Hufaxicam Kaplet 7,5 mg

10 Jul 2020| Aby Rachman

Deskripsi obat

Hufaxicam kaplet adalah obat untuk terapi jangka pendek pada pengobatan peradangan sendi. Obat ini termasuk dalam golongan obat keras yang harus menggunakan resep doter. Hufaxicam kaplet mengandung zat aktif meloksikam.
Meloksikam merupakan obat antiinflamasi non-steroid (AINS) yang bekerja dengan mengurangi hormon yang menyebabkan peradangan dan rasa sakit atau nyeri pada tubuh, meloksikam digunakan untuk mengurangi rasa sakit atau peradangan yang disebabkan oleh peradangan pada sendi orang dewasa.

Hufaxicam Kaplet 7,5 mg
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
Kemasan1 box isi 2 strip @ 10 kaplet (7,5 mg)
ProdusenGratia Husada Farma

Indikasi (manfaat) obat

  • Terapi jangka pendek untuk mengatasi gejala nyeri akibat peradangan yang timbul karena gesekan ujung-ujung tulang penyusun sendi (osteoarthritis).
  • Terapi jangka pendek pada nyeri akibat gejala peradangan sendi yang disebabkan karena sistem kekebalan tubuh menyerang jaringannya sendiri (rheumatoid arthritis).

Komposisi obat

Meloksikam 7,5 mg.

 

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Osteoartritis: 7,5 mg sebanyak 1 kali/hari, dosis dapat ditingkatkan hingga 15 mg sebanyak 1 kali/hari.

  • Artritis rematoid: 15 mg sebanyak 1 kali/hari, dosis dapat diturunkan hingga 7,5 mg/hari.

  • Pasien dengan risiko tinggi dan penderita lanjut usia:
    • Dosis awal: 7,5 mg sebanyak 1 kali/hari.

  • Pasien penderita gagal ginjal:
    • Dosis awal: tidak boleh melebihi 7,5 mg sebanyak 1 kali/hari.
    • Dosis maksimal: 15 mg/hari.
    • Pemberian kombinasi:
      • Dosis maksimal: 15 mg/hari.

Aturan pakai obat

Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan.

Efek samping obat

  • Gangguan pada saluran pencernaan:
    • Rasa tidak nyaman pada perut (dispepsia).
    • Kesulitan buang air besar (konstipasi).
    • Diare.
    • Perut kembung.
    • Mual.
    • Muntah.
    • Nyeri perut.
    • Pendarahan pada saluran pencernaan.
    • Peradangan usus (kolitis).
    • Mulut kering.
  • Gangguan pada kulit:
    • Gatal pada sebagian atau seluruh tubuh (pruritus).
    • Ruam pada kulit.
    • Biduran (urtikaria).
    • Peradangan pada mukosa mulut, biasanya berupa bercak putih kekuningan (stomatitis).
    • Reaksi sensitif kulit terhadap cahaya (fotosensitisasi).
  • Gangguan pada darah:
    • Anemia.
    • Penurunan jumlah trombosit dalam darah (trombositopenia).
    • Penurunan jumlah sel darah putih dalam tubuh (leukopenia).
  • Gangguan sistem saraf pusat dan perifer:
    • Sakit kepala.
    • Kondisi yang membuat penderitanya mengalami pusing, sampai merasa dirinya atau sekelilingnya berputar (vertigo).
    • Mengantuk.
    • Telinga berdering (tinnitus).
  • Gangguan pada sistem pernapasn:
    • Asma.
    • Batuk.
  • Gangguan pada saluran kemih dan kelainan ginjal:
    • Infeksi saluran kemih.
    • Peningkatan kadar ureum atau kreatinin.
  • Gangguan pada kardiovaskuler:
    • Pembengkakan pada anggota tubuh yang terjadi karena penimbunan cairan di dalam jaringan (edema).

