Diflam tablet adalah obat untuk mengatasi nyeri dan mengurangi peradangan sendi.
Golongan obat Merah Obat keras: diharuskan menggunakan resep dokter.
Kemasan 1 box isi 5 strip @ 10 tablet (50 mg)
Produsen Interbat
Diflam tablet adalah obat untuk mengatasi nyeri ringan hingga sedang dan mengurangi peradangan pada sendi. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Diflam tablet mengandung zat aktif kalium diklofenak.

Mengatasi nyeri dan peradangan seperti pada:

  • Gejala peradangan sendi akibat sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringannya sendiri (rheumatoid arthritis).
  • Peradangan sendi yang disebabkan karena terjadinya gesekan pada ujung tulang penyusun sendi (osteoarthritis).
  • Nyeri akibat terjadinya gangguan fungsi otot, tendon, tulang belakang, dan ligamen (muskuloskeletal).
  • Peradangan pada sendi bagian punggung yang menyebabkan nyeri dan kaku pada punggung belakang (spondilitis ankilosis).

Kalium diklofenak merupakan obat yang mampu mengatasi nyeri, obat ini bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenasi (COX) yang dapat membentuk prostaglandin saat terjadi luka dan peradangan, dengan terhambatnya enzim siklooksigenasi maka prostaglanding yang diproduksi akan berkurang dan nyeri serta peradangan juga akan berkurang.

Kalium diklofenak 50 mg.

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa:

  • Dosis awal: 100-150 mg/hari dikonsumsi dalam 2-3 dosis terbagi.

Anak-anak 14 tahun ke atas:

  • Kasus ringan: 75-100 mg/hari dikonsumsi dalam 2-3 dosis terbagi.
Sebaiknya dikonsumsi dengan makanan atau dikonsumsi sesudah makan.
  • Sakit perut, kembung, atau kehilangan nafsu makan.
    Hindari makanan yang mengandung gas seperti kacang polong, bawang merah, dan kacang-kacangan. Konsumsi makanan dalam jumlah sedikit, makan dan minum secara perlahan, dan olahraga secara teratur.
  • Pusing atau sakit kepala hingga membuat pasien merasa seperti sekelilingnya berputar (vertigo).
    Hentikan aktivitas yang dilakukan dan duduk atau berbaring hingga merasa lebih baik. Jangan mengemudi kendaraan atau menjalankan mesin jika Anda merasa pusing atau pusing. Efek samping ini akan hilang ketika sudah terbiasa mengonsumsi diklofenak.
  • Sakit kepala.
    Berisitirahat dan konsumsi banyak cairan. Jangan minum alkohol terlalu banyak dan minta rekomendasi obat penghilang rasa sakit kepada apoteker anda. Sakit kepala biasanya hilang setelah minggu pertama minum diklofenak. Jika sakit kepala bertahan selama satu minggu lebih atau bahkan semakin memburuk, segera hubungi dokter Anda.
  • Mual.
    Cobalah untuk konsumsi diklofenak sesudah makan. Hindari makan terlalu banyak dan hindari makanan pedas.
  • Muntah atau diare.
    Konsumsi banyak air atau cairan. Hubungi dokter jika mengalami tanda dehidrasi seperti urin berkurang, urin berwarna gelap, dan berbau kuat. Jangan mengonsumsi obat lain tanpa konsultasi ke dokter atau apoteker.
  • Telinga berdering (tinnitus).
  • Kesulitan buang air besar (konstipasi).
  • Rasa tidak nyaman pada perut (dispepsia).
  • Kehilangan nafsu makan (anoreksia).
  • Gangguan kesulitan tidur (insomnia).
  • Penurunan tekanan darah hingga di bawah batas normal (hipotensi).
  • Gangguan fungsi hati.
  • Luka pada saluran pencernaan.
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap diklofenak atau NSAID lain.
  • Pasien dengan riwayat asma.
  • Pasien penderita gagal jantung sedang hingga berat.
  • Pasien penderita penyempitanpembuluh darah arteri pada jantung atau penyakit jantung iskemik.
  • Pasien penderita penyakit dimana terjadinya sumbatan aliran darah akibat penyempitan pembuluh darah (arteri perifer).
  • Pasien penderita penyakit serebrovaskular.
  • Pasien yang mengonsumsi obat antiplatelet, antikoagulan, dan NSAID.
  • Pasien yang memiliki luka pada saluran pencernaan.
  • Pasien yang sedang menjalani perawatan CABG.
  • Pasien penderita gangguan hati atau ginjal berat.
  • Wanita hamil pada trimester ketiga.
  • Pasien yang memiliki kadar lemak tinggi dalam darah (hiperlipidemia).
  • Pasien yang mengalami asma, peradangan pada rongga hidung (rhinitis), peradangan paru yang dapat berkembang dalam jangka waktu panjang (PPOK), infeksi saluran pernapasan, lupus eritematous sistemik (SLE), gangguan jaringan ikat campuran, gangguan pembentukan heme (porfiria), penyakit mata termasuk infeksi pada mata.
  • Pasien dengan riwayat perdarahan pada saluran pencernaan atau luka pada lambung dan usus.
  • Gangguan pembekuan darah yang mengakibatkan perdarahan yang berlebihan (koagulopati).
  • Pasien dengan tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Pasien penderita penyakit jantung iskemik.
  • Pasien penderita kencing manis (diabetes melitus).
  • Pasien yang mengalami dehidrasi.
  • Pasien yang mengalami kekurangan kadar kalium dalam tubuh (hipovolemia).
  • Pasien penderita gangguan hati dan ginjal.
  • Anak-anak.
  • Wanita hamil pada trimester kedua.
  • Ibu menyusui.
  • Pasien yang merokok.
  • Vorikonazol.
    Kalium diklofenak dapat meningkatkan konsentrasi puncak plasma jika dikonsumsi dengan penghambat CYP2C9 seperti vorikonazol.
  • Kolestipol dan kolestiramin.
    Natrium diklofenak dapat menyebabkan penurunan efektivitas obat kolestipol dan kolestiramin.
  • Digoksin, lithium, metotreksat, dan fenitoin.
    Obat di atas dapat meningkatkan kadar obat dan risiko terjadinya toksisitas atau keracunan.
  • Inhibitor ACE, diuretik, siklosporin, dan takrolimus.
    Obat di atas dapat meningkatkan risiko terjadinya peningkatan kadar kalium dalam darah dan menyebabkan gangguan ginjal.
  • Mefiproston.
    Natrium diklofenak dapat mengurangi efek mifepriston.
  • NSAID lain, obat penghambat pembekuan darah, dan obat pengencer darah.
    Penggunaan bersama natrium diklofenak dapat menyebabkan peningkatan risiko luka dan perdarahan pada saluran pencernaan.
  • Kortikosteroid dan obat SSRI.
    Penggunaan obat di atas dapat meningkatkan risiko terjadinya luka atau perdarahan pada saluran pencernaan.
  • Glikosida jantung.
    Glikosida jantung dapat meningkatkan risiko efek samping terkait dengan gangguan kardiovaskular.
  • Azitromisin.
    Azitromisin dapat meningkatkan terjadnya toksisitas hematologis.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/diflam
Diakses pada 10 Agustus 2020

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/diclofenac
Diakses pada 10 Agustus 2020

Drugs. https://www.drugs.com/diclofenac.htmlDiaskes pada 10 Agustus 2020

Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/diclofenac/
Diakses pada 10 Agustus 2020

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus tetap sesuai dengan anjuran dokter.

Artikel Terkait