Erphaflam Tablet 50 mg

21 Des 2020| Anita Djie
Ditinjau oleh Ajeng Prahasta
Erphaflam tablet adalah obat untuk meredakan nyeri dan meringankan peradangan

Deskripsi obat

Erphaflam tablet adalah obat untuk meredakan nyeri, seperti nyeri haid, nyeri setelah operasi dan sakit gigi. Selain itu, obat ini juga digunakan untuk meringankan peradangan, seperti rheumatoid arthritis, arthritis, osteoarthritis, dan ankylosing spondylitis. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter.
Erphaflam mengandung zat aktif kalium diklofenak yang berfungsi untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang dan pembengkakan (peradangan). Zat aktif ini mampu mengurangi rasa sakit, bengkak, dan kekakuan sendi yang disebabkan artritis. Dengan mengurangi gejala ini, maka Anda dapat melakukan lebih banyak aktivitas sehari-hari.

Erphaflam Tablet 50 mg
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
Kandungan utamaKalium diklofenak.
Kelas terapiAntiinflamasi.
Klasifikasi obatNon-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAID).
Kemasan1 box isi 5 strip @ 10 tablet (50 mg)
ProdusenErlimpex

Informasi zat aktif

Diklofenak memiliki sifat antiradang (antiinflamasi) dan penurun demam (antipiretik). Obat ini akan menghambat sintesis atau produksi prostaglandin, yaitu senyawa penyebab peradangan.

Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh kalium diklofenak diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diserap secara cepat dan hampir terserap seluruhnya. Penyerapan ditunda oleh makanan.
  • Distribusi: Hampir 100% terikat protein.
  • Metabolisme: Menjalani metabolisme jalur pertama, dengan 60% obat yang tidak berubah mencapai peredaran darah.
  • Ekskresi: Sekitar 40% sampai 60% dibuang melalui urine.

Indikasi (manfaat) obat

Mengobati:

  • Kondisi akut dan kronis peradangan sendi akibat sistem kekebalan tubuh menyerang jaringannya sendiri (rheumatoid arthritis).
  • Peradangan sendi yang disebabkan gesekan pada ujung tulang penyusun sendi (osteoarthritis).
  • Peradangan kronis yang menyebabkan menutupnya celah antar ruas tulang (ankylosing spondylitis).
  • Nyeri akibat menstruasi.

Diklofenak adalah obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID). Obat ini bekerja dengan cara mengurangi zat dalam tubuh yang menyebabkan nyeri dan peradangan, sehingga gejala peradangan, seperti pembengkakan dan nyeri akan berkurang.

Komposisi obat

Kalium diklofenak 50 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa:

  • Dosis awal: 100 mg/hari.
  • Dosis awal maksimal: 150 mg/hari pada hari pertama.

Aturan pakai obat

Dikonsumsi sesuai petunjuk dokter. Tablet ditelan secara utuh, jangan dikunyah atau dihancurkan terlebih dahulu.

Efek samping obat

  • Sakit kepala.
    Pastikan Anda istirahat dan minum banyak cairan. Jangan minum terlalu banyak alkohol. Mintalah apoteker Anda untuk merekomendasikan obat penghilang rasa sakit alternatif. Sakit kepala biasanya akan hilang setelah minggu pertama mengonsumsi diklofenak. Hubungi dokter jika berlangsung lebih dari seminggu atau bertambah parah.
  • Pusing hingga merasa sekeliling seperti berputar (vertigo).
    Jika Anda mulai merasa pusing, baringkan tubuh Anda agar tidak pingsan. Duduklah sampai Anda merasa lebih baik. Berhati-hatilah saat mengemudi atau mengoperasikan mesin jika Anda mengalami efek samping ini.
  • Mual.
    Minum diklofenak dengan atau setelah makan. Hindari makanan pedas.
  • Muntah atau diare.
    Minumlah banyak air atau cairan lain, terutama jika Anda sedang sakit. Hubungi dokter atau apoteker jika Anda memiliki tanda-tanda dehidrasi, seperti buang air kecil lebih jarang dari biasanya atau kencing berwarna gelap dan berbau menyengat. Jangan minum obat lain tanpa berbicara dengan dokter atau apoteker.
  • Sakit perut, perut kembung, dan penurunan nafsu makan.
    Hindari makanan yang menyebabkan perut bergas, seperti kacang-kacangan dan bawang. Makanlah dalam porsi kecil secara perlahan dan olahragalah secara teratur.
  • Maag.
  • Luka pada dinding lambung (tukak lambung).
  • Mengantuk.
  • Biduran.
  • Asma.
  • Nyeri dada.
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Kesulitan buang air besar (sembelit).

Cara penyimpanan obat

Simpan pada suhu di bawah 30°C dan terlindung dari cahaya matahari langsung.

