Untuk mengobati dan mencegah infeksi tuberkulosis, penderita dapat mengkonsumsi Isoniazid
Tuberkulosis dapat menular ke orang lain melalui udara ketika penderita bersin atau batuk

Beniazide, Decadoxin, Erabutol Plus, INH Ciba, Niaxid,Pulna, Pyravit, Restibi Z, Rifastar, Rifazid, Rimactazid, Selenemo, Suprazid, Suprazid Forte, Tibiq

Isoniazid merupakan obat yang digunakan untuk mengobati penyakit tuberkulosis serta mencegah berulangnya infeksi TB. Obat ini bekerja dengan menghentikan pertumbuhan bakteri tuberkulosis.

Isoniazid (Isoniasid)
Golongan

Antituberkulosis

Kategori obat

Obat resep

Bentuk sediaan obat

Tablet dan sirup

Dikonsumsi oleh

Dewasa dan anak

Kategori kehamilan dan menyusui

Kategori C: Penelitian pada hewan percobaan menunjukkan efek buruk terhadap janin dan tidak ditemukan studi yang memadai pada manusia. Namun, mengingat efektivitasnya, penggunaannya dapat dipertimbangkan pada wanita hamil sekalipun berisiko.

Isoniazid dapat digunakan selama periode menyusui. Karena rendahnya kadar isoniazid pada ASI, maka kecil kemungkinan munculnya efek samping pada bayi, namun tetap perlu dipantau munculnya kuning pada bayi. Pada ibu yang menyusui dan bayi yang mendapatkan ASI dari ibu yang mengonsumsi isoniazid disarankan untuk mengonsumsi piridoksin.

Konsultasikan pada dokter Anda sebelum menggunakan obat ini.

Dosis obat

Dosis setiap orang pasti berbeda-beda. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat.

Oral atau Injeksi intramuskular
Tuberkulosis

  • Dewasa: 5 mg/kgBB hingga 300 mg/hari sebagai dosis tunggal, atau 15 mg/kgBB hingga 900 mg/hari, 2 atau 3 kali seminggu.
  • Anak: 10–15 mg/kgBB hingga 300 mg/hari sebagai dosis tunggal atau 20–40 mg/kgBB hingga 900 mg/hari, 2 atau 3 kali seminggu.

Baca petunjuk penggunaan obat dan ikuti anjuran dokter Anda. Pemberian obat ini dapat dilakukan satu jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan. Agar tuberkulosis dapat sembuh dengan sempurna, konsumsilah obat ini sampai dengan waktu yang ditentukan meskipun Anda sudah merasa baikan setelah mengonsumsi obat ini selama beberapa minggu. Obat ini dapat dikonsumsi selama 6 bulan sampai dengan 2 tahun.

Setiap pemakaian obat selalu mempunyai efek samping tertentu. Efek samping belum tentu terjadi di setiap pemakaian obat akan tetapi bila terjadi efek samping yang berlebih, harus segera ditangani oleh tenaga medis.

Efek samping yang sering muncul dari penggunaan isoniazid adalah penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri perut, dan kelemahan. Beberapa efek samping yang lebih jarang muncul antara lain :

  • Pusing
  • Bicara pelo
  • Reaksi psikotik
  • Kerusakan hepar
  • Mudah memar
  • Kejang
  • Gangguan penglihatan
  • Vertigo
  • Mati rasa
  • Kesemutan tangan
  • Nyeri
  • Bengkak sendi
  • Meningkatkan rasa haus
  • Reaksi alergi ringan sampai berat

Ada beberapa efek samping lain yang belum terdaftar. Jika Anda mempunyai efek samping lain diluar daftar di atas, konsultasikan segera ke dokter Anda.

Konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu bila Anda memiliki kondisi medis seperti:

  • Gangguan kejang.
  • Riwayat psikosis.
  • Pasien dengan risiko neuropati (diabetes, peminum alkohol, malnutrisi, pasien yang terinfeksi HIV, dan pasien dengan kadar ureum tinggi) atau pasien dengan defisiensi piridoksin.
  • Gangguan hati dan gangguan ginjal berat.
  • Kehamilan dan menyusui.

Jangan mengonsumsi obat ini jika Anda mempunyai kondisi medis seperti:

  • Hipersensitivitas.
  • Pasien dengan penyakit hati akut atau riwayat kerusakan hati terkait isoniazid.

Informasi lebih lengkap bisa dilihat melalui kemasan.

Interaksi obat mungkin terjadi bila beberapa obat dikonsumsi secara bersamaan. Jika ingin mengonsumsi obat secara bersamaan, konsultasikan ke dokter Anda terlebih dahulu, bila perlu dokter akan mengubah dosis obat atau mengganti obat dengan alternatif obat lainnya. Interaksi yang dapat terjadi antara lain:

  • Menghambat metabolisme obat anti epilepsi (carbamazepine, ethosuximide, primidone, fenitoin), benzodiazepine (diazepam, triazolam), teofilin, disulfiram yang terjadi di hepar. Hal ini kadang menyebabkan peningkatan risiko toksisitas di hati.
  • Peningkatan konsentrasi dan meningkatkan efek atau toksisitas warfarin.
  • Mengurangi penyerapan isoniazid bila dikonsumsi bersamaan dengan antasida yang mengandung aluminium.
  • Peningkatan risiko neuropati perifer bila dikonsumsi bersamaan dengan stavudine dan zalcitabine.
  • Hindari makanan yang mengandung tiramin (keju), dan yang mengandung histamin (tuna) karena memperberat reaksi (sakit kepala, keringat, berdebar-debar, tekanan darah rendah).
  • Alkohol dapat menurunkan efikasi isoniazid dan dapat menyebabkan risiko neuropati perifer dan kerusakan hati.

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis langsung dengan dokter, atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus dengan resep dokter. Ketersediaan obat tergantung pada indikasi yang disetujui  Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

American Academy of Pediatrics. The Transfer of Drugs and Other Chemicals Into Human Milk. 2001

BPOM. http://pionas.pom.go.id/monografi/isoniazid
Diakses pada 21 November 2018.

Hughes H. Kahl LK. The Harriet Lane Handbook 21st ed. Elsevier. 2018.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/isoniazid-oral-route-intramuscular-route/description/drg-20064419
Diakses pada 21 November 2018.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/isoniazid/?type=brief&mtype=generic
Diakses pada 21 November 2018.

NIH. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK501336/
Diakses pada 21 November 2018.

Web MD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-8665/isoniazid-oral/details
Diakses pada 21 November 2018.

Artikel Terkait