no-image-drug
Golongan obat Merah Obat keras: diharuskan menggunakan resep dokter.
Kemasan 1 box isi 5 strip @ 10 tablet (100 mg)
Produsen Actavis
Dumoxin tablet adalah obat untuk mengatasi infeksi baketri seperti penyakit menular seksual gonore tanpa komplikasi, sifilis, demam kambuh dan tifus, jerawat, dan infeksi gusi (periodontitis). Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Dumoxin tablet menganduk doksisiklin sebagai zat aktifnya.

Doksisiklin atau obat antibiotik golongan tetrasiklin diindikasikan untuk pengobatan berbagai infeksi oleh bakteri gram positif dan gram negatif, aerob dan anaerob, seperti:

  • Infeksi yang rentan terhadap antibiotik doksisiklin.
  • Penyakit menular seksual kencing nanah (gonore) tanpa komplikasi.
  • Peradangan pada testis (epididimo-orkitis) akibat infeksi Chlamydia trachomatis atau Neisseria gonorrhoeae.
  • Penyakit menular seksual sifilis.
  • Demam kambuh dan tifus yang ditularkan melalui kutu.
  • Pencegahan (profilaksis) tifus.
  • Serangan malaria falciparum akut yang resisten terhadap klorokuin.
  • Pencegahan (profilaksis) malaria.
  • Pengobatan dan pencegahan (profilaksis) antraks inhalasi.
  • Pencegahan (profilaksis) diare saat perjalanan.
  • Pencegahan (profilaksis) leptospirosis.
  • Infeksi gusi (periodontitis).

Doksisiklin 100 mg.

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Infeksi yang rentan terhadap antibiotik doksisiklin: 200 mg pada hari pertama, kemudian pada hari berikutnya 100 mg/hari.
  • Infeksi berat: 200 mg/hari.
  • Penyakit menular seksual kencing nanah (gonore) tanpa komplikasi: 100 mg/hari sebanyak 2 kali/hari selama 7 hari.
  • Peradangan ada testis (epididimo-orkitis) akibat infeksi Chlamydia trachomatis atau Neisseria gonorrhoeae: 100 mg sebanyak 2 kali/hari selama 10 hari.
  • Penyakit menular seksual sifilis: 300 mg/hari dikonsumsi selama setidaknya 10 hari.
  • Demam kambuh dan tifus yang ditularkan melalui kutu: 100 mg atau 200 mg sebagai dosis tunggal.
  • Pencegahan (profilaksis) tifus: 200 mg sebagai dosis tunggal.
  • Serangan malaria Falciparum akut yang resisten terhadap klorokuin:
    • Kombinasi dengan kina: 200 mg/hari selama minimal 7 hari.
  • Pencegahan (profilaksis) malaria: 100 mg/hari.
  • Pengobatan dan pencegahan (profilaksis) antraks inhalasi: 100 mg sebanyak 2 kali/hari selama 60 hari.
  • Pencegahan (profilaksis) diare saat perjalanan: 200 mg/hari saat awal perjalanan, kemudian 100 mg/hari.
  • Pencegahan (profilaksis) leptospirosis: 200 mg/minggu selama perjalanan, kemudian 200 mg pada hari terakhir perjalanan.
  • Jerawat: 50 mg / hari selama 6-12 minggu.
  • Infeksi gusi (periodontitis): 20 mg/hari sebanyak 2 kali/hari selama 30 hari.
Dikonsumsi dengan atau tanpa makanan, tablet ditelan utuh dengan segelas penuh air dengan keadaan badan tegak selama 30 menit. Konsumsi makanan atau susu jika terjadi gangguan pencernaan.
  • Diare.
  • Sakit perut atau gangguan pencernaan.
  • Pertumbuhan mikroba yang berlebihan seperti jamur.
  • Nafsu makan berkurang.
  • Perubahan warna gigi.
  • Sakit kepala.
    Cobalah beristirahatlah dan minum banyak air, konsumsi obat penghilang rasa sakit seperti parasetamol dan ibuprofen.
  • Mual dan muntah.
    Konsumsi makanan yang ringan dan tidak pedas, konsumsi doksisiklin setelah makan tapi hindari produk susu, keju, dan yoghurt karena produk susu dapat menghentikan tubuh absorpsi obat. Minumlah banyak cairan, seperti air atau mengonsumsi buah labu untuk menghindari dehidrasi yang ditandai dengan urin yang lebih sedikit dari biasanya atau memiliki urin yang berbau kuat. Jangan minum obat apa pun untuk mengobati muntah tanpa konsultasi dengan apoteker atau dokter Anda
  • Sensitif terhadap sinar matahari.
    Gunakan kacamata hitam dan pakaian yang menutupi kulit Anda. Gunakan tabir surya pada kulit Anda dengan faktor perlindungan matahari (SPF) minimal 15 (jika Anda memiliki kulit putih, Anda mungkin membutuhkan jumlah yang jauh lebih tinggi dari ini). Gunakan juga produk tabir surya pada bibir Anda.
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini.
  • Anak-anak usia 8 tahun di bawah (kecuali untuk pengobatan antraks).
  • Wanita hamil dan ibu menyusui.
  • Penggunaan metoksifluran.
  • Pasien dengan gangguan hati dan ginjal.
  • Pasien yang memiliki penyakit autoimun seperti lupus.
  • Pasien dengan kondisi lemah otot (myasthenia gravis).
  • Pasien yang memiliki penyakit kelamin yang berdampingan.
  • Pasien dengan kondisi lemah otot (myasthenia gravis).
  • Pasien yang memiliki gangguan ginjal dan hati.
    • Berpotensi Fatal: Penggunaan bersamaan dengan metoksifluran.
      Penggunaan bersama doksisiklin dapat menyebabkan toksisitas ginjal.
    • Kontrasepsi oral.
      Penggunaan bersama doksisiklin meningkatan risiko pendarahan.
    • Obat antikoagulan seperti warfarin.
      Penggunaan bersama doksisiklin meningkatkan risiko pendarahan.
    • Obat antasida yang mengandung Al, Ca atau Mg, Zn, garam Fe, sediaan bismut, karbamazepin, fenobarbital, fenitoin, dan primidon, siklosporin.
      Penggunaan bersama doksisiklin menurunkan metabolisme dari masing-masing obat tersebut.
    • Obat-obatan yang menginduksi enzim hati seperti rifampisin.
      Penggunan bersama doksisiklin dapat menurunkan paruh doksisiklin.
Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/doxycycline/Diakses pada 3 Agustus 2020MMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/doxycyclineDiakses pada 3 Agustus 2020Drugbank. https://www.drugbank.ca/drugs/DB00254Diakses pada 3 Agustus 2020

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus tetap sesuai dengan anjuran dokter.