Flamicort Injeksi 40 mg/ml

27 Okt 2020| Ajeng Prahasta
Flamicort injeksi adalah obat untuk mengatasi alergi, penyakit kolagen, dan gangguan kulit.

Deskripsi obat

Flamicort injeksi adalah obat untuk mengatasi alergi, penyakit kolagen, dan gangguan kulit. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Flamicort injeksi mengandung zat aktif triamsinolon asetonid.

Flamicort Injeksi 40 mg/ml
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
HETRp 87.000/vial per Oktober 2020
Kandungan utamaTriamsinolon asetonid.
Kelas terapiAntialergi dan antiinflamasi.
Klasifikasi obatGlukokortikoid.
Kemasan1 box isi 1 vial @ 1 ml
ProdusenDexa Medica

Informasi zat aktif

Triamsinolon adalah steroid yang mencegah pelepasan zat dalam tubuh yang menyebabkan peradangan. Triamsinolon memiliki aktivitas glukokortikoid terutama. Obat ini menekan migrasi leukosit polimorfonuklear dan mengurangi permeabilitas kapiler sehingga mengurangi peradangan. Ini juga menekan sistem kekebalan dengan mengurangi aktivitas dan volume sistem limfatik.

Bedasarkan proses kerja obat dalam tubuh, triamsinolon diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diserap perlahan dari tempat inj. Waktu dimana obat mencapai kadar tertinggi dalam plasma (waktu untuk konsentrasi plasma puncak) selama 8-10 jam (IM).
  • Distribusi: Melintasi plasenta. Volume distribusi: 99,5 L. Pengikatan protein plasma: Sekitar 68%.
    Ekskresi: Melalui urin (sekitar 40%); kotoran (sekitar 60%). Waktu yang dibutuhkan obat untuk dikeluarkan oleh tubuh dari separuh kadar awal obat (waktu paruh eliminasi): Kira-kira 2-5 jam.

Indikasi (manfaat) obat

Flamicort injeksi diindikasikan untuk penggunaan intrmuskular seperti pada kondisi:

  • Alergi.
  • Peradangan pada sendi.
  • Sebagai terapi tambahan untuk pengobatan jangka pendek atau untuk membantu pasien mengatasi episode akut atau eksaserbasi pada peradangan sendi yang disebabkan karena trauma (osteoartritis pasca trauma), peradangan pada sendi panggul (sinovitis osteoartritis), peradangan sendi yang disebabkan karena sistem kekebalan yang menyerang jaringannya sendiri (rheumatoid arthritis), peradangan pada bursa atau pelumas dan bantalan yang terdapat pada sekitar sendi (bursitis), peradangan tendon (epikondilitis), penumpukan kristal asam urat pada persendian yang menyebabkan terjadinya peradangan pada sendi (artritis gout akut), peradangan sendi yang menyerang tulang belakang dan sendi lainnya (ankylosing spondylitis), peradangan sendi yang disebabkan karena sistem kekebalan yang menyerang jaringannya sendiri (rheumatoid arthritis) pada remaja.
  • Penyakit kulit seperti:
    Gangguan kulit yang ditandai dengan adanya lepuhan kulit pada bagian hidung, kelamin, tenggorokan, dan bagian dalam mulut (pemfigus), eritema multiforma berat (sindrom Stevens-Johnson), pengelupasan kulit pada bagian yang luas (dermatitis eksfoliatif), gangguan kulit yang menyebabkan kulit menjadi berwarna kemerahan, bersisik, dan berketombe (dermatitis seboroik berat), dan gangguan kulit yang menyebbakan kulit gatal, kemerahan, dan muncul bercak kemerahan (psoriasis berat).
  • Pembengkakan.
    Untuk menginduksi kecepatan pembentukan urine (diuresis) atau menurunkan protein dalam urine yang melebihi nilai normal (proteinuria) pada pasien penderita kerusakan ginjal yang mengalami peningkatan kadar protein dalam urine (sindrom nefrotik), tanpa disertau dengan kadar urea yang tinggi dalam tubuh (uremia), dari tipe yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik) atau yang disebabkan oleh lupus eritematosus.

Triamsinolon dikenal sebagai hormon kortikosteroid (glukokortikoid). Obat ini bekerja dengan menurunkan respons kekebalan tubuh Anda terhadap penyakit ini dan mengurangi gejala seperti pembengkakan.

