Erpaflam tablet 50 mg obat untuk meredakan nyeri dan mengurangi peradangan pada pasien reumatoid atritis akut dan kronis.
Erpaflam tablet 50 mg obat untuk meredakan nyeri dan mengurangi peradangan pada pasien reumatoid atritis akut dan kronis.
Erpaflam tablet 50 mg obat untuk meredakan nyeri dan mengurangi peradangan pada pasien reumatoid atritis akut dan kronis.
Erpaflam tablet 50 mg obat untuk meredakan nyeri dan mengurangi peradangan pada pasien reumatoid atritis akut dan kronis.
Golongan obat Merah Obat keras: diharuskan menggunakan resep dokter.
HET Rp. 14.740/strip per November 2019.
Kemasan 1 box isi 5 strip @ 10 tablet (50 mg)
Produsen Erlimpex

Erpaflam tablet 50 mg adalah obat untuk meredakan nyeri dan mengurangi inflamasi pada pasien reumatoid atritis akut dan kronis, osteoarthritis, dan ankylosing spondylitis. Obat ini tergolong obat keras dan membutuhkan resep dokter. Obat ini memiliki kandungan diclofenac potassium sebagai zat aktifnya.

  • Pengobatan:
    • Kondisi akut dan kronis gejala peradangan sendi akibat sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringannya sendiri (reumatoid atritis) akut atau kronis.
    • Kondisi yang menyebabkan sendi-sendi terasa sakit, kaku, dan bengkak (osteoarthritis)
    • Peradangan kronis yang dapat menyebabkan menutupnya celah antar ruas tulang (ankylosing spondylitis).
    • Mengurangi nyeri akibat menstruasi.

Diclotenac potassium 50 mg.

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Dewasa:
    • Dosis awal: sebanyak (150 mg)/hari.
    • Dosis maksimal: sebanyak (100 mg)/hari.

Dikonsumsi sesuai petunjuk dokter.

  • Gangguan saluran pencernaan makanan: nyeri ulu hati, mual, muntah, diare, kram perut, maag perut kembung, anoreksia, pendarahan saluran pencernaan, tukak lambung dengan atau tanpa pendarahan, diare berdarah.
  • Gangguan susunan saraf pusat dan perifer: sakit kepala, pusing atau vertigo, mengantuk.
  • Gangguan kulit: ruam dan erupsi kulit, urtikaria.
  • Gangguan hati: peninggian serum enzim amino transferase (SGOT, SGPT), hepatitis dengan atau jaundice.
  • Reaksi hipersensitifitas: asma, anafilaksis.
  • Gangguan sistem kardiovaskular: nyeri dada, hipertensi, gagal ginjal kongestif.
  • Pasien penderita tukak lambung atau usus.
  • Hipersensitifitas terhadap zat aktif.
  • Penderita penyakit jantung iskemik (ischaemic heart disease)
  • Pasien dengan kondisi di mana plak menumpuk di dalam arteri yang menyalurkan darah menuju otak, organ tubuh, dan anggota tubuh (peripheral arterial disease).
  • Pasien dengan kondisi penyakit pembuluh darah di otak, terutama arteri otak (cerebrovascular disease).
  • Pasien gagal jantung (congestive heart failure).
  • Pasien penderita saluran pencernaan dengan riwayat tukak lambung atau usus.
  • Pada pasien penderita peradangan usus yang terjadi pada usus besar (ulkus kolitis)
  • Pasien penderita gangguan fungsi hati
  • Pasien-pasien porfiria hati.
  • Pasien gangguan fungsi.
  • Pasien hipertensi.
  • Pasien kondisi lain nya yang mempengaruhi retensi cairan atau gangguan ginjal.
  • Pasien lansia.
  • Pasien yang diobati dengan obat diuretik.
  • Pasien dengan kerusakan hermostasis.
  • Wanita hamil dan menyusui.
  • Anak-anak.
  • Litium digoksin.
  • Diuretika.
  • AINS.
  • Antikoagulan.
  • Antidiabetik.
  • Methottrexat.
  • Siklosporin.
  • Antibakteri quinolon.

Sesuai kemasan per November 2019.

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus tetap sesuai dengan anjuran dokter.

Artikel Terkait