Diltiazem termasuk obat golongan calcium channel blocker yang dapat mengatasi hipertensi
Perasaan yang ditimbulkan dari kondisi medis nyeri dada atau angina adalah sesak napas

Cordila SR, Dilmen, Diltiazem, Farmabes, Herbesser, Dilbres, Cordizem, Dilitiazem

Diltiazem merupakan obat salah satu pilihan obat yang direkomendasikan untuk mengobati pasien hipertensi dengan nyeri dada (angina). Dengan berolahraga secara rutin akan menurunkan risiko serangan angina.

Diltiazem termasuk golongan calcium channel blocker. Obat ini menghambat masuknya kalsium dengan berikatan pada kanal kalsium L-type pada jantung dan otot polos dari pembuluh darah koroner dan arteri perifer.

Diltiazem (Diltiasem)
Golongan

Penghambat kanal kalsium (Calcium channel blocker)

Kategori obat

Obat Bebas

Bentuk sediaan obat

Tablet, kapsul dan infus

Dikonsumsi oleh

Dewasa dan anak-anak

Kategori kehamilan dan menyusui

Kategori C: Penelitian pada hewan percobaan menunjukkan efek buruk terhadap janin dan tidak ditemukan studi yang memadai pada manusia. Namun, mengingat efektivitasnya, penggunaannya dapat dipertimbangkan pada wanita hamil sekalipun berisiko.

Dosis obat

Dosis setiap orang pasti berbeda-beda. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat.

Infus
Aritmia jantung

  • Dewasa: Awalnya, 250 mcg/kg melalui bolus IV selama 2 menit, dapat diberikan dosis tambahan 350 mcg/kg setelah 15 menit jika diperlukan. Selanjutnya dosis disesuaikan pada masing-masing individu. Pada pasien dengan Atrial fibrilasi atau flutter: Awalnya, infus dengan kecepatan 5-10 mg/jam, dapat dinaikkan secara bertahap dengan menambahkan 5 mg/jam sampai 15 mg/jam dilanjutkan hingga 24 jam.

Oral
Angina Pectoris

  • Dewasa: Awalnya, 60 mg tiga kali sehari, dinaikkan hingga 360 mg per hari atau dinaikkan hingga 480 mg per hari jika diperlukan.
  • Lansia: Awalnya, 120 mg per hari dalam dosis tunggal atau dibagi dalam 2 dosis. Dapat dinaikkan dengan hati-hati jika denyut nadi >50 kali/menit.

Hipertensi

  • Dewasa: Awalnya, 90-120 mg dua kali sehari, ditingkatkan hingga maksimal 360 mg per hari jika dibutuhkan.
  • Lansia: Awalnya, 120 mg per hari dalam dosis tunggal atau dibagi dalam 2 dosis. Dapat dinaikkan dengan hati-hati jika denyut nadi >50 kali/menit.

Selalu ikuti anjuran dari dokter atau baca petunjuk di kemasan obat Diltiazem sebelum mengonsumsi.

Obat ini dapat dikonsumsi dengan makan atau tanpa makan atau sesuai saran dari dokter. Biasanya dikonsumsi tiga hingga empat hari sekali. Tablet harus ditelan utuh jangan dihancurkan atau dikunyah karena dapat meningkatkan resiko efek samping.

Dosis akan diberikan sesuai kondisi medis. Dosis awal yang diberikan adalah dosis rendah kemudian dinaikkan secara bertahap. Selalu ikuti perintah dari dokter agar mendapat hasil yang baik.

Beri tahu dokter jika keadaan semakin memburuk.

Efek samping belum tentu terjadi di setiap pemakaian obat akan tetapi jika terjadi efek samping yang berlebihan, harus langsung ditangani oleh medis.

Obat Diltiazem dapat menyebabkan efek samping yang sering terjadi jika dikonsumsi seperti:

  • Pusing, kepala terasa ringan, lemas, dan nyeri kepala
  • Gangguan saluran cerna: anoreksia, mual, muntah, konstipasi, diare, gangguan pengecap, kenaikan berat badan
  • Hipotensi
  • Pingsan
  • AV blok, bradikardia
  • Edema pada pergelangan kaki

Jika efek samping semakin memburuk segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan medis.

Ada beberapa efek samping lain yang belum terdaftar. Jika Anda mempunyai efek lain seperti di atas , tanyakan kepada profesional perawatan kesehatan Anda.

Konsultasi dengan dokter terlebih dahulu atau jika Anda memiliki kondisi medis seperti:

  • Gangguan ginjal dan hati
  • Kardiomiopati obstruktif hipertrofik, disfungsi ventrikel kiri
  • Lansia, kehamilan dan menyusui

Jangan mengonsumsi obat ini jika mempunyai kondisi medis seperti:

  • Sick-sinus syndrome
  • AV blok derajat 2 atau 3 yang menetap, takikardi ventrikuler, gagal jantung
  • Infark miokard akut dan kongesti paru.
  • Hipotensi berat atau syok kardiogenik
  • Penggunaan bersamaan dengan beta bloker intravena

Informasi lebih lengkap bisa dilihat melalui kemasan.

Interaksi pada obat mungkin akan terjadi jika mengonsumsi beberapa obat secara bersamaan. Jika ingin menggunakan obat secara bersamaan harap konsultasi ke dokter Anda. Dokter akan mengganti dosis obat tersebut.

Mengonsumsi obat Diltiazem dengan obat lain secara bersamaan dapat menyebabkan beberapa interaksi seperti:

  • Dapat menyebabkan meningkatnya efek antihipertensi dengan antihipertensi lain seperti aldesleukin, antipsikotik.
  • Dapat menyebabkan meningkatnya kadar serum dengan mengonsumsi simetidin.
  • Dapat menyebabkan meningkatnya efek bradikardi dari amiodarone, digoxin, mefloquine.
  • Dapat meningkatkan kadar serum obat golongan statin (atorvastatin, lovastatin), carbamazepin, fenitoin.

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis langsung dengan dokter, atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus dengan resep dokter. Ketersediaan obat tergantung pada indikasi yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/diltiazem-oral-route/before-using/drg-20071775
Diakses pada 2 November 2018

MIMS.  http://mims.com/indonesia/drug/info/diltiazem/?type=brief&mtype=generic
Diakses pada 2 November 2018

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-3783-276/diltiazem-oral/diltiazem-tablet-oral/details
Diakses pada 2 November 2018

Artikel Terkait