no-image-drug
Golongan obat Merah Obat keras: diharuskan menggunakan resep dokter.
HET Rp 720.451/botol per Juni 2020
Kemasan 1 botol @ 100 kapsul (100 mg)
Produsen Pfizer

Dilantin kapsul digunakan untuk mengendalikan kejang, mengobati kejang yang terjadi selama atau sesudah pembedahan atau cedera kepala. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Dilantin kapsul mengandung zat aktif natrium fenitoin yang bekerja dengan memperlambat impuls diotak yang menyebabkan kejang.

  • Mengendalikan kejang pada seluruh tubuh yang kadang disertai dengan mulut berbusa (kejang grand mal).
  • Mencegah dan mengobati kejang yang terjadi pada:
    • Selama atau setelah pembedahan saraf atau cedera kepala yang parah.
    • Sakit kepala yang terasa berdenyut, dan biasanya terjadi pada satu sisi kepala saja (migrain).
    • Kondisi nyeri kronis yang memengaruhi saraf trigeminal (neuralgia trigeminal psikosis).
    • Gangguan irama jantung (aritmia jantung).
    • Intoksikasi digitalis.
    • Setelah terapi serangan jantung (infark miokard).

Natrium fenitoin 100 mg.

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Dewasa:
    • Dosis awal: 100 mg sebanyak 3 kali/hari.
    • Dosis pemeliharaan: 300-400 mg sebanyak 3 kali/hari.
  • Anak-anak:
    • Dosis awal: 5 mg/kg BB/hari terbagi dalam 2-3 dosis. Dihitung dengan mengalikan berat badan pasien.
    • Dosis maksimal: 300 mg/hari.

Sebaiknya dikonsumsi dengan makanan. Kapsul ditelan secara utuh.

  • Penurunan tekanan darah (hipotensi).
  • Kondisi bola mata yang bergerak cepat dan tidak terkendali. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan seperti pandangan yang kabur atau tidak fokus (nistagmus).
  • Bicara tidak jelas.
  • Penurunan koordinasi.
  • Kekacauan mental.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Kesulitan buang air besar (konstipasi).
  • Pusing.
  • Sakit kepala di mana penderita mengalami persepsi gerakan yang tidak semestinya (vertigo).
  • Gangguan kesulitan tidur (insomnia).
  • Kepanikan.
  • Sakit kepala.
  • Kesemutan (paresthesia).
  • Penurunan kesadaran (somnolen).
  • Kulit wajah kering.
  • Pembesaran pada bibir.
  • Peradangan pada gingiva (hiperplasia gingival).
  • Kondisi langka yang ditandai dengan pertumbuhan rambut secara berlebihan (hipertrikosis).
  • Kondisi ketika bentuk penis tampak menekuk, umumnya ke atas atau ke samping (penyakit peyronie).
  • Kondisi saat jumlah keping darah (trombosit) rendah, di bawah nilai normal (trombositopenia).
  • Kondisi rendahnya jumlah sel darah putih di dalam tubuh (leukopenia).
  • Kegagalan sumsum tulang membentuk granulosit (agranulositosis).
  • Pengurangan signifikan jumlah eritrosit, semua jenis sel darah putih dan trombosit di sirkulasi darah (pansitopenia) dengan atau tanpa supresi sumsum.
  • Suatu keadaan pembesaran ukuran dari sel darah merah (makrositosis).
  • Kurangnya sel darah merah dalam tubuh akibat sumsum tulang menghasilkan sel darah merah yang belum matang dengan struktur abnormal dan berukuran terlalu besar (anemia megaloblastik).
  • Salah satu jenis kanker yang terjadi di sel limfosit (limfoma).
  • Penyakit kanker yang menyerang kelenjar getah bening (hodgkin).
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini.
  • Pasien dengan kondisi di mana detak jantung mengalami perlambatan (sinus bradikardi).
  • Kelainan pada irama jantung normal, yang dikenal sebagai blok jantung, yang dimulai pada simpul sinoatrial (sinoatrial blok).
  • AV blok tingkat 2 dan 3.
  • Sindrom yang menyebabkan kehilangan kesadaran karena berkurangnya aliran darah ke otak yang diakibatkan karena berkurangnya darah yang dipompa oleh bilik jantung (sindrom Adam-Stokes).
  • Wanita hamil pada trimester pertama.
  • Pasien dengan gangguan fungsi miokardia berat.
  • Pasien dengan gangguan fungsi hati.
  • Pasien penderita kelainan genetik yang timbul akibat proses pembentukan heme yang tidak sempurna (pofiria).
  • Pasien penderita tekanan darah rendah (hipotensi).
  • Hindari penghentian terapi secara mendadak
  • Hentikan penggunaan jika terjadi reaksi alergi.
  • Dapat menyebabkan gangguan fungsi pada ligamen, otot, saraf, sendi dan tendon, serta tulang belakang (gangguan muskuloskeletal).
  • Dapat mengganggu kemampuan mengemudi atau menjalankan mesin.
  • Alkohol
  • Zapropazon.
  • Fenilbutazon.
  • Salisilat.
  • Halothan.
  • Kloramfenikol.
  • Eritromisin.
  • Isoniazid.
  • Sulfadiazin.
  • Sulfametizol.
  • Sulfametksazol-trimethoprim.
  • Sulfafenazol.
  • Sulfisoxazol.
  • Sulfonamid.
  • Felbamat.
  • Oksakarbazepin.
  • Na valproate.
  • Succinimides.
  • Topiramat.
  • Amfoterisin B.
  • Flukonazol.
  • Itrakonazol-ketokonazol.
  • Mikonazol.
  • Vorikonazol.
  • Fluorourasil.
  • Capecitabin.
  • Klordiazepoksid.
  • Diazepam.
  • Disulfiram.
  • Metilfenidat.
  • Trazodone.
  • Viloxazine.
  • Amiodarone.
  • Dikumarol.
  • Diltiazem.
  • Nifedipin.
  • Tiklopidin.
  • Simetidin.
  • Fluvastatin.
  • Estrogens.
  • Takrolimus.
  • Tolbutamid.
  • Omeprazol.
  • Fluoksetin.
  • Fluvoksamin.
  • Sertralin.
  • Vitamin D.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/dilantin
Diakses pada 18 Juni 2020

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus tetap sesuai dengan anjuran dokter.