Perhatian Khusus

  • Pasien penderita penyakit jantung.
  • Pasien penderita tekanan darah tinggi.
  • Pasien dengan kondisi asma.
  • Pasien penderita penyakit hati atau ginjal.
  • Pasien yang merokok.
  • Pasien dengan gangguan perdarahan.
  • Pasien yang memiliki masalah pada lambung.
  • Pasien penderita masalah pada ginjal.
  • Pasien yang mengonsumsi alkohol.
  • Pasien yang mengalami perdarahan pada lambung atau usus.
  • Wanita hamil dan ibu menyusui.

Kategori kehamilan

Pada trimester pertama dan kedua: Kategori C: Belum terdapat penelitian terkontrol untuk penggunaan Erphaflam tablet pada ibu hamil. Namun, ada efek samping yang mungkin dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan janin. Oleh karena itu, penggunaannya pada ibu hamil hanya dapat dilakukan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin. Konsultasikan penggunaan obat ini dengan dokter sebelum digunakan.

Pada trimester ketiga: Kategori D: Hasil penelitian menunjukkan bahwa obat ini menimbulkan risiko pada janin manusia. Penggunaan pada ibu hamil dapat dipertimbangkan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin. Misalnya, bila obat dibutuhkan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa atau penyakit serius, di saat obat lain tidak efektif atau tidak bisa diberikan.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien penderita luka pada dinding lambung atau usus (tukak lambung atau usus).
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap kalium diklofenak.
  • Penderita penyakit jantung iskemik (ischaemic heart disease).
  • Pasien dengan kondisi plak menumpuk di dalam arteri yang menyalurkan darah menuju otak, organ tubuh, dan anggota tubuh (peripheral arterial disease).
  • Pasien dengan kondisi penyakit pembuluh darah di otak, terutama arteri otak (cerebrovascular disease).
  • Pasien gagal jantung (congestive heart failure).

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Kortikosteroid dan antidepresan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI).
    Penggunaan bersama obat di atas dapat menyebabkan terjadinya luka pada saluran pencernaan dan perdarahan.
  • Digoxin atau glikosida jantung.
    Penggunaan bersama obat di atas dapat meningkatkan risiko efek samping pada penyakit jantung.
  • Penghambat ACE, diuretik, diuretik, ciclosporin, dan tacrolimus.
    Penggunaan obat di atas bersama kalium diklofenak dapat menyebabkan tingginya kadar kalium dalam darah dan menyebabkan kerusakan ginjal.
  • Zidovudin.
    Penggunaan bersama zidovudin menyebabkan gangguan perdarahan.
  • Digoxin, lithium, methotrexate, pemetrexed, dan phenytoin.
    Penggunaan bersama obat di atas dapat menyebabkan terjadinya keracunan.
  • Colestipol dan cholestyramine.
    Obat ini dapat menyebabkan penurunan kadar dan efektivitas erphaflam dalam mengatasi peradangan.
  • Aspirin, antiplatelet, dan antikoagulan, seperti warfarin.
    Penggunaan bersama obat di atas dapat menyebabkan luka pada saluran pencernaan dan meningkatkan risiko terjadinya perdarahan.

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutkan konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa mengonsumsi obat, cobalah menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau mintalah bantuan orang lain mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian sesuai kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Hentikan penggunaan dan hubungi dokter jika Anda mengalami:

  • Ruam pada kulit.
  • Gejala flu.
  • Terjadi masalah pada jantung, seperti pembengkakan, peningkatan berat badan secara cepat, dan sesak napas.
  • Masalah ginjal, seperti sedikit atau tidak buang air kecil, nyeri saat buang air kecil, bengkak di lengan atau kaki, serta merasa lelah atau sesak napas.
  • Masalah hati, seperti mual, diare, sakit perut di sisi kanan atas, kelelahan, gatal, urine gelap, dan kulit atau mata menguning.
  • Terjadi tanda-tanda perut berdarah, seperti feses berdarah, batuk darah, atau muntah yang terlihat seperti bubuk kopi.

Sesuai kemasan per November 2019

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-5988-6186/diclofenac-potassium-oral/diclofenac-oral/details
Diakses pada 10 Desember 2020

Drugs. https://www.drugs.com/diclofenac.html
Diakses pada 10 Desember 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-4284-4049/diclofenac-oral/diclofenac-sodium-enteric-coated-tablet-oral/details
Diakses pada 10 Desember 2020

NHS. https://www.nhs.uk/medicines/diclofenac/
Diakses pada 10 Desember 2020

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a689002.html
Diakses pada 10 Desember 2020

Drugs. https://www.drugs.com/drug-interactions/diclofenac.html
Diakses pada 10 Desember 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email