Glivec Tablet

22 Agu 2020| Ajeng Prahasta

Deskripsi obat

Glivec tablet adalah obat untuk terapi penyakit kanker darah karena banyaknya produksi sel darah putih yang tidak normal (leukimia). Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Glivec tablet mengandung zat aktif imatinib mesilat.
Glivec Tablet
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
HET0
Kemasan1 box isi 6 strip @ 10 tablet (100 mg); 1 box isi 1 strip @ 10 tablet (400 mg)
ProdusenNovartis Indonesia.

Indikasi (manfaat) obat

  • Mengobati beberapa jenis kanker darah karena banyaknya produksi sel darah putih yang tidak normal (leukimia) dan kanker serta kelainan sel darah lainnya.
  • Mengobati jenis tumor yang tumbuh di dinding saluran pencernaan dan dapat menyebar ke bagian lain dari tubuh (stroma gastrointestinal).
  • Mengobati tumor yang terbentuk di bawah lapisan atas kulit (dermatofibrosarcoma protuberans).

Imatinib termasuk dalam kelas obat yang disebut inhibitor kinase. Obat ini bekerja dengan menghalangi aksi protein abnormal yang memberi sinyal pada sel kanker untuk berkembang biak. Imatinib dapat membantu menghentikan penyebaran sel kanker.

Komposisi obat

  • Glivec tablet 100 mg: imatinib mesilat 100 mg.
  • Glivec tablet 400 mg: imatinib mesilat 400 mg.

 

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa:

  • Mastositosis sistemik agresif:
    • Pada pasien tanpa mutasi D816V c-KIT atau dengan status mutasi c-Kit tidak diketahui: 400 mg/hari.
    • Pada pasien dengan eosinofilia: 100 mg/hari, dosis dapat tingkatkan menjadi 400 mg sesuai respon.
    • Fase akselerasi leukemia mielogenous kronik positif kromosom Philadelphia, fase ledakan leukemia mielogenous kronik positif kromosom Philadelphia: 600 mg setiap hari. Dosis daapat ditingkatkan hingga 400 mg pada pasien dengan perkembangan penyakit, respons hematologis yang tidak memuaskan setidaknya 3 bulan pengobatan, gagal mencapai respons sitogenik setelah 12 bulan pengobatan atau kehilangan respons hematologis atau sitogenik yang dicapai sebelumnya.
    • Fase kronis leukemia myelogenous kronis kromosom Philadelphia positif: 400 mg setiap hari. Tingkatkan menjadi 600 mg setiap hari atau 400 mg dua kali lipat pada pasien dengan perkembangan penyakit, respons hematologis yang tidak memuaskan setidaknya 3 bulan pengobatan, gagal mencapai respons sitogenik setelah 12 bulan pengobatan atau kehilangan respons hematologis atau sitogenik yang dicapai sebelumnya.
  • Leukemia eosinofilik kronis, sindrom hipereosinofilik idiopatik:
    • Pada pasien dengan pengaturan ulang FIP1L1-PDGFRα: 100 mg setiap hari, tingkatkan menjadi 400 mg setiap hari sesuai dengan respons.
  • Leukemia limfoblastik akut positif kromosom Philadelphia: sebagai terapi tunggal pada kasus relaps atau refrakter, atau kombinasi dengan kemoterapi untuk kasus yang baru didiagnosis: 600 mg setiap hari. Dilanjutkan sampai perkembangan penyakit atau toksisitas yang tidak dapat diterima.
  • Penyakit myelodysplastic/myeloproliferative:
    • Pada pasien dengan penataan ulang gen reseptor faktor pertumbuhan turunan platelet (PDGFR): 400 mg sekali sehari, dilanjutkan sampai perkembangan penyakit atau toksisitas yang tidak dapat diterima.
  • Tumor stroma gastrointestinal:
    • Pada pasien dengan Kit (CD117) -positif tidak dapat dioperasi, kasus metastasis ganas: 400 mg sekali sehari, naikkan menjadi 400 mg dua kali lipat jika dapat ditoleransi. Sebagai terapi adjuvan setelah reseksi lengkap: 400 mg setiap hari.
  • Dermatofibrosarcoma protuberans: pada pasien dengan kasus yang tidak dapat dioperasi, berulang, dan atau metastasis tidak memenuhi syarat untuk operasi: 400 mg dua kali lipat.


Anak-anak:

  • Fase kronis leukemia myelogenous kronis kromosom Philadelphia positif:
    • 2 tahun fase kronis atau lanjutan: 340 mg/m2 setiap hari.
    • Dosis maksimal: 800 mg. Dapat diberikan sekali sehari atau dibagi menjadi dosis pagi dan sore hari. Dapat ditingkatkan menjadi 570 mg/m2 setiap hari pada anak-anak dengan perkembangan penyakit, respon hematologis yang tidak memuaskan setidaknya 3 bulan pengobatan, gagal mencapai respon sitogenik setelah 12 bulan pengobatan atau kehilangan respon hematologis atau sitogenik yang dicapai sebelumnya.
  • Leukemia limfoblastik akut positif kromosom Philadelphia:
    • Dalam kombinasi dengan kemoterapi untuk kasus yang baru didiagnosis: 340 mg/m2 setiap hari.
    • Dosis maksimal: 600 mg.

Aturan pakai obat

Sebaiknya dikonsumsi dengan makanan.

