Gasela Tablet 150 mg

25 Nov 2020| Lenny Tan
Gasela tablet adalah obat untuk mengatasi tukak lambung yang disebabkan oleh peningkatan asam lambung.

Deskripsi obat

Gasela adalah obat yang digunakan untuk mengobati tukak pada lambung dan usus akibat peningkatan asam lambung. Obat ini merupakan golongan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Gasela dalah tablet salut selaput yang mengandung zat aktif ranitidine. Ranitidine sendiri adalah penghambat kompetitif reseptor histamin H2. Penghambatan reseptor H2 dalam sel parietal lambung menghasilkan penurunan volume dan konsentrasi asam lambung. Ranitidine digunakan untuk mengobati penyakit gastroesophageal reflux (GERD), yaitu suatu kondisi ketika aliran asam dari perut menyebabkan mulas dan cedera pada pipa makanan (kerongkongan) dan perut menghasilkan terlalu banyak asam, seperti sindrom Zollinger-Ellison.

Gasela Tablet 150 mg
HETRp 18.555/strip per Oktober 2019
Kandungan utamaRanitidine.
Kelas terapiAntasida, antirefluks, dan antiulserasi.
Klasifikasi obatAntagonis reseptor histamin H2.
Kemasan1 box isi 10 strip @ 10 tablet (150 mg)
ProdusenErela

Informasi zat aktif

Ranitidine merupakan antasida dalam golongan antagonis reseptor histamin H2. Obat ini secara kompetitif menghambat histamin pada reseptor H2 dari sel parietal lambung, sehingga menghambat sekresi asam lambung, volume lambung, dan mengurangi konsentrasi ion hidrogen.

Bedasarkan proses kerja obat dalam tubuh, ranitidine diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: 50% dari dosis yang diberikan diserap dari saluran pencernaan. Waktu untuk konsentrasi plasma puncak selama 2-3 jam. Ketersediaan hayati sekitar 50%.
  • Distribusi: Minimal menembus sawar darah-otak, melintasi plasenta dan memasuki ASI. Volume distribusi sekitar 1,4 L/kg. Pengikatan protein plasma sekitar 15%.
  • Metabolisme: Dimetabolisme di hati menjadi N-oksida (metabolit utama), S-oksida, dan N-desmetil metabolit.
  • Ekskresi: Terutama melalui urine sebanyak 30%, feses (sebagai metabolit). Waktu paruh eliminasi sekitar 2,5-3 jam .

Indikasi (manfaat) obat

Mengatasi berbagai kondisi karena peningkatan asam lambung, seperti:

  • Luka pada dinding usus 12 jari (tukak duodenum).
  • Luka pada dinding lambung (tukak lambung).
  • Sensasi rasa terbakar pada area dada dan kerongkongan yang disebabkan oleh peningkatan asam lambung ke kerongkongan dan terjadi iritasi kerongkongan.
  • Tumor di pankreas atau bagian atas usus halus (sindrom Zollinger-Ellison).
  • Peradangan mukosa esofagus yang disebabkan oleh refluks cairan lambung atau duodenum esofagus (esofagitis refluks).

Ranitidine termasuk dalam kelas obat yang disebut penghambat H2 (histamin-2). Obat ini bekerja dengan cara menghambat produksi asam oleh sel penghasil asam di lambung. Histamin adalah bahan kimia alami yang merangsang sel-sel di perut untuk menghasilkan asam. Penghambat H2 (H2-blocker) menghambat aksi histamin pada sel untuk mengurangi produksi asam oleh lambung, sehingga asam lambung tidak dapat merusak lambung dan usus dua belas jari (duodenum), serta menyebabkan peradangan.

Komposisi obat

Ranitidine 150 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa:

  • Tukak usus dua belas jari (duodenum) aktif: 150 mg sebanyak 2 kali/hari atau 300 mg/hari dikonsumsi selama 4-8 minggu.
    • Terapi pemeliharaan: 150 mg/hari pada malam hari.
  • Tukak lambung aktif: 150 mg sebanyak 2 kali/hari dikonsumsi selama 2 minggu.
    • Terapi pemeliharaan: 150 mg/hari pada malam hari.
  • Keadaan hipersekresi patologis (Zollinger Ellison, mastositosis sistemik): 150 mg sebanyak 2 kali/hari.
  • Refluks gastroesofagitis: 150 mg sebanyak 2 kali/hari.
  • Esofagitis erosif: 150 mg sebanyak 4 kali/hari.
    • Pemeliharaan dan penyembuhan esofagitis erosif: 150 mg sebanyak 2 kali/hari

Aturan pakai obat

Dikonsumsi pada pagi dan pada malam hari, sesudah makan malam atau sebelum tidur.

Efek samping obat

  • Diare.
    Untuk mengatasi diare ringan, Anda perlu mengganti cairan dan elektrolit (garam) yang hilang dengan meminum banyak air atau minuman olahraga kaya elektrolit. Hindari kopi, minuman berkafein, minuman manis, soda, dan alkohol karena memiliki efek pencahar. Sebaiknya, hindari juga produk susu.
  • Sakit perut.
    Cobalah untuk istirahat dan rileks. Makan dan minum secara perlahan, serta makan lebih sedikit dan lebih sering. Letakan bantalan atau botol berisi air panas tertutup di perut Anda. Jika Anda sangat kesakitan, segera hubungi dokter atau apoteker Anda.
  • Sakit kepala.
    Istirahat dan tidur yang cukup dapat membantu Anda menjadi lebih rileks. Jika Anda duduk dalam waktu lama, cobalah bangun dan sering-seringlah bergerak. Cobalah membuat rahang, leher, dan bahu Anda lebih rileks.
  • Kesulitan buang air besar (konstipasi).
    Konsumsilah lebih banyak makanan berserat tinggi, seperti buah, sayuran segar, dan sereal, serta minumlah banyak air. Lakukan olahraga dengan berjalan-jalan atau berlari setiap hari. Jika cara ini tidak membantu, segera hubungi apoteker atau dokter Anda.
  • Mual.
    Konsumsilah makanan ringan dan hindari makanan berat. Minumlah obat ini setelah makan. Hubungi dokter, jika gejala terus berlangsung lebih dari beberapa hari atau semakin memburuk.
  • Rendahnya jumlah sel darah putih (leukopenia).
  • Sumsum tulang gagal membentuk granulosit, yaitu jenis sel darah putih yang membantu melawan infeksi (granulositopenia).
  • Ruam kulit.
  • Lemas.
  • Berkurangnya jumah trombosit (trombositopenia).

Perhatian Khusus

  • Pasien penderita gangguan fungsi ginjal dan hati.
  • Pasien dengan faktor predisposisi gangguan irama jantung.
  • Pasien yang mengalami gangguan kekebalan atau sakit parah.
  • Singkirkan keganasan lambung atau kemungkinan keganasan sebelum memulai terapi.
  • Pasien penderita kencing manis (diabetes).
  • Penderita penyakit paru kronik.
  • Wanita hamil dan ibu menyusui.
  • Anak-anak.

Kategori kehamilan

Kategori B: Penelitian tidak menemukan efek malformasi atau efek yang mengganggu perkembangan janin pada trimester pertama dan selanjutnya. Studi pada reproduksi hewan telah membuktikan tingkat keamanan obat ini.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini.
  • Pasien dengan riwayat kelainan proses pembentukan heme yang tidak sempurna (porfiria akut).

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Prokainamid dan N-asetilprokainamid.
    Ranitidine dalam dosis tinggi dapat mengurangi ekskresi dan meningkatkan konsentrasi plasma prokainamid dan N-asetilprokainamid.
  • Triazolam, glipizide, midazolam, atazanavir, gefitnib, ketoconazole, dan delaviridin.
    Ranitidine mengubah absorpsi obat yang bergantung pada pH yang dapat menyebabkan peningkatan absorpsi pada triazolam, glipizid, dan midazolam atau penurunan absorpsi, misalnya atazanavir, gefitnib, ketoconazole, dan delaviridin.
  • Sukralfat.
    Sukralfat dapat menurunkan penyerapan dan efektivitas dari ranitidine.
  • Warfarin.
    Ranitidine dapat merubah waktu protrombin dan peningkatan konsentrasi serum dengan antikoagulan kumarin, seperti warfarin.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Segera hubungi dokter Jika Anda mengalami:

  • Sakit perut.
  • Urine berwarna gelap.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Perubahan warna pada kulit dan bagian putih mata yang menjadi kekuningan.
  • Demam menggigil.
  • Batuk berlendir.
  • Nyeri dada.
  • Sesak napas.
  • Detak jantung cepat atau lambat.
  • Mudah memar atau berdarah.

Sesuai kemasan per Oktober 2019

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/ranitidine?mtype=generic
Diakses pada 6 November 2020

Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/ranitidine/
Diakses pada 6 November 2020

Patient. https://patient.info/medicine/ranitidine-to-reduce-stomach-acid-zantac
Diakses pada 6 November 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/ranitidine-oral-tablet#about
Diakses pada 6 November 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-165655-7033/heartburn-relief-ranitidine-oral/ranitidine-tablet-oral/details
Diakses pada 6 November 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email