Farbivent larutan inhalasi digunakan untuk mengatasi pengencangan otot-otot yang melapisi bronkus di paru-paru (bronkospasme) yang berkaitan dengan peradangan kronis pada paru-paru.
Golongan obat Merah Obat keras: diharuskan menggunakan resep dokter.
Kemasan 1 box isi 1 strip @ 10 ampul @ 2,5 ml
Produsen Fahrenheit

Farbivent larutan inhalasi digunakan untuk mengatasi pengencangan otot-otot yang melapisi bronkus di paru-paru (bronkospasme) yang berkaitan dengan peradangan kronis pada paru-paru. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Farbivent larutan inhalasi mengandung zat aktif ipratropium bromida dan salbutamol sulfat.

Mengatasi Pengencangan otot-otot yang melapisi bronkus di paru-paru (bronkospasme) yang berkaitan dengan peradangan kronis pada paru-paru yang berkembang dalam jangka waktu panjang (penyakit paru obstruktif kronik) pada pasien yang mengonsumsi obat ipratropium bromida dan salbutamol.

  • Ipratropium bromida 0,5 mg.
  • Salbutamol sulfat 2,5 mg.

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa dan pasien lanjut usia: 1 ampul sebanyak 3-4 kali/hari.

Masukkan larutan ke dalam alat nebulizer, sehingga menjadi partikel gas lalu dihirup.

  • Sakit kepala.
  • Pusing.
  • Gelisah.
  • Detak jantung melebihi 100 kali/menit (takikardi).
  • Gemetar yang tidak terkendali (tremor).
  • Jantung berdebar-debar (palpitasi).
  • Kadar kalium dalam darah di bawah normal (hipokalemia berat).
  • Batuk.
  • Iritasi lokal.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Berkeringat.
  • Otot melemah.
  • Nyeri sendi (mialgia).
  • Kram otot.
  • Mulut kering.
  • Gangguan suara (disfonia).
  • Pasien yang mengalami gangguan jantung dalam memompa darah karena adanya penebalan salah satu bagian jantung (kardiomiopati obstruktif hipertrofi).
  • Pasien yang mengalami detak jantung melebih 100 kali/menit (takiaritmia).
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap atropin atau turunannya.
  • Hindari kontak dengan mata.
  • Pasien penderita predisposisi peningkatan tekanan bola mata (predisposisi glaukoma).
  • Pasien penderita kencing manis (diabetes melitus) yang tidak terkontrol dengan baik.
  • Pasien penderita (infark miokard) yang baru terjadi.
  • Pasien penderita gangguan jantung organik atau gangguan vaskuler.
  • Pasien yang memiliki kadar hormon tiroid yang tinggi (hipertiroid).
  • Pasien yang memiliki tumor jinak pada kelenjar adrenal (foekromositoma).
  • Peningkatan tekanan bola mata secara mendadak (glaukoma sudut sempit).
  • Pasien yang mengalami pembesaran kelenjar prostat (hipertrofi prostat).
  • Pasien yang mengalami penyumbatan pada leher kandung kemih (obstruksi leher kandung kemih).
  • Pasien penderita kekurangan oksigen (hipoksia).
  • Pasien penderita kelainan genetik yang menyebabkan terbentuknya lendir kental terbentuk di paru-paru dan sistem pencernaan (fibrosis kistik).
  • Hindari penggunaan jangka panjang.
  • Wanita hamil dan menyusui.
  • Turunan xantin.
  • Beta adrenergik lain.
  • Antikolinergik.
  • Glukokortikoid diuretik.
  • Digoksin.
  • Beta bloker.
  • Antidepresan trisiklik.
  • Halotan.
  • Trikloretilen.
  • Enfluran.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/farbivent?type=brief&lang=id
Diakses pada 9 Juni 2020

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus tetap sesuai dengan anjuran dokter.

Artikel Terkait