Interflox Kaplet 500 mg

17 Jul 2020| Arif Putra

Deskripsi obat

Interflox kaplet adalah obat untuk mengatasi berbagai infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Obat ini termasuk dalam golongan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Interflox kaplet mengandung zat aktif siprofloksasin.
Siprofloksasin adalah antibiotik golongan fluorokuinolon yang mampu melawan bakteri dalam tubuh, obat ini dapat digunakan untuk mengatasi berbagai infeksi bakteri seperti infeksi kulit, infeksi tulang dan sendi, infeksi saluran pernapasan, infeksi sakuran kemih, dan kencing nanah. Obat ini bekerja dengan menghambat pertumbuhan bakteri dan membunuh bakteri tersebut.

Interflox Kaplet 500 mg
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
Kemasan1 box isi 3 strip @ 4 kaplet (500 mg)
ProdusenInterbat

Indikasi (manfaat) obat

Mengobati:

  • Infeksi saluran kemih.
  • Infeksi saluran pencernaan.
  • Infeksi saluran pernapasan.
  • Infeksi pada perut.
  • Infeksi pada tulang dan sendi.
  • Infeksi yang disebabkan oleh bakteri Gram negatif seperti (Escherichia coli, Haemophilus influenzae, Klebsiella pneumoniae, Legionella pneumophila, Moraxella catarrhalis, Proteus mirabilis, dan Pseudomonas aeruginosa), dan Gram positif (Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus epidermidis, Enterococcus faecalis, dan Streptococcus pyogenes).
  • Infeksi pada kulit dan jaringan lunak.
  • Kencing nanah (gonore).

Komposisi obat

 

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Dewasa:
    • Infeksi saluran pernapasan, infeksi kulit, dan jaringan lunak: 500-750 mg, dalam dua dosis terbagi. Dikonsumsi selama 7-14 hari.
    • Otitis eksterna: 750 mg/hari, dikonsumsi selama 28 hari-3 bulan.
    • Prostatitis: 500-750 mg/hari, pada kondisi akut dikonsumsi selama 2-4 minggu dan pada kondisi kronis dikonsumsi selama 4-6 minggu.
    • Demam tifoid: 500 mg/hari, dikonsumsi selama 7 hari.
    • Servisitis dan uretritis gonococcal: 500 mg/hari dikonsumsi dalam dosis tunggal.
    • Radang panggul: 500-750 mg dikonsumsi dalam dua dosis terbagi. Dikonsumsi selama 14 hari.
    • Infeksi tulang dan sendi: 500-750 mg dikonsumsi dalam 2 dosis terbagi. Dikonsumsi selama 3 bulan.
    • Perawatan dan anthrax: 500 mg/hari dalam dua dosis terbagi. Dikonsumsi selama 60 hari.
    • Infeksi saluran kemih tidak terkomplikasi: 250-500 mg/hari, dikonsumsi selama 3 hari.
    • Infeksi yang disebabkan bakteri usus: 500-750 mg, dikonsumsi dalam dua dosis terbagi. Dikonsumsi selama 5-14 hari.

  • Anak-anak:
    • Perawatan dan anthrax: 10-15 mg/kg BB, dikonsumsi dalam dua dosis terbagi. Dikonsumsi selama 60 hari.
    • Dosis maksimal: 500 mg/hari.

Aturan pakai obat

Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan. Dapat dikonsumsi dengan makanan untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan.

Efek samping obat

  • Gangguan yang terjadi akibat kerusakan pada sistem saraf perifer atau sistem saraf tepi (neuropati perifer).
  • Dapat menimbulkan efek pada sistem saraf pusat seperti kejang dan peningkatan tekanan intrakranial.
  • Dapat memperpanjang interval QT.
  • Dapat menyebabkan reaksi psikiatris seperti depresi, psikosis, dan ingin bunuh diri.
  • Dapat menyebabkan reaksi sensitif terhadap cahaya (fotosensitivitas).
  • Dapat menyebabkan terjadinya peningkatan kadar gula dalam darah (hiperglikemia).
  • Dapat menyebabkan penyakit kuning.
  • Infeksi pada bagian tengah telinga (otitis media).
  • Mual.
  • Muntah.
  • Diare.
  • Sakit perut.
  • Gangguan pada pencernaan.
  • Demam.
  • Nyeri otot.
  • Nyeri sendi.
  • Ruam pada kulit.
  • Dapat menyebabkan terjadinya superinfeksi.