Komposisi obat

Tiap 1 ml: triamsinolon asetonid 40 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa dan anak-anak 12 tahun ke atas:

  • Dosis awal: 60 mg, disuntikkan ke dalam otot gluteal. Dosis biasanya disesuaikan dalam kisaran 40-80 mg, tergantung pada respons pasien dan lamanya penyembuhan.

Anak-anak 6-12 tahun:

  • Dosis awal: 40 mg.

Aturan pakai obat

Disuntikkan ke dalam otot gluteal. Penggunaan harus dibantu oleh tenaga medis.

Efek samping obat

  • Sakit kepala.
    Hentikan aktivitas sementara jika merasa sakit kepala kemudian berisirahatlah hingga merasa lebih baik, jika sakit kepala tidak membaik atau semakin memburuk, segera minta rekomendasi obat penghilang rasa sakit kepada apoteker Anda. 
  • Gangguan keseimbangan elektrolit.
  • Stretch marks (striae).
  • Perubahan suasana hati.
  • Daerah kulit tertentu lebih gelap (hiperpigmentasi).
  • Pusing.
  • Luka pada dinding lambung (tukak lambung).
  • Berkurangnya kepadatan tulang (osteoporosis).
  • Kelainan otot akibat penggunaan obat steroid (miopati steroid).
  • Kelemahan otot.
  • Gangguan cairan dan elektrolit.
  • Hiperaktivitas korteks adrenal yang ditandai dengan (moonface), kadang-kadang dengan pertumbuhan rambut berlebih pada wanita, pada bagian tubuh yang biasanya tumbuh rambut pada pria, penumpukan lemak pada bagian bahu tulang belakang (buffalo hump), kemerahan, bertambahnya luka memar, dan jerawat, kadang-kadang menyebabkan Sindrom Cushing berkembang sepenuhnya. Jika pemberian dihentikan, gejala ini biasanya berbalik, tetapi penghentian mendadak dapat berbahaya.
  • Efek samping lainnya termasuk tidak mengalami menstruasi (amenorea), keringat berlebi (hiperhidrosis), gangguan mental dan neurologis, hipertensi intrakranial, dan peradangan pada pankreas (pankreatitis akut). Kelemahan otot kadang-kadang merupakan efek samping dari sebagian besar kortikosteroid, terutama bila digunakan dalam dosis besar.
  • Penggunaan glukokortikoid dalam waktu lama dapat menyebabkan gangguan penglihatan.
  • Peningkatan kadar kolesterol dalam darah (hiperkolesterolemia), penyempitan pada pembuluh darah yang disebabkan karena penumpukan lemak pada arteri (artrosklerosis), terbentuknya gumpalan darah pada pembuluh darah (trombosis), penyumbatan pada pembuluh darah yang disebabkan karena lemak (emboli lemak) dan peradangan pada pembuluh darah (tromboflebitis) telah diamati pada beberapa pasien yang mengikuti terapi glukokortikoid dosis tinggi yang berkepanjangan.

Perhatian Khusus

  • Pasien penderita gagal jantung kongestif.
  • Pasien penderita tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Pasien penderita kencing manis (diabetes melitus).
  • Pasien penderita gagal ginjal kronis dan pasien dengan kadar urea yang sangat tinggi dalam darah (uremia).
  • Pasien usia lanjut.
  • Pasien dengan tuberkulosis yang aktif.

Kategori kehamilan

Kategori C: Belum terdapat penelitian terkontrol untuk penggunaan flamicort injeksi pada ibu hamil, namun ada efek samping yang mungkin dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan janin. Oleh karena itu, penggunaannya pada ibu hamil hanya dapat dilakukan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin. Konsultasikan penggunaan obat ini dengan dokter sebelum digunakan.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien yang memiliki alergi terhadap triamsinolon.
  • Pasien yang mengalami infeksi jamur sistemik.
  • Pasien yang memiliki kadar trombosit yang rendah dalam darah sehingga mudah memar atau berdarah (purpura trombositopenik idiopatik).