Efek samping obat

  • Sakit kepala.
    Konsumsi banyak air dan minta rekomendasi obat penghilang rasa sakit yang sesuai kepada apoteker. Jika sakit kepala masih berlanjut atau semakin memburuk, segera hubungi dokter Anda.
  • Merasa lelah dan pusing.
    Jika merasa kelelahan dan pusing hindari mengemudi kendaraan atau menjalankan mesin, tunggu hingga kondisi membaik.
  • Merasa sakit seperti mual, muntah, gangguan pencernaan, perut tidak nyaman, dan kurangnya nafsu makan.
    Konsumsi makanan yang sederhana. Hubungi dokter untuk memberitahu efek samping ini, minta rekomendasi obat untuk meredakan efek samping yang terjadi.
  • Diare atau kesulitan buang air besar (konstipasi).
    Konsumsi air yang cukup.
  • Sariawan.
    Menyikat gigi 2-3 kali sehari dengan menggunakan sikat gigi yang lembut dan gunakan obat kumur secara teratur karena dapat membantu mencegah terjadinya sariawan. Jika sariawan tidak hilang, segera hubungi dokter Anda.
  • Anemia dan perubahan pada beberapa tes darah.
    Lakukan pemeriksaan tes darah secara berkala.
  • Ruam gatal, kram dan nyeri otot, kesulitan tidur, masalah mata, mimisan, rambut rontok, kesemutan atau mati rasa pada tangan dan kaki, kulit atau mata menjadi kering, peningkatan berat badan, dan berkeringat.
    Jika kondisi ini tidak menghilang atau semakin memburuk, segera hubungi dokter Anda.

Perhatian Khusus

  • Pasien penderita penyakit jantung atau pasien dengan faktor risiko gagal jantung.
  • Pasien dengan riwayat gagal ginjal.
  • Pasien penderita penyakit paru-paru.
  • Pasien dengan faktor risiko gangguan fungsi ginjal misalnya oada pasien tekanan darah tinggi (hipertensi), gagal jantung, dan diabetes melitus.
  • Pasien dengan riwayat menjalani pengangkatan kelenjar tiroid (tiroidektomi).
  • Pasien dengan serologi hepatitis B positif dan hepatitis B.
  • Pasien penderita gagal ginjal dan hati.
  • Anak-anak.
  • Pasien penderita lanjut usia.
  • Wanita hamil.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini.
  • Ibu menyusui.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Deksametason, fenitoin, karbamazepin, rifampisin, dan fenobarbital.
    Obat di atas dapat menurunkan konsentrasi serum dan menurunkan efektivitas dari imatinib sehingga akan menurunkan kemanjuran dari pengobatan imatinib.
  • Indinavir, ritonavir, ketokonazol, vorikonazol, eritromisin, dan klaritromisin.
    Obat di atas dapat meningkatan konsentrasi serum dari obat imatinib sehingga dapat menyebabkan toksisitas dari imatinib.
  • Levotiroksin.
    Imatinib dapat menurunkan konsentrasi dari levotiroksin serum.
  • Simvastatin, siklosporin, pimozid, takrolimus, ergotamin, fentanil, kuinidin, amlodipin, dan metoprolol.
    Imatinib dapat meningkatkan konsentrasi serum substrat CYP3A4 seperti simvastatin, siklosporin, pimozid, takrolimus, ergotamin, fentanil, kuinidin, dan amlodipin serta substrat CYP2D6 seperti metoprolol.
  • Warfarin.
    Imatinib dapat meningkatkan efek penghambatan pembekuan darah dari obat warfarin. Sehingga dapat menyebabkan risiko terjadinya perdarahan.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/glivec
Diakses pada 12 Agustus 2020

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/imatinib
Diakses pada 12 Agustus 2020

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a606018.html
Diakses pada 12 Agustus 2020

Patient. https://patient.info/medicine/imatinib-tablets-glivec-nibix
Diakses pada 12 Agustus 2020

Nhs. https://www.ouh.nhs.uk/patient-guide/leaflets/files/110517imatinib.pdf
Diakses pada 12 Agustus 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Mengenal Kemoterapi Oral yang Dijalani Ria Irawan

Kemoterapi oral adalah obat oral untuk membunuh sel kanker di dalam tubuh. Berbeda dengan kemoterapi tradisional, obat ini tidak perlu dijalani di rumah sakit.
11 Nov 2019|Fadli Adzani
Baca selengkapnya
Mengenal Kemoterapi Oral yang Dijalani Ria Irawan

Penyakit Anemia Merupakan Salah Satu Gejala Kanker, Benarkah?

Anemia kerap dianggap sebagai kondisi yang ringan. Padahal, anemia juga dapat menjadi salah satu gejala kanker di tahap awal, terutama kanker yang berhubungan dengan sumssum tulang belakang, dan kanker yang menimbulkan pendarahan.
15 Jun 2019|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Penyakit Anemia Merupakan Salah Satu Gejala Kanker, Benarkah?

Anda Butuh Second Opinion? Tak Perlu Ragu Memintanya ke Dokter Lain

Meminta second opinion adalah hal yang umum dalam dunia kedokteran sehingga Anda tak perlu khawatir akan menyinggung perasaan dokter. Para dokter pun seharusnya tidak tersinggung dengan permintaan second opinion karena memang itu hak pasien.
17 May 2020|Armita Rahardini
Baca selengkapnya
Anda Butuh Second Opinion? Tak Perlu Ragu Memintanya ke Dokter Lain