Cotrimoxazole

Ditinjau oleh Veronika Ginting
Cotrimoxazole berguna untuk mengatasi infeksi bakteri seperti infeksi saluran pernapasan

Cotrimoxazole berguna untuk mengatasi infeksi bakteri, seperti infeksi saluran pernapasan

Daftar merek obat yang beredar di Indonesia

Cotrimoxazol Mersifarma, Lapikot Forte, Moxalas Sanprima/Sanprima Forte, Triminex Forte, Bactoprim Combi/Bactoprim Combi Forte, Bactricid/Bactricid Forte, Bactrizol/Bactrizol Forte, Co-Trimoxazol Indo Farma, Dotrim/Dotrim Forte, Erphatrim, Graprima/Graprima Forte, Hexaprim, Ikaprim/Ikaorim Forte Infatrim, Kaftrim, Licoprima, Meprotrin/Meprotrin Forte, Pehatrim/Pehatrim Forte, Primadex/Primadex Forte, Primazole/Primazole Forte, Septrin, Spectrem, Sulprim, Sultrimmix, Sultrimmix Paed, Trimezol/Trimezol Forte, Trimoxsul/Trimoxsul Forte, Trizole, Ulfaprim, Wiatrim, Xepaprim/Xeparim Forte, Zultrop/Zultrop Forte.

Deskripsi obat

Cotrimoxazole adalah kombinasi dari antibiotik sulfamethoxazole dan trimethoprim yang berfungsi untuk mengobati infeksi bakteri, seperti infeksi saluran pernapasan, infeksi telinga, infeksi saluran kemih, dan infeksi saluran cerna. Obat ini termasuk golongan antibiotik.

Obat ini juga digunakan untuk mencegah dan mengobati Pneumocystis jiroveci pneumonia yang biasanya terjadi pada pasien dengan penurunan sistem kekebalan tubuh, seperti pasien kanker, AIDS, dan yang menjalani transplantasi. Cotrimoxazole bekerja dengan menghentikan pertumbuhan bakteri yang menyebabkan berbagai jenis infeksi.

Cotrimoxazole (Kotrimoksazol)
GolonganKelas terapi : Antiinfeksi. Klasifikasi Obat : Sulfonamid.
Kategori obatObat resep
Bentuk sediaan obatTablet, kaplet, sirup, suspensi
Dikonsumsi olehDewasa dan anak-anak
Kategori kehamilan dan menyusuiKategori D: Hasil penelitian menunjukkan bahwa obat ini menimbulkan risiko pada janin manusia.
Dosis obatDosis setiap orang berbeda-beda. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan atau mengonsumsi obat.

Efek samping obat

Setiap penggunaan obat berpotensi menimbulkan efek samping. Jika efek samping memburuk, segera konsultasi dengan dokter. Efek samping yang mungkin timbul dari pemakaian cotrimoxazole, antara lain:

  • Diare.
    Minumlah sedikit air, tetapi dalam waktu yang sering. Bicaralah dengan apoteker jika Anda memiliki tanda-tanda dehidrasi, seperti buang air kecil lebih jarang dari biasanya, atau urine berwarna gelap dan berbau menyengat. Jangan minum obat lain untuk mengobati diare tanpa berbicara dengan dokter atau apoteker.
  • Mual.
    Hindari makanan yang sulit dicerna. Jangan berbaring setelah makan. Beristirahatlah dengan posisi kepala lebih tinggi dari kaki Anda. Jika Anda merasa mual saat bangun di pagi hari, makanlah daging tanpa lemak atau keju sebelum tidur. Anda juga bisa menyediakan biskuit di samping tempat tidur dan makanlah sedikit sesaat setelah bangun tidur. Minumlah setidaknya enam gelas air sehari.
  • Muntah.
    Duduk atau berbaring dalam posisi bersandar. Minumlah sedikit minuman manis karena minuman mengandung gula dapat membantu menenangkan perut.
  • Ruam kulit.
  • Demam.
  • Rendahnya kadar sel darah putih (leukopenia).
  • Rendahnya kadar trombosit (trombositopenia).
  • Kegagalan pembentukan granulosit (agranulosit).
  • Kegagalan pembentukan sel darah (anemia aplastik).
  • Pada penggunaan jangka panjang, pernah dilaporkan adanya kelainan pembentukan sel darah merah (anemia megaloblastik).
  • Nyeri otot dan sendi.
  • Kelainan darah (diskrasia).