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Alcuronium.
    Triamsinolon dapat menurunkan efektivitas alcuronium, sehingga menyebabkan kelemahan otot dan miopati yang berkepanjangan.
  • Aldesleukin.
    Triamsinolon dapat mengurangi efektivitas antitumor dari aldesleukin.
  • Amfoterisin b liposom.
    Penggunaan triamsinolon dan amfoterisin B dapat menyebabkan peningkatan risiko penurunan kadar kalium dalam darah (hipokalemia).
  • Vaksin antraks teradsorpsi.
    Penggunaan triamsinolon bersama vaksin antraks menyebabkan respons imunologis yang tidak memadai terhadap vaksin.
  • Aspirin.
    Penggunaan bersama aspirin dapat menyebabkan peningkatan risiko luka pada saluran pencernaan.
  • Atracurium, cisatracurium, doxacurium, dan haxafluorenium.
    Penggunaan triamsinolon dapat menurunkan efektivitas obat di atas sehingga menyebabkan terjadinya kelemahan otot dan miopati yang berkepanjangan.
  • Echinacea.
    Echinacea dapat menyebabkan penurunan efektivitas kortikosteroid.
  • Fluorokuinolon.
    Penggunaan triamsinolon dapat menyebabkan peningkatan risiko cedera pada tendon.
  • Fosfenitoin.
    Fosfenitoin dapat menyebabkan penurunan efektivitas triamsinolon.
  • Gallamin.
    Triamsinolon dapat menyebabkan penurunan efektivitas gallamine, kelemahan otot, dan miopati yang berkepanjangan.
  • Hormon pertumbuhan manusia: penurunan efektivitas hormon pertumbuhan.
  • Hidroklortiazid:
    Penggunaan bersama triamsinolon dapat menyebabkan penurunan kadar kalium dalam darah (hipokalemia) dan gangguan irama jantung (aritmia jantung).
  • Insulin:
    Terapi kortikosteroid cenderung meningkatkan glukosa darah pada pasien diabetes dan dosis insulin yang lebih tinggi mungkin diperlukan.
  • Itrarakonazol.
    Itrakonazol dapat meningkatkan konsentrasi plasma kortikosteroid dan peningkatan risiko efek samping kortikosteroid (miopati, intoleransi glukosa, dan sindrom Cushing).
  • Fenobarbital.
    Fenobarbital dapat menyebabkan penurunan efektivitas kortikosteroid.
  • Fenitoin.
    Fenitoin dapat menurunkan efektivitas triamsinolon.
  • Vaksin.
    respons imunologis yang tidak memadai terhadap vaksin.
  • Pemberian barbiturat, fenitoin, atau rifampisin secara bersamaan dapat meningkatkan metabolisme dan mengurangi efek kortikosteroid.
  • Pemberian kortikosteroid bersamaan dengan diuretik perusak kalium seperti tiazid atau furosemid dapat menyebabkan kehilangan kalium yang berlebihan.

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Hubungi dokter Anda untuk instruksi jika Anda melewatkan janji untuk injeksi triamsinolon terjadwal.
  • Ketika triamsinolon digunakan sebagai dosis tunggal, Anda tidak akan memiliki jadwal pemberian dosis yang teratur.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Hubungi dokter jika Anda mengalami:

  • Peningkatan nyeri atau bengkak, kekakuan sendi, demam, dan perasaan sakit umum.
  • Penglihatan kabur, sakit mata, atau melihat lingkaran cahaya di sekitar lampu.
  • Perubahan suasana hati atau perilaku yang tidak biasa.
  • Pembengkakan, berat badan bertambah cepat, dan sesak napas.
  • Kram perut, muntah, diare, tinja berdarah atau tinggal, iritasi rektal.
  • Mati rasa atau kelemahan mendadak (terutama di satu sisi tubuh).
  • Kejang.
  • Sakit kepala parah, penglihatan kabur, berdebar-debar di leher atau telinga Anda.
  • Peningkatan tekanan di dalam tengkorak seperti sakit kepala parah, telinga berdenging, pusing, mual, masalah penglihatan, nyeri di belakang mata Anda.
  • Tanda-tanda hormon kelenjar adrenal rendah seperti gejala mirip flu, sakit kepala, depresi, kelemahan, kelelahan, diare, muntah, sakit perut, mengidam makanan asin, dan perasaan pusing.

Dexa Medica. https://www.dexa-medica.com/brandedmedicine/Flamicort-injeksi-40-mg
Diakses pada 7 Oktober 2020

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/flamicort?type=brief&lang=id
Diakses pada 7 Oktober 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-9/triamcinolone-acetonide-injection/details
Diakses pada 7 Oktober 2020

Drugs. https://www.drugs.com/mtm/triamcinolone-injection.html
Diakses pada 7 Oktober 2020

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/triamcinolone?mtype=generic
Diakses pada 7 Oktober 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email