Diazepam

02 Mar 2021| Dea Febriyani
Ditinjau oleh Veronika Ginting
Diazepam adalah obat untuk mengatasi gangguan kecemasan dan insomnia serta kejang

Diazepam adalah obat untuk mengatasi gangguan kecemasan dan insomnia serta kejang

Daftar merek obat yang beredar di Indonesia

Prozepam, Valdimex, Trazep, Valisanbe, Valisanbe Injection, Stesolid, Vodin, Diazepam Indo Farma

Deskripsi obat

Diazepam adalah obat untuk mengatasi gangguan kecemasan, kesulitan tidur (insomnia), dan kejang. Selain itu, obat ini juga digunakan untuk menangani gejala putus alkohol akut. Diazepam termasuk dalam golongan obat antikonvulsan, yaitu obat yang berfungsi untuk mengatasi kejang.

Obat ini dapat digunakan bersama obat lain untuk mengontrol kejang otot yang disebabkan gangguan saraf (neurologis) tertentu, seperti kerusakan otak yang menyebabkan keterbatasan dalam bergerak dan menjaga keseimbangan (cerebral palsy), ketidakmampuan menggerakkan bagian tubuh (paraplegia), kontraksi otot yang tidak normal (athetosis), dan kelainan langka dengan kekakuan dan kekakuan otot (stiff-man syndrome).

Diazepam ()
GolonganKelas terapi : Antikonvulsan dan ansiolitik. Klasifikasi Obat : Benzodiazepin.
Kategori obatObat resep
Bentuk sediaan obatTablet, injeksi, suppositoria
Dikonsumsi olehDewasa dan anak-anak
Kategori kehamilan dan menyusuiKategori D: Hasil penelitian menunjukkan bahwa obat ini menimbulkan risiko pada janin manusia.
Dosis obatDosis setiap orang berbeda-beda. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan atau mengonsumsi obat.

Efek samping obat

Setiap penggunaan obat berpotensi menimbulkan efek samping. Jika efek samping memburuk, segera cari bantuan tenaga medis. Efek samping yang mungkin timbul dari pemakaian diazepam, antara lain:

  • Mengantuk.
    Jika Anda merasa mengantuk, jangan mengemudi dan mengoperasikan mesin sampai Anda merasa lebih baik. Jangan minum alkohol karena akan memperparah kondisi Anda.
  • Gangguan pada kandung kemih untuk mengeluarkan urine (retensi urine).
  • Gangguan yang menyebabkan kehilangan ingatan (amnesia).
  • Penurunan tekanan darah tinggi (hipotensi).
  • Ketergantungan (adiksi).
  • Penglihatan kabur.
  • Gangguan mental.
  • Gangguan koordinasi.
  • Kelelahan.
  • Kelemahan otot.
  • Gangguan pernapasan.

Perhatian Khusus

Obat ini tidak dapat digunakan dalam jangka panjang. Beri tahu dokter mengenai riwayat penyakit sebelumnya, terutama jika Anda memiliki riwayat atau kondisi berikut ini.

  • Gangguan mental Obsessive Compulsive Disorder (OCD).
  • Riwayat penyalahgunaan alkohol atau obat.
  • Gangguan pernapasan.
  • Gangguan ginjal dan hati ringan hingga sedang.
  • Kehamilan dan menyusui.
  • Lanjut usia.
  • Penderita epilepsi.
  • Peradangan bagian kornea dan konjungtiva (keratokonjungtivitas vernalis).
  • Bayi baru lahir sampai usia 28 hari (neonatus).

Obat ini tidak digunakan sebagai terapi tunggal untuk depresi dan gangguan kecemasan (ansietas). Informasi lebih lengkap bisa dilihat melalui kemasan.

Penyimpanan

Simpan pada suhu di bawah 25°C dan terlindung dari cahaya matahari langsung.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

Jangan mengonsumsi obat ini jika mempunyai kondisi medis, seperti:

  • Alergi terhadap diazepam atau obat golongan benzodiazepin lainnya.
  • Keadaan mental terganggu, seperti delusi atau halusinasi (psikosis berat),
  • Bayi prematur atau baru lahir.
  • Gangguan fungsi hati atau ginjal yang berat.
  • Penderita asma akut.
  • Mengalami kelemahan otot (myasthenia gravis).
  • Kehamilan trimester pertama.
  • Mengalami peningkatan tekanan bola mata menjadi terlalu tinggi (glaukoma sudut sempit).