Perhatian Khusus

Konsultasi dengan dokter terlebih dahulu jika Anda memiliki kondisi medis, seperti:

  • Ketidakseimbangan mineral dalam tubuh, misalnya memiliki kadar kalium yang tinggi (hiperkalemia) atau kadar natrium yang rendah dalam darah.
  • Kelainan darah seperti (porfiria).
  • Kekurangan sel darah merah (anemia) akibat defisiensi atau kekurangan vitamin.
  • Gangguan sumsum tulang belakang.
  • Penyakit kencing manis (diabetes melitus).
  • Gangguan ginjal dan hati ringan hingga sedang.
  • Asma.
  • Ibu menyusui.

Informasi lebih lengkap bisa dilihat melalui kemasan obat.

Penyimpanan

Simpan di antara suhu 15-30°C, serta terhindar dari tempat lembap dan cahaya matahari langsung.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

Jangan mengonsumsi obat ini jika mempunyai kondisi medis, seperti:

  • Gangguan ginjal dan hati yang parah.
  • Alergi terhadap golongan sulfonamid dan trimethoprim.
  • Penggunaan bersama leucovorin untuk pengobatan P. jiroveci pada pasien positif HIV.
  • Bayi berusia kurang dari 6 minggu.

Kategori kehamilan & menyusui

Kategori D: Hasil penelitian menunjukkan bahwa obat ini menimbulkan risiko pada janin manusia.
Penggunaan pada ibu hamil dapat dipertimbangkan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin. Misalnya, bila obat dibutuhkan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa atau penyakit serius, di mana obat lain tidak efektif atau tidak bisa diberikan.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

  • Terjadi kelemahan otot dan perubahan mental atau mood.
  • Rasa kantuk yang ekstrim.
  • Terjadi tanda-tanda gula darah rendah, seperti berkeringat tiba-tiba, gemetar, detak jantung cepat, lapar, penglihatan kabur, pusing, atau kesemutan pada tangan atau kaki.
  • Terjadi tanda-tanda masalah ginjal, seperti perubahan jumlah urine dan adanya darah dalam urine.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

Interaksi obat mungkin terjadi jika Anda menggunakan atau mengonsumsi beberapa obat secara bersamaan. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum menggunakannya. Bila perlu, dokter mungkin akan mengurangi dosis atau mengganti obat dengan alternatif obat lainnya.

  • Amilorid, benazepril, captopril.
    Penggunaan bersama obat-obatan di atas dapat meningkatkan kadar kalium dalam darah. Kadar kalium yang tinggi dapat berkembang menjadi kondisi yang disebut hiperkalemia. Pada kasus parah, hiperkalemia dapat menyebabkan gagal ginjal, kelumpuhan otot, irama jantung tidak teratur, dan serangan jantung.
  • Phenytoin.
    Kombinasi sulfamethoxazole dan trimethoprim dapat meningkatkan waktu yang dibutuhkan obat phenytoin untuk dikeluarkan tubuh dari separuh kadar awal, sehingga kadar fenitoin dalam darah meningkat.
  • Anisindion.
    Anisindion dapat meningkatkan risiko perdarahan, terutama jika pasien sudah lanjut usia dan memiliki gangguan ginjal atau hati.
  • Amiodaron.
    Amiodaron dapat meningkatkan risiko detak jantung cepat di atas normal (aritmia ventrikular).
  • Metenamin.
    Metenamin dapat meningkatkan risiko terdapatnya kristal pada urine (kristaluria).
  • Clozapin.
    Clozapin dapat menurunkan jumlah sel darah putih, sehingga memengaruhi fungsi sumsum tulang.

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis langsung dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus sesuai dengan resep dokter. Ketersediaan obat tergantung pada indikasi yang disetujui BPOM.

https://www.mims.com/indonesia/drug/info/sulfamethoxazole%20+%20trimethoprim?mtype=generic
Diakses pada 21 Januari 2021

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-4083/trimethoprim-oral/details
Diakses pada 21 Januari 2021

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-3409-1071/sulfamethoxazole-trimethoprim-oral/sulfamethoxazole-trimethoprim-suspension-oral/details
Diakses pada 21 Januari 2021

Patient. https://patient.info/medicine/co-trimoxazole-for-infection
Diakses pada 21 Januari 2021

GLOWM. https://www.glowm.com/resources/glowm/cd/pages/drugs/c087.html
Diakses pada 21 Januari 2021

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a684026.html
Diakses pada 21 Januