Forcanox kapsul adalah obat untuk mengatasi berbagai infeksi jamur seperti kurap dan kutu air.
Golongan obat Merah Obat keras: diharuskan menggunakan resep dokter.
Kemasan 1 box isi 3 strip @ 6 kapsul
Produsen Guardian Pharmatama

Forcanox kapsul adalah obat untuk mengobati berbagai infeksi jamur seperti kandidiasis dan infeksi kulit seperti kutu air dan kurap. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Forcanox kapsul mengandung zat aktif itrakonazol.

Itrakonazol berinteraksi dengan 14-α demethylase, enzim sitokrom P-450 yang diperlukan untuk mengubah lanosterol menjadi ergosterol atau komponen penting dari membran sel jamur, penghambatan sintesisnya menghasilkan peningkatan permeabilitas seluler yang menyebabkan kebocoran konten seluler. Itrakonazol juga dapat menghambat respirasi endogen, berinteraksi dengan membran fosfolipid, menghambat transformasi ragi menjadi bentuk miselium, menghambat pengambilan purin, dan mengganggu trigliserida dan atau biosintesis fosfolipid. Sehingga obat ini mampu mengobati:

  • Infeksi mukosa vagina dan atau vulva akibat jamur spesies kandida (kandidosis vulvovaginitis).
  • Infeksi jamur pada kulit yang disebabkan oleh Malassezia furfur (ptiriasis vesikolor).
  • Penyakit pada kulit, kuku, rambut, dan mukosa yang disebabkan infeksi jamur (dermatomikosis).
  • Proses di mana sel-sel epidermis menjadi dewasa (keratinisasi).
  • Infeksi jamur yang mengenai mukosa oral atau mulut disebabkan oleh Candida albicans (kandidisis oral).
  • Peradangan pada kornea mata akibat jamur (keratitis fungal).
  • Kurap (tinea korporis).
  • Infeksi jamur pada pangkal paha (tinea kruris).
  • Kutu air (tinea pedis).
  • Infeksi jamur pada tangan (tinea manuum).
  • Penyakit infeksi yang disebabkan oleh jamur Aspergillus (aspergillosis).
  • Infeksi jamur yang disebabkan oleh jamur Candida albicans (kandidiasis).
  • Infeksi yang tidak disebabkan oleh Cryptococcus meningeal (kriptokokkus non meningeal). 
  • Infeksi yang disebabkan oleh Cryptococcus meningeal (meningitis kriptokokkus).
  • Penyakit infeksi jamur pada paru-paru yang disebabkan karena menghirup spora jamur Histoplasma capsulatum (histoplasmosis).
  • Infeksi kulit yang disebabkan oleh jamur Sporothrix schenckii (sporotrikosis).
  • Penyakit jamur sistemik yang disebabkan oleh jamur Paracocsidioides brasiliensis (parakokkidiodomikosis).
  • Penyakit menular yang disebabkan oleh cendawan dimorfik Blastomyces dermatitidis (blastomikosis).
  • Mencegah infeksi jamur pada pasien yang memiliki kekebalan tubuh yang rendah, seperti pasien neutropenia akibat kemoterapi, pasien infeksi HIV, dan pasien yang menjalankan transplantasi organ.

Itrakonazol 100 mg.

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Infeksi jamur sistemik: 100-200 mg sebanyak 1 kali/hari, dosis dapat ditingkatkan menjadi 200 mg sebanyak 2 kali/hari untuk infeksi yang luas.

Infeksi yang mengancam jiwa:

  • Dosis awal: 200 mg sebanyak 3 kali/hari, dikonsumsi selama 3 hari.

Tinea corporis dan tinea cruris: 100 mg/hari dikonsumsi selama 15 hari, atau 200 mg/hari dikonsumsi selama 7 hari.

Mencegah infeksi primer atau sekunder pada pasien neutropenia dan AIDS: 200 mg/hari, jika perlu dosis dapat ditingkatkan menjadi 200 mg sebanyak 2 kali/hari.

Pityriasis vesicolor: 200 mg/hari, dikonsumsi selama 7 hari.

Kandidiasis orofaring: 100 mg/hari, dikonsumsi selama 15 hari.

Pasien AIDS atau neutropenia: 200 mg/hari, dikonsumsi selama 15 hari.

Kandidiasis vulvovaginal: 200 mg sebanyak 2 kali/hari.

Infeksi jamur pada kuku: 200 mg/hari, dikonsumsi selama 3 bulan.

Kandidiasis esofagus dan kandidiasis oral: 200 mg/hari dalam 1 atau 2 dosis terbagi, dikonsumsi selama 7-14 hari.

Tinea manuum dan tinea pedis: 100 mg/hari, dikonsumsi selama 30 hari atau 200 mg sebanyak 2 kali/hari, dikonsumsi selama 7 hari.

Sebaiknya dikonsumsi dengan makanan atau sesudah makan.
  • Penurunan frekuensi dan jumlah urin.
  • Mulut kering.
  • Demam.
  • Detak jantung tidak teratur.
  • Perubahan mood.
  • Nyeri pada otot.
  • Mual.
  • Sakit kepala.
    Minumlah banyak air dan minta rekomendasi obat penghilang rasa sakit kepada apoteker. Jika sakit kepala masih berlanjut, segera hubungi dokter.
  • Pusing.
  • Gagal jantung.
  • Kegagalan sumsum tulang membentuk granulosit (agranulositosis).
  • Diare.
  • Muntah, muntah, sakit perut, dan kesulitan buang air besar (konstipasi).
    Makanlah dalam porsi sedikit dan hindari makanan pedas.
  • Nyeri pada perut
  • Telinga berdering (tinnitus).
  • Rasa tidak nyaman pada perut (dispepsia).
  • Penglihatan kabur.
  • Nyeri pada punggung.
  • Kesemutan.
  • Gangguan menstruasi.
  • Disfungsi ereksi.
  • Sesak napas.
  • Batuk.
  • Peradangan pada mukosa hidung (rhinitis).
  • Peradangan pada sinus (sinusitis).
  • Ruam pada kulit.
  • Reaksi sensitif terhadap cahaya.
  • Kerontokan rambut.
  • Peningkatan tekanan darah hingga di atas batas normal (hipertensi).
  • Penurunan tekanan darah hingga di bawah batas normal (hipotensi).
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini.
  • Pasien penderita gangguan fungsi ginjal atau hati.
  • Pasien yang memiliki risiko gagal jantung kongestif.
  • Pasien penderita gagal ginjal.
  • Pasien dengan faktor risiko terkena penyakit iskemik, gangguan edema, gagal ginjal, dan PPOK.
  • Pasien yang mengonsumsi obat untuk mengurangi keasaman lambung.
  • Pasien lanjut usia.
    • Astemizol, bepridil, cisapride, disopiramid, dofetilid, drondaron, felodipin, halofantrin, lerkanidipin, levasetilmetadol, mizolastin, nisoldipin, pimozid, kuinidin, sertindol, dan terfenadin.
      Dapat menyebabkan terjadinya peningkatan interval QT dan takiartirmia ventrikular.
    • Karbamazepin, fenobarbital, fenitoin, isoniazid, rifabutin, rifampisin, nevirapin, efavirenz.
      Dapat menurunkan kadar obat di atas dalam plasma.
    • Obat golongan antimuskarinik, antasida, pompa proton inhibitor, dan antagonis reseptor histamin H2.
      Konsentrasi obat di atas dapat menurun jika dikonsumsi bersama itrakonazol.
    • Indinavir, ritonavir, telaprevir, eritromisin, klaritromisin, dan siprofloksasin.
      Konsentrasi obat akan meningkat jika dikonsumi bersama itrakonazol.
    • Meloksikam.
      Konsentrasi obat dapat menurun jika dikonsumsi bersama itrakonazol.
    • Digoksin, alfentanil, oksikodon, repaglinid, bilastin, alprazolam, midazolam, buspiron, saquinavir, praziquantel, bosentan, aprepiran, reboksetin, fesoterodin, solifenason, tamsulosin, taldafil, sildenafil, cinacalcet, tolvaptan, antineoplastik seperti busulfan, dosetaksel, trimetreksat, vinsa alkaloid, imunosupresan seperti siklosporin dan takrolimus, kortikosteroid seperti budesonid, deksametason, flutikason, obat penghambat pembekuan darah seperti epiksaban, silostazol, dan kumarin.
      Konsentrasi obat dalam plasma akan menurun jika dikonsumsi dengan itrakonazol.
    • Fentanil.
      Dapat menyebabkan risiko terjadinya depresi napas.
MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/itraconazole/?type=brief&mtype=genericDiakses pada 5 Agustus 2020WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-128-2179/itraconazole-oral/itraconazole-oral/details#:~:text=If%20you%20miss%20a%20dose,the%20dose%20to%20catch%20up.Diakses pada 5 Agustus 2020Medline Plus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a692049.htmlDiakses pada 5 Agustus 2020Drugbank. https://www.drugbank.ca/drugs/DB01167Diakses pada 5 Agustus 2020Mayoclinic.https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/itraconazole-oral-route/side-effects/drg-20071421?p=1Diakses pada 5 Agustus 2020

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus tetap sesuai dengan anjuran dokter.

Artikel Terkait