Kategori kehamilan & menyusui

Kategori D: Hasil penelitian menunjukkan bahwa obat ini menimbulkan risiko pada janin manusia.
Penggunaan pada ibu hamil dapat dipertimbangkan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin.
Misalnya, bila obat dibutuhkan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa atau penyakit serius, di saat obat lain tidak efektif atau tidak bisa diberikan.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Jangan hentikan penggunaan obat ini secara tiba-tiba karena bisa mengalami peningkatan kejang atau gejala penghentian yang tidak menyenangkan. Tanyakan kepada dokter Anda cara berhenti menggunakan obat ini dengan aman.

Segera hubungi dokter jika Anda mengalami:

  • Pernapasan melemah atau menjadi pendek.
  • Timbul rasa kantuk parah atau perasaan seperti akan pingsan.
  • Suasana hati tertekan serta  muncul pikiran untuk bunuh diri atau menyakiti diri sendiri.
  • Kebingungan dan halusinasi.
  • Kecemasan, serangan panik, dan kesulitan tidur.
  • Perilaku pengambilan risiko yang tidak biasa.
  • Timbul kejang baru atau kejang yang memburuk.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

Interaksi pada obat mungkin akan terjadi jika mengonsumsi beberapa obat secara bersamaan. Jika ingin menggunakan obat secara bersamaan harap konsultasi ke dokter Anda, dokter akan mengganti dosis obat tersebut.

Mengonsumsi obat diazepam dengan obat lain bersamaan dapat menyebabkan beberapa interaksi, seperti:

  • Zidovudin.
    Penggunaan zidovudin bersama diazepam meningkatkan risiko kantuk berkepanjangan.
  • Sodium oksibat.
    Penggunaan obat di atas bersama diazepam meningkatkan efek antidepresan obat sistem saraf pusat (SSP).
  • Lofeksidin, nabilon, simetidin, isoniazid, eritromisin, omeprazol, dan ketokonazol.
    Diazepam dapat meningkatkan efektivitas obat di atas, sehingga dapat meningkatkan risiko efek samping.
  • Obat untuk mengatasi tuberkulosis, seperti (rifampicin) serta obat untuk mengatasi kejang, seperti carbamazepin dan phenytoin.
    Diazepam dapat menurunkan efektivitas obat di atas.
  • Obat untuk mengatasi gangguan mental seperti halusinasi (antipsikotik), obat untuk mengatasi gangguan kecemasan (ansiolitik), obat untuk mengatasi kejang (antikonvulsan), obat untuk mengatasi alergi (antihistamin), obat untuk mengatasi depresi (MAO inhibitor), obat untuk mati rasa (anestetik), dan obat penenang (barbiturat.
    Penggunaan obat di atas bersama diazepam dapat meningkatkan efektivitas obat-obatan tersebut, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya efek samping
  • Obat opioid.
    Penggunaan obat di atas bersama diazepam menyebabkan kantuk, depresi pernapasan, koma, dan kematian.
  • Antasida.
    Penggunaan bersama diazepam dapat menghambat penyerapan antasida, sehingga efektivitasnya akan berkurang.

 

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis langsung dengan dokter, atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus dengan resep dokter. Ketersediaan obat tergantung pada indikasi yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/diazepam?mtype=generic
Diakses pada 21 Januari 2021

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-6306/diazepam-oral/details
Diakses pada 21 Januari 2021

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-6306/diazepam-oral/details
Diakses pada 21 Januari 2021

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/diazepam-oral-tablet#about
Diakses pada 21 Januari 2021

Rxlist. https://www.rxlist.com/valium-drug.htm
Diakses pada 21 Januari 2021

NHS. https://www.nhs.uk/medicines/diazepam/
Diakses pada 21 Januari 2021

GlowM. https://www.glowm.com/resources/glowm/cd/pages/drugs/d028.html
Diakses pada 21 Januari 2021

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a682047.html
Diakses pada 21 Januari 2021

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email