Hiblok Tablet

16 Agu 2020| Ajeng Prahasta

Deskripsi obat

Farnormin tablet adalah obat untuk menurunkan tekanan darah tinggi, mengatasi nyeri dada, dan serangan jantung. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Farnormin tablet

Hiblok Tablet
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
Produk HalalYa
Kandungan utamaAtenolol.
Kelas terapiAntihipertensi.
Klasifikasi obatBeta blocker.
Kemasan1 box isi 5 strip @ 10 tablet (50 mg; 100 mg)
ProdusenNufarindo

Informasi zat aktif

Atenolol atau golongan obat beta blocker bekerja dengan menghalangi aksi bahan kimia alami tertentu dalam tubuh, seperti epinefrin, pada jantung dan pembuluh darah. Efek ini menurunkan detak jantung, tekanan darah, dan tekanan pada jantung.

Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, bromheksin hidroklorida diketahui memiliki status:

  • Absorbsi: Secara cepat dan konsisten namun tidak sepenuhnya diabsorbsi di saluran pencernaan. Waktu untuk mencapai konsentrasi plasma: 2-4 jam.
  • Distribusi: Penetrasi ke jaringan buruk karena kelarutan lemak yang rendah. Terdistribusi melewati plasenta dan ke dalam ASI. Pengikatan protein plasma: 6-16%
  • Metabolisme: Terbatas atau tidak ada metabolisme hati
  • Ekskresi: Melalui urin sebanyak 40% dalam bentuk obat tidak berubah dan melalui feses sebanyak 50%. Waktu paruh eliminasi: Sekitar 6-7 jam.

Indikasi (manfaat) obat

Atenolol termasuk dalam kelas obat yang dikenal sebagai beta blocker. Obat ini bekerja dengan menghalangi aksi bahan kimia alami tertentu dalam tubuh, seperti epinefrin, pada jantung dan pembuluh darah. Efek ini menurunkan detak jantung, tekanan darah, dan tekanan pada jantung, sehingga obat ini mampu mengatasi:

  • Menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Meredakan nyeri dada (angina pektoris)
  • Mengobati serangan jantung.

Komposisi obat

  • Hiblok tablet 50 mg: atenolol 50 mg.
  • Hiblok tablet 100 mg: atenolol 100 mg.

 

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Hipertensi: 50-100 mg/hari.
  • Angina pektoris: 50-100 mg dapat dikonsumsi dalam dosis tunggal atau dalam dosis terbagi.

Aturan pakai obat

Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan.

Efek samping obat

  • Mengantuk, kelelahan, dan pusing.
    Jika atenolol membuat Anda merasa pusing, duduk atau berbaring sampai Anda merasa lebih baik. Jangan mengemudi atau mengoperasikan mesin. Cobalah untuk menghindari alkohol karena akan memperburuk keadaan.
  • Mual.
    Tetaplah makan dalam jumlah secukupnya dan jangan mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak atau pedas. Cobalah untuk mengonsumsi obat atenolol setelah makan.
  • Diare.
    Minum banyak cairan untuk menghindari dehidrasi. Tanda-tanda dehidrasi termasuk urin kurang dari biasanya atau mengeluarkan urin berwarna gelap dan berbau kuat. Jangan minum obat lain untuk mengobati diare tanpa berbicara dengan apoteker atau dokter.
  • Jari tangan atau kaki dingin.
    Letakkan tangan atau kaki di bawah air hangat yang mengalir, pijit, dan goyangkan jari tangan dan kaki. Jangan merokok atau minum dengan kafein karena dapat membuat pembuluh darah Anda lebih sempit dan semakin membatasi aliran darah ke tangan dan kaki Anda. Coba kenakan sarung tanga dan kaus kaki hangat. Jangan memakai jam tangan atau gelang ketat.
  • Kesulitan buang air besar (konstipasi).
    Makan lebih banyak makanan berserat tinggi, seperti buah segar, sayuran, dan sereal, dan minum banyak air. Cobalah berolahraga lebih teratur dengan jalan-jalan harian, misalnya. Jika ini tidak membantu, Segera hubungi dokter Anda.
  • Mual.
  • Pusing.
  • Sakit kepala.
  • Penurunan kadar trombosit dalam darah (trombositopenia).
  • Mata kering.
  • Diare.
  • Mulut kering.
  • Gangguan penglihatan.
  • Kerontokan rambut.
  • Jantung berdenyut lebih lambat dari biasanya yaitu 60 denyut/menit ke bawah (bradikardia).

Perhatian Khusus

  • Pasien dengan kondisi berkurangnya aliran darah ke bagian tubuh tertentu (sindrom Raynaud).
  • Pasien penderita kejang arteri koroner (prinzmetal angina).
  • Pasien penderita lemah otot akibat gangguan saraf dan otot (miastenia gravis).
  • Pasien penderita bercak merah dan kering pada kulit (psoriasis) dan penyakit tiroid.
  • Pasien penderita gangguan ginjal.
  • Pasien penderita bronkospasme atau penyakit saluran napas obstruktif reversibel.
  • Pasien penderita kadar gula darah tinggi (diabetes mellitus).
  • Pasien penderita penyakit pembuluh darah perifer.
  • Lansia.
  • Wanita hamil dan ibu menyusui.

