no-image-drug
Golongan obat Biru Obat bebas terbatas: Walaupun dapat dibeli tanpa resep dokter, namun aturan pakai serta efek sampingnya harus diperhatikan.
Kemasan 1 box isi 1 botol @ 60 ml
Produsen Phapros

Dextrofen sirup adalah obat untuk mengatasi batuk yang disertai gejala flu. Obat ini termasuk dalam golongan obat bebas terbatas. Dextrofen sirup mengandung zat aktif dekstrometorfan HBr, deksklorfeniramin maleat, dan fenilefrin HCl.
Dekstrometorfan HBr adalah obat untuk mengaasi batuk tidak berdahak dan obat ini mampu menekan batuk. Dekstrometorfan HBr bekerja langsung pada saluran napas dengan menaikkan ambang pusat batuk yang bekerja secara sentral yaitu diotak.
Deksklorfeniramin maleat adalah obat untuk meredakan gejala alergi, obat ini bekerja dengan menghambat produksi histamin dalam tubuh saat mengalami reaksi alergi.
Fenilefrin HCl adalah obat untuk mangobati hidung tersumbat yang bekerja dengan cara menyempitkan pembuluh darah disekitar daerah hidung sehingga mengurangi pembengkakan dan meredakan gejala hidung tersumbat tersebut.

Meredakan batuk yang disertai gejala flu seperti:

Tiap 5 ml:

  • Dekstrometorfan HBr 7,5 mg.
  • Deksklorfeniramin maleat 1 mg.
  • Fenilefrin HCl 5 mg.

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Dewasa: 2 sendok takar 5 ml (10 ml) sebanyak 3-4 kali/hari.

  • Anak-anak:
    • 2-6 tahun: ½ sendok takar 5 ml (2,5 ml) sebanyak 3-4 kali/hari.
    • 6-12 tahun: 1 sendok takar 5 ml sebanyak 3-4 kali/hari.

Dikonsumsi sesuai petunjuk dokter.

  • Mengantuk.
  • Demam.
  • Kesulitan buang air kecil (retensi urin).
  • Gangguan gerakan gemetas yang tidak dapat dikendalikan (tremor).
  • Sakit kepala.
  • Ruam.
  • Reaksi alergi.
  • Keringat berlebih.
  • Tenggorokan dan mulut kering.
  • Penurunan tekanan darah hingga dibawah batas normal (hipotensi).
  • Penyakit kekurangan darah akibat penghancuran sel darah merah lebih cepat dibandingkan pembentukannya (anemia hemolitik).
  • Penurunan kadar trombosit dalam darah (trombositopenia).
  • Kegagalan sumusum tulang membentuk granulosit (agranulositosis).
  • Pusing.
  • Gangguan kesulitan tidur (insomnia).
  • Kesemutan (parestesia).
  • Penglihatan kabur.
  • Kondisi yang membuat penderitanya mengalami pusing, sampai merasa dirinya atau sekelilingnya berputar (vertigo).
  • Telinga berdering (tinnitus).
  • Mual.
  • Diare.
  • Muntah.
  • Kesulitan buang air besar (konstipasi).
  • Kehilangan nafsu makan (anoreksia).
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini.
  • Pasien penderita tekanan darah tinggi yang berat (hipertensi berat).
  • Pasien penderita kencing manis (diabetes melitus).
  • Pasien penderita gangguan fungsi hati.
  • Bayi baru lahir.
  • Bayi yang lahir prematur.
  • Pasien yang mengonsumsi alkohol.
  • Pasien penderita gangguan fungsi hati atau ginjal.
  • Pasien penderita yang mengalami peningkatan tekanan bola mata terlalu tinggi (glaukoma sudut sempit).
  • Pasien yang memiliki luka pada dinding lambung (tukak lambung).
  • Pasien penderita penyumbatan pada saluran kemih.
  • Pasien yang memiliki kadar hormon tiroid yang tinggi dalam tubuh (hipertiroidisme).
  • Dapat mengganggu kemampuan mengemudi atau menjalankan mesin.
  • Kategori kehamilan dan menyusui:
    Kategori C. Penelitian pada hewan percobaan menunjukkan efek buruk terhadap janin dan tidak ditemukan studi yang memadai pada manusia. Namun, mengingat efektivitasnya, penggunaannya dapat dipertimbangkan pada wanita hamil sekalipun berisiko.

Penggunaan bersama penghambat monoamin oksidase seperti furozolidon, linezolid, fenelzin, dan transilpromin dapat meningkatkan tekanan darah.

Everyday Health. https://www.everydayhealth.com/drugs/phenylephrine
Diakses pada 14 Juli 2020

Drugs. https://www.drugs.com/mtm/phenylephrine.html
Diakses pada 14 Juli 2020

Drugs. https://www.drugs.com/dextromethorphan.html
Diakses pada 14 Juli 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-363/dextromethorphan-hbr-oral/details
Diakses pada 14 Juli 2020

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus tetap sesuai dengan anjuran dokter.

Artikel Terkait