Cronase Tablet

22 Des 2020
Cronase tablet adalah obat untuk mengatasi rhinitis alergi dan pilek.

Deskripsi obat

Cronase tablet adalah obat untuk mengatasi gejala rhinitis alergi dan pilek (common cold) seperti hidung tersumbat, bersin, dan rongga hidung dipenuhi lendir (rinorea). Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Cronase tablet mengandung zat aktif loratadin dan pseudoefedrin sulfat.

Cronase Tablet
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
Produk HalalYa
Kandungan utamaLoratadin dan pseudoefedrin sulfat.
Kelas terapiAntihistamin.
Kemasan1 box isi 10 strip @ 10 tablet
ProdusenGlobal Multi Pharmalab

Informasi zat aktif

Loratadin adalah antialergi (antihistamin) dan pseudoefedrin bekerja menyempitkan pembuluh darah (vasokonstriktor), bekerja pada reseptor alfa dan menghasilkan efek melegakan hidung tersumbat (dekongestan) dengan mengecilkan mukosa yang tersumbat di daerah pernapasan bagian atas.

Bedasarkan proses kerja obat dalam tubuh, loratadin dan pseudoefedrin diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diabsorpsi dengan cepat dari saluran cerna. Waktu dimana obat mencapai kadar tertinggi dalam plasma (waktu puncak konsentrasi plasma) dicapai dalam 1 jam, kadar obat yang masuk ke dalam peredaran darah (ketersediaan hayati) meningkat dan waktu puncak konsentrasi plasma tertunda saat dikonsumsi bersama makanan.
  • Distribusi: Ikatan protein plasma loratadin 98% dan desloratadine 73-76%. Loratadin masuk ke dalam ASI, tetapi tidak melewati sawar darah otak secara signifikan. Pseudoefedrin dapat terdistribusi ke dalam ASI, melewati plasenta dan masuk ke cairan di sekitar otak (cerebrospinal).
  • Metabolisme: DImetabolisme di hati.
  • Ekskresi: Diekskresi melalui urin dan feses.

Indikasi (manfaat) obat

  • Mengatasi gejala rhinitis alergi dan pilek (common cold).
  • Rongga hidung dipenuhi lendir (rinorea).
  • Hidung tersumbat.
  • Bersin-bersin.

Loratadin merapakan obat golongan antihistamin kerja panjang yang menghalangi aksi histamin yang menyebabkan beberapa gejala reaksi alergi. Loratadin memblokir satu jenis reseptor histamin (reseptor H1) dan dengan demikian mencegah aktivasi sel dengan reseptor H1 oleh histamin sehingga dapat mengehentikan reaksi alergi yang terjadi. Pseudoefedrin melegakan hidung tersumbat (dekongestan) dengan menyebabkan pembuluh darah menyempit.

Komposisi obat

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa: 1 tablet sebanyak 2 kali/hari.

Aturan pakai obat

Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan dan tablet harus ditelan utuh.

Efek samping obat

  • Sakit kepala.
    Pastikan Anda istirahat dan minum banyak cairan dan jangan minum terlalu banyak alkohol. Mintalah apoteker Anda untuk merekomendasikan obat penghilang rasa sakit, Sakit kepala biasanya akan hilang setelah minggu pertama mengonsumsi gabapentin. Bicaralah dengan dokter Anda jika berlangsung lebih dari seminggu atau parah.
  • Pusing.
    Jika obat ini membuat Anda pusing, hentikan penggunaan, dan duduk atau berbaring sampai Anda merasa lebih baik. Jangan mengemudi, bersepeda, atau menggunakan perkakas atau mesin jika Anda merasa pusing. Jangan minum alkohol karena akan membuat kondisi Anda merasa lebih buruk. Bicaralah dengan dokter jika efek samping ini berlangsung lebih dari beberapa hari.
  • Kesulitan tidur (insomnia).
    Jika Anda mengalami kesulitan tidur (insomnia), beberapa hal sederhana seperti membatasi kafein di sore dan malam hari, menjaga kamar tetap gelap dan tenang, serta tidur dan bangun pada waktu yang ditentukan setiap hari dapat membantu.
  • Mulut kering.
    Cobalah mengunyah permen karet bebas gula atau menghisap permen bebas gula.
  • Tekanan darah rendah ketika seseorang berdiri atau berbaring (hipotensi postural).
  • Perasaan gugup.
  • Mimisan (epistaksis).
  • Peradangan tenggorokan (faringitis).
  • Kelelahan.
  • Detak jantung cepat (takikardia).
  • Kesulitan buang air kecil (retensi urin).