Perhatian Khusus

  • Pasien yang memiliki riwayat penyakit pendarahan dan luka pada saluran pencernaan, penurunan fungsi ginjal, kegagalan fungsi hati, penyakit hepatik, depresi, tekanan darah tinggi (hipertensi) ataupun asma.
  • Pasien penderita lanjut usia.
  • Pasien yang mengonsumsi obat penghambat pembekuan darah (antikoagulan).
  • Anak-anak.
  • Pasien dengan retensi cairan atau gagal jantung.
  • Kategori kehamilan dan menyusui:
    Kategori C. Penelitian pada binatang percobaan menunjukkan efek samping terhadap janin dan tidak ada penelitian terkontrol pada wanita. Atau, belum ada penelitian pada wanita hamil maupun hewan percobaan. Obat hanya boleh diberikan jika manfaatnya melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin.
  • Kategori pada kehamilan trimester ketiga:
    Kategori D. Obat terbukti menimbulkan risiko terhadap janin manusia. Namun besarnya manfaat jika digunakan pada wanita hamil dapat dipertimbangkan. Misalnya, bila obat dibutuhkan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa atau penyakit serius, di mana obat lain tidak efektif atau tidak bisa diberikan.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien yang memiliki alergi terhadap meloksikam, asetosal atau obat antiinflamasi non steroid lainnya.
  • Pasien penderita penyakit ginjal berat.
  • Anak-anak 15 tahun ke bawah.
  • Pasien penderita luka pada dinding lambung (tukak lambung aktif) selama 6 bulan terakhir atau pasien dengan riwayat tukak lambung.
  • Pasien penderita gangguan fungsi hati berat.
  • Pasien yang mengalami pendarahan pada saluran pencernaan, pendarahan pada serebrovaskular, atau kelainan pendarahan lainnya.
  • Pasien penderita atau memiliki riwayat asma, jaringan yang tumbuh di bagian dalam saluran hidung (polip nasal), dan pembengkakan akibat penumpukan cairan pada beberapa bagian tubuh yang biasanya berada di sekitar mata, pipi, atau bibir (angioedema) atau biduran (urtikaria).

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Penggunaan bersama AINS seperti aspirin, ibuprofen, asam mefenamat, dan naproksen dapat meningkatkan risiko luka dan pendarahan pada saluran pencernaan.
  • Penggunaan bersama obat penghambat pembekuan darah atau obat pengencer darah seperti warfarin, heparin, dan kumarin dapat menyebabkan peningkatan risiko pendarahan.
  • Penggunaan bersama obat penurun tekanan darah tinggi dapat menurunkan efek antihipertensi.
  • Penggunaan bersama kolestiramin dapat mempercepat eliminasi meloksikam.
  • Penggunaan bersama siklosporin dapat meningkatkan kerusakan pada ginjal (nefrotoksik).
  • Dapat meningkatkan lithium dalam plasma.
  • Penggunaan bersama dengan metotreksat dapat meningkatkan toksisitas hematologik.
  • Penggunaan bersama obat untuk memudahkan pengeluaran air seni (diuretik) dapat menyebabkan terjadinya gangguan fungsi ginnjal.
  • Pasien yang mengonsumsi alkohol dapat menyebabkan iritasi pada mukosa lambung.
  • Penggunaan bersama kontrasepsi IUD dapat menyebabkan penurunan efektifitas pada IUD.
  • Penggunaan bersama kortikosteroid dapat menyebabkan peningkatan risiko luka pada dinding lambung.

Sesuai kemasan per Juli 2020

Hufa. https://hufa.co.id/produk/hufaxicam-75-kaplet/
Diakses pada 6 Juli 2020

Drugs. https://www.drugs.com/meloxicam.html
Diakses pada 6 Juli 2020

Medscape. https://reference.medscape.com/drug/mobic-vivlodex-meloxicam-343299#3
Diakses pada 6 Juli 2020

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/meloxicam
Diakses pada 6 Juli 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

6 Obat Herbal untuk Nyeri Sendi yang Paling Ampuh

Obat herbal nyeri sendi ada banyak yang terbukti manjur redakan peradangan. Jika gejala tiba-tiba kambuh di rumah, coba oleskan lidah...Baca selengkapnya
6 Obat Herbal untuk Nyeri Sendi yang Paling Ampuh

Suntik Steroid untuk Nyeri Sendi, Seperti Ini Prosedurnya

Suntik steroid untuk nyeri sendi merupakan prosedur penyuntikan obat kortikosteroid secara langsung ke sendi. Suntikan ini diketahui efektif meredakan nyeri sendi.
30 Apr 2020|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Suntik Steroid untuk Nyeri Sendi, Seperti Ini Prosedurnya

Ketahui Nilai Normal Asam Urat Dalam Darah

Nilai normal asam urat untuk laki-laki adalah di bawah 8.0 mg/dL, sedangkan untuk perempuan 6.1 mg/dL. Asam urat yang tinggi dapat mengakibatkan penyakit sendi.Baca selengkapnya
Ketahui Nilai Normal Asam Urat Dalam Darah