Perhatian Khusus

  • Pasien yang memiliki riwayat atau risiko mengalami perpanjangan QT.
  • Pasien yang memiliki ambang kejang yang lebih rendah.
  • Pasien penderita penyakit jantung.
  • Pasien penderita tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Pasien penderita kencing manis (diabetes melitus).
  • Pasien penderita peradangan pada sendi atau rheumatoid arthritis.
  • Pasien penderita gangguan ginjal dan hati.
  • Pasien yang mengalami kekurangan G6PD.
  • Pasien yang mengalami infeksi virus.
  • Dapat mengganggu kemmapuan mengemudi atau menjalankan mesin.
  • Pasien lanjut usia.
  • Anak-anak.
  • Kategori kehamilan dan menyusui:
    Kategori C. Penelitian pada hewan percobaan menunjukkan efek buruk terhadap janin dan tidak ditemukan studi yang memadai pada manusia. Namun, mengingat efektivitasnya, penggunaannya dapat dipertimbangkan pada wanita hamil sekalipun berisiko.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini.
  • Pasien dengan riwayat melemahnya otot tubuh akibat gangguan pada saraf dan otot (myastenia gravis).
  • Pasien penderita epilepsi atau pasien dengan gangguan kejang.
  • Jangan dikonsumsi bersama dengan tizanidin.
  • Pasien yang memiliki riwayat tendon pecah.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Jika dikonsumsi bersama dengan antasida seperti aluminium hidroksida dan magnesium hidroksida, suplemen mengandung zat besi dan zink dapat menyebabkan penurunan penyerapan obat ini.
  • Dapat meningkatkan toksisitas metotreksat.
  • Penggunaan bersama probenesid dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi plasma.
  • Penggunaan bersama susu, produk kalsium, multivitamin, dan suplemen mineral yang mengandung zat besi, zink, dan kalsium dapat menurunkan kadar siprofloksasin dalam tubuh.
  • Penggunaan bersama teofilin, metilsantin, kafein, klozapin, dan tizanidin dapat meningkatkan kadar obat dalam darah dan dapat meningkatkan risiko terjadinya efek samping.
  • Penggunaan bersama obat antiinflamasi non-steroid (NSAID) seperti asam mefenamat dapat menyebabkan terjadinya kejang.
  • Penggunaan bersama glibenklamid dapat meningkatkan efektivitas antidiabetes.
  • Penggunaan bersama tizanidin dapat menyebabkan efek penurunan tekanan darah di bawah batas normal (hipotensi) dan efek sedatif.
  • Penggunaan bersama warfarin dapat meningkatkan efek penghambat pembekuan darah.
  • Penggunaan bersama kuinidin, prokainamid, amiodaron, dan sotalol dapat menyebabkan perpanjangan interval QT.
  • Penggunaan bersama deksametason dapat menyebabkan peningkatan risiko gangguan tendon yang parah.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/ciprofloxacin
Diakses pada 16 Juli 2020

Drugs. https://www.drugs.com/ciprofloxacin.html
Diakses pada 16 Juli 2020

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a688016.html
Diakses pada 16 Juli 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-7748/ciprofloxacin-oral/details
Diakses pada 16 Juli 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Infeksi Lambung Menyerang, Kenali Gejala dan Cara Mengobatinya

Infeksi lambung disebabkan oleh bakteri H. Pylori dan tidak selalu menimbulkan gejala. Terdapat berbagai pengobatan yang dapat Anda tempuh, di antaranya dengan antibiotik dan berbagai jenis obat lainnya.
16 Mar 2020|Asni Harismi
Baca selengkapnya
Infeksi Lambung Menyerang, Kenali Gejala dan Cara Mengobatinya

11 Jenis Penyakit Kulit pada Bayi yang Sering Muncul

Penyakit kulit pada bayi bisa terjadi karena sistem imun bayi belum berkembang dengan sempurna. Penyakit kulit pada bayi dapat muncul berupa eksim hingga cacar.
02 May 2019|Anita Djie
Baca selengkapnya
11 Jenis Penyakit Kulit pada Bayi yang Sering Muncul

Panduan Singkat Cara Mengobati Luka Bakar

Luka bakar bukanlah hal yang bisa disepelekan karena merupakan indikasi dari matinya sel kulit yang terpapar panas. Jika tidak segera ditangani dengan tepat, luka bakar bisa menimbulkan infeksi! Tiap tingkatan luka bakar memiliki penanganan yang berbeda-beda.
19 Jun 2019|Anita Djie
Baca selengkapnya
Panduan Singkat Cara Mengobati Luka Bakar