Kategori kehamilan

Kategori D: Hasil penelitian menunjukkan bahwa obat ini menimbulkan risiko pada janin manusia. Penggunaan pada ibu hamil dapat dipertimbangkan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin. Misalnya, bila obat dibutuhkan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa atau penyakit serius, di mana obat lain tidak efektif atau tidak bisa diberika

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien penderita tekanan darah rendah (hipotensi).
  • Pasien penderita penyakit arteri perifer berat.
  • Penyumbatan atrioventricular (atrioventricular block) derajat dua atau tiga.
  • Pasien penderita detak jantung lemah (bradikardia).
  • Pasien penderita syok kardiogenik.
  • Pasien penderita metabolik asidosis.
  • Pasien penderita gagal jantung dekompensasi.
  • Pasien penderita tumor jinak di bagian tengah kelenjar adrenal (feokromositoma).

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Obat penghambat saluran kalsium seperti verapamil dan diltiazem, serta reseprin.
    Penggunaan atenolol dan obat di atas dapat menyebabkan efek aditif dengan penghambatan saluran kalsium/.
  • Glikosida digitalis.
    Penggunaan glikosida digitalis dengan atenolol dapat meningkatkan waktu konduksi atrioventrikular.
  • Obat antiaritmia kelas 1 seperti disopiramid dan amiodaron.
    Penggunaan bersama atenolol dapat mempotensiasis efek pada waktu konduksi atrium dan menginduksi efek inotropik negatif.
  • Insulin dan obat antidiabetes oral.
    Penggunaan atenolol dapat meningkatkan efek penurunan kadar gula darah (hipoglikemia) jika dikonsumsi dengan insulin dan obat antidiabetes oral.
  • Obat antiinflamasi non-steroid seperti ibuprofen dan indometasin.
    Penggunaan obat di atas dapat mengurangi efektivitas atenolol dalam menurunkan tekanan darah.
  • Obat bius (anestesi).
    Penggunaan atenolol bersama anestesi dapat meningkatkan risiko penurunan tekanan darah dan dapat melemahkan refleks denyut jantung melebihi 100 kali/menit (takikardia).

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, maka dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutnya konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa untuk mengonsumsi obat, cobalah untuk menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau meminta bantuan orang lain untuk membantu mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

  • Mengalami napas pendek dengan batuk yang bertambah parah saat berolahraga atau menaiki tangga, kaki yang membengkak, nyeri dada atau detak jantung yang tidak teratur.

Jika mengalami hal tersebut dapat menjadi salah satu tanda masalah jantung. Segera hentikan penggunaan obat ini dan segera konsultasikan ke profesional kesehatan Anda.

  • Mengalami kesulitan bernapas, keringat dingin, dan nyeri yang nyeri dada yang bertambah parah jika batuk atau menarik napas.

Jika mengalami hal tersebut dapat menjadi salah satu tanda masalah paru-paru. Segera hentikan penggunaan obat ini dan segera konsultasikan ke profesional kesehatan Anda.

  • Mengalami detak jantung yang cepat, temperatur tubuh yang tinggi, gemetar, dan kebingungan.

Jika mengalami hal tersebut dapat menjadi salah satu tanda masalah tiroid. Segera hentikan penggunaan obat ini dan segera konsultasikan ke profesional kesehatan Anda.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/atenolol
Diakses pada 28 Juli 2020

Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/atenolol/
Diakses pada 28 Juli 2020

Drugs. https://www.drugs.com/atenolol.html#:~:text=Atenolol%20(Tenormin)%20is%20a%20beta,death%20after%20a%20heart%20attack.
Diakses pada 28 Juli 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Simak 5 Cara Mencegah Stroke

Saat aliran darah ke otak tersendat dan sel otak lumpuh, terjadilah stroke. Antisipasi serangan jantung dan stroke dengan pola hidup yang lebih sehat, seperti rutin berolahraga hingga menghindari kebiasaan merokok agar dapat menurunkan angka risiko terkena stroke.
11 Jul 2019|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
Simak 5 Cara Mencegah Stroke

Obat-obatan ACE Inhibitor untuk Hipertensi, Cermati Peringatan dan Efek Sampingnya

ACE inhibitor adalah kelas obat antihipertensi untuk mengatasi tekanan darah tinggi. ACE inhibitor umumnya dapat ditoleransi dengan baik oleh banyak pasien, walau risiko efek samping dan peringatan lain tetap perlu dicermati.
14 Aug 2020|Arif Putra
Baca selengkapnya
Obat-obatan ACE Inhibitor untuk Hipertensi, Cermati Peringatan dan Efek Sampingnya

Kolesterol Normal yang Perlu Dijaga Demi Kesehatan Masa Depan

Kolesterol normal untuk orang dewasa, kadarnya adalah 60 mg/dl untuk kolesterol HDL dan 100 mg/dl untuk kolesterol LDL. Menjaganya tetap pada angka tersebut sangatlah penting.
05 Jun 2019|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
Kolesterol Normal yang Perlu Dijaga Demi Kesehatan Masa Depan