Perhatian Khusus

  • Pasien dengan gangguan jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular).
  • Pasien dengan pembesaran prostat (hipertrofi prostat).
  • Paisen dengan gula darah tinggi (diabetes melitus).
  • Lansia.

Kategori kehamilan

Kategori B: Penelitian tidak menemukan efek malformasi atau efek yang mengganggu perkembangan janin pada trimester pertama dan selanjutnya. Studi pada reproduksi hewan telah membuktikan tingkat keamanan obat ini.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien dengan tekanan dalam mata terlalu tinggi (glaukoma sudut tertutup).
  • Pasien dengan kadar hormon tiroid yang tinggi (hipertiroidisme).
  • Pasien yang mengonsumsi obat monoamine oxidase inhibitors (MAOI).
  • Pasien yang kesulitan buang air kecil (retensi urin).
  • Pasien dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) yang berat.
  • Pasien dengan penyakit jantung koroner yang berat.
  • Wanita hamil dan ibu menyusui.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Levotiroksin.
    Menggabungkan obat-obatan ini dapat meningkatkan risiko efek samping kardiovaskular seperti tekanan darah tinggi, jantung berdebar (palpitasi), nyeri dada, dan detak jantung tidak teratur.
    Ritonavir, amprenavir, eritromisin, simetidin, ketokocazol.
    Obat-obatana tersebut dapat meningkatkan penyerapan dan kadar loratadin dalam darah sehingga berpotensi menyebabkan meningkatnya risiko efek samping dari loratadin.
  • Albuterol dan formoterol
    Menggunakan albuterol atau formoterol bersama dengan pseudoefedrin dapat meningkatkan efek samping kardiovaskular seperti peningkatan denyut jantung dan tekanan darah atau irama jantung tidak teratur.
  • Duloksetin.
    Penggunaan bersama obat kombinasi loratadin dan pseudoefedrin dengan dulkosetin dapat meningkatkan tekanan darah dan detak jantung.
  • Atomoksetin.
    Penggunaan bersama atomoksetin dapat meningkatkan efek samping seperti penurunan kesadaran (somnolen) dan perasaan marah atau gelisah (agitasi).
  • Sibutramin.
    Penggunaan bersama sibutramin dapat meningkatkan tekanan darah atau detak jantung.
  • linezolid and selegilin.
    Penggunaan bersama obat tersebut dapat meningkatkan tekanan darah.
  • Bromosiptin.
    Penggunaan bersama bromosiptin dapat meningkatkan risiko pasien mengalami gangguan membedakan realita (psikosis).
  • Obat monoamine oxidase inhibitors (MAOI).
    Penggunaan bersama obat MAOI dapat meningkatkan risiko krisis tekanan darah tinggi (hipertensi).

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, maka dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutnya konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa untuk mengonsumsi obat, cobalah untuk menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau meminta bantuan orang lain untuk membantu mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Beri tahu dokter Anda segera jika Anda memiliki efek samping yang serius, termasuk:

  • Detak jantung cepat atau tidak teratur.
  • Gemetar (tremor) yang tidak terkendali.
  • Perubahan mental atau suasana hati seperti kebingungan.
  • Kesulitan buang air kecil.
  • Kejang.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/loratadine%20+%20pseudoephedrine?mtype=generic
Diakses pada 17 September 2020

Drugs. https://www.drugs.com/drug-interactions/loratadine-pseudoephedrine.html
Diakses pada 17 September 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-2625-6204/loratadine-pseudoephedrine-oral/loratadine-pseudoephedrine-sustained-release-oral/details
Diakses pada 17 September 2020

MedicineNet. https://www.medicinenet.com/loratadine_and_pseudoephedrine/article.htm#what_is_loratadine/pseudoephedrine_how_does_it_work_mechanism_of_action
Diakses pada 17 September 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email