Dolofen-F kapsul adalah obat untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang dan menurunkan demam.
Golongan obat Merah Obat keras: diharuskan menggunakan resep dokter.
Kemasan 1 box isi 10 strip @ 10 kapsul (400 mg)
Produsen Supra Ferbindo Farma
Dolofen-F kapsul adalah obat untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang seperti sakit gigi dan sakit kepala, serta menurunkan demam. Obat ini merupakan golongan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Dolofen-F kapsul mengandung zat aktif ibuprofen.

Ibuprofen adalah obat penghambat non-selektif dari enzim siklooksigenase (COX), yang dibutuhkan tubuh untuk produksi prostaglandin atau senyawa yang menyebabkan terjadinya peradangan melalui jalur asam arakidonat. COX diperlukan untuk mengubah asam arakidonat menjadi prostaglandin H2 (PGH2). Ibuprofen bekerja dengan menghambat produksi prostaglandin, sehingga obat ini mampu mengatasi berbagai gejala dari peradangan tersebut, seperti:

  • Meringankan sakit gigi.
  • Meredakan sakit kepala.
  • Mengatasi nyeri pada punggung.
  • Meredakan nyeri yang disebabkan karena peradangan sendi (arthritis).
  • Menurunkan demam.
  • Meringankan nyeri haid (dismenore).
  • Mengatasi nyeri pada otot.

Ibuprofen 400 mg.

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa: 200-400 mg/4-6 jam.

Dosis maksimal: 3,2 g/hari.

Sebaiknya dikonsumsi dengan makanan.
  • Nyeri pada perut bagian atas.
  • Diare.
  • Gangguan fungsi hati.
  • Anemia.
  • Penglihatan kabur.
  • Kesulitan buang air besar (konstipasi).
  • Pusing.
  • Meningkatkan tekanan darah menjadi tinggi atau di atas normal (hipertensi).
  • Telinga berdering (tinnitus).
  • Gangguan perubahan mood.
  • Leher terasa kaku.
  • Urin berwarna gelap.
  • Perubahan warna pada kulit dan sklera mata yang menjadi kekuningan.
  • Reaksi alergi seperti gatal dan ruam pada kulit.
  • Reaksi alergi berat (reaksi anafilaksis).
  • Dapat meningkatkan kadar kalium dalam darah (hiperkalemia).
  • Pembengkakan akibat adanya penumpukan cairan pada jaringan (edema).
  • Kegagalan sumsum tulang membentuk granulosit (agranulositosis).
  • Penurunan kadar trombosit dalam darah (trombositopenia).
  • Kegagalan sumsum tulang memproduksi sel darah baru (anemia aplastik).
  • Sakit kepala.
    Pastikan untuk beristirahat yang cukup dan mengonsumsi banyak cairan, hindari konsumsi alkohol. Namun, jika sakit kepala tidak hilang selama lebih dari 1 minggu atau sakit kepala menjadi lebih parah, segera hubungi dokter Anda.
  • Pusing.
    Hentikan aktivitas kemudian duduk atau berbaring hingga Anda merasa membaik. Hindari mengonsumsi kopi, rokok, dan alkohol. Jika pusing tidak membaik dalam beberapa hari, segera hubungi dokter atau apoteker Anda.
  • Mual.
    Hindari mengonsumsi makanan terlalu banyak dan hindari mengonsumsi makanan pedas.
  • Muntah.
    Minumlah air dalam jumlah sedikit dan minumlah sesering mungkin. Namun, jika Anda mengalami gejala dehidrasi seperti mengeluarkan urin berwarna gelap dan memiliki bau yang kuat, segera hubungi dokter Anda.
  • Buang angin.
    Hindari mengonsumsi makanan yang mengandung gas seperti bawang dan kacang-kacangan. Dapat juga mengonsumsi obat seperti karbon aktif atau simetikon.
  • Gangguan pada saluran pencernaan.
    Jika mengalami gangguan pada saluran pencernaan secara berulang, hentikan mengonsumsi ibuprofen dan segera hubungi dokter Anda. Untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada perut dalam sementara dapat mengonsumsi antasida.
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini (ibuprofen) atau obat antiinflamasi non-steroid (NSAID) lainnya.
  • Pasien dengan riwayat gangguan perdarahan pada saluran pencernaan.
  • Pasien penderita luka pada saluran pencernaan.
  • Pasien penderita gagal jantung atau pasien yang telah menjalani operasi bypass.
  • Pasien penderita gagal ginjal atau hati.
  • Wanita hamil pada trimester ketiga.
  • Pasien yang mengalami serangan jantung.
  • Pasien penderita tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Pasien yang memiliki kadar lemak yang tinggi dalam darah (hiperlipidemia).
  • Pasien penderita kencing manis (diabetes melitus).
  • Pasien yang mengalami perdarahan pada saluran pencernaan.
  • Pasien penderita anemia.
  • Pasien yang mengalami stroke.
  • Pasien penderita gagal jantung.
  • Pasien penderita asma.
  • Pasien lanjut usia.
  • Pasien yang mengonsumsi obat antiinflamasi non-steroid lain, obat pengencer darah, dan obat yang menghambat pembekuan pada darah (antikoagulan).
  • Tidak untuk penggunaan jangka panjang.
  • Anak-anak terutama bayi yang lahir prematur.
    • Obat antiinflamasi non-steroid lain seperti aspirin, obat penghambat pembekuan darah (antikoagulan) seperti warfarin, dan obat kortikosteroid.
      Penggunaan bersama salah satu obat tersebut dapat menyebabkan peningkatan risiko terjadinya luka dan perdarahan pada saluran pencernaan.
    • Siklosporin dan takrolimus.
      Penggunaan ibuprofen bersama dengan obat tersebut dapat menyebabkan terjadinya risiko peningkatan kadar kalium dalam darah dan menyebabkan toksisitas pada ginjal.
    • Metotreksat dan lithium.
      Penggunaan bersama ibuprofen dapat menyebabkan risiko terjadinya keracunan.
    • Lisinopril, kaptopril, dan ramipril.
      Ibuprofen dapat mengurangi efektivitas obat antihipertensi tersebut.
Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/ibuprofen-for-adults/Diakses pada 20 Juli 2020MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/ibuprofenDiakses pada 20 Juli 2020WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-5166-9368/ibuprofen-oral/ibuprofen-oral/detailsDiakses pada 20 Juli 2020Medline Plus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a682159.htmlDiakses pada 20 Juli 2020

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus tetap sesuai dengan anjuran dokter.

Artikel Terkait