella pada 07 Feb 2019
Lactulose bekerja dengan memicu pergerakan usus.
Konstipasi (kesulitan buang air besar) dapat diobati dengan Lactulose.

Merk dagang yang beredar:

Constipen, Constuloz, Duphalac, Dulcolactol, Graphalac, Lactofid, Lactulax, Lactulose, Lacons, Opilax, Pralax

Lactulose merupakan obat yang digunakan untuk mengobati konstipasi (kesulitan buang air besar), obat ini bekerja dengan memicu pergerakan usus. Obat ini juga digunakan untuk mengobati beberapa kondisi klinis tertentu dengan cara mengurangi jumlah amonia dalam darah. 

Lactulose (Laktulosa)
Golongan

Obat pencahar (laksatif)

Kategori Obat

Obat Resep

Bentuk Obat

Sirup

Dikonsumsi oleh

Dewasa

Kategori Kehamilan dan Menyusui

Kategori B: Penelitian pada sistem reproduksi hewan percobaan tidak menunjukkan adanya risiko pada janin, namun tidak ada penelitian terkontrol yang telah dilakukan pada wanita hamil.

Keamanan penggunaan laktulosa selama kehamilan masih belum diketahui. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum mengonsumsinya.

Dosis

Dosis setiap orang pasti berbeda-beda. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat.

Oral
Konstipasi (kesulitan buang air besar)

  • Anak: 1,5–3 ml/kgBB/hari, dapat dibagi menjadi dua dosis. Dosis maksimal: 60 ml/hari
  • Dewasa: dosis awal: 15–30 ml (10–20 g)/hari sebagai dosis tunggal atau dalam 2 dosis terbagi, dapat ditingkatkan hingga 45 mL atau 40 gr/hari disesuaikan dengan respons. Dosis maksimal: 60 ml/hari

Ensefalopati Hepatik

  • Bayi: 2,5–10 ml/hari dibagi dalam 3–4 dosis.
  • Anak dan remaja: 40–90 ml/hari dibagi dalam 3–4 dosis.
  • Dewasa: 90-150 ml (60–100 gr)/hari dibagi dalam 3 dosis, disesuaikan sesuai kebutuhan untuk menghasilkan 2-3 kali tinja lunak/hari.

Aturan pakai Lactulose dengan benar

Baca petunjuk dan ikuti anjuran dokter Anda. Obat ini dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makan atau sesuai yang disarankan oleh dokter. Biasanya dikonsumsi satu kali sehari untuk sembelit.

Untuk penyakit hati biasanya 3-4 kali sehari atau sesuai yang disarankan oleh dokter. Obat ini dapat dicampurkan dengan susu, jus buah. Dosis akan diberikan sesuai kondisi medis Anda. Beri tahu dokter jika kondisi semakin memburuk.

Efek Samping

Setiap pemakaian obat selalu mempunyai efek samping tertentu. Efek samping belum tentu terjadi di setiap pemakaian obat akan tetapi bila terjadi efek samping yang berlebih, harus segera ditangani oleh tenaga medis. Efek samping yang mungkin timbul dari pemakaian laktulosa antara lain:

  • Rasa tidak nyaman pada perut (buang angin, kram).
  • Diare.
  • Mual dan muntah.
  • Kram otot.
  • Detak jantung tidak teratur.
  • Kejang.

Ada beberapa efek samping lain yang belum terdaftar. Jika Anda mempunyai efek samping lain diluar daftar di atas, konsultasikan segera ke dokter Anda.

Peringatan

Konsultasi dengan dokter terlebih dahulu atau jika Anda memiliki kondisi medis seperti:

  • Diabetes.
  • Kehamilan dan menyusui.
  • Hindari penggunaan laktulosa lain secara bersamaan.
  • Pasien dengan intoleransi laktosa.

Jangan mengonsumsi obat ini jika mempunyai kondisi medis seperti:

  • Galaktosemia.
  • Pasien dengan diet glukosa rendah.
  • Penyumbatan saluran cerna.
  • Perforasi saluran cerna atau adanya risiko perforasi saluran pencernaan.

Informasi lebih lengkap bisa dilihat melalui kemasan.

Interaksi

Interaksi obat mungkin terjadi bila beberapa obat dikonsumsi secara bersamaan. Jika ingin mengonsumsi obat secara bersamaan, konsultasikan ke dokter Anda terlebih dahulu, bila perlu dokter akan mengubah dosis obat atau mengganti obat dengan alternatif obat lainnya.

Mengonsumsi lactulose dengan obat lain secara bersamaan dapat menyebabkan beberapa interaksi seperti:

  • Mengurangi efek lactulose bila digunakan bersamaan dengan antasida, dan neomisin.

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis langsung dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus dengan resep dokter. Ketersediaan obat tergantung pada indikasi yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Referensi

Drugs. https://www.drugs.com/cdi/kanamycin.html
diakses pada 19 November 2018.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/kanamycin-injection-route/precautions/drg-20074528
diakses pada 19 November 2018.

MIMS. http://mims.com/indonesia/drug/info/kanamycin/?type=brief&mtype=generic 
diakses pada 19 November 2018.

Artikel Terkait:
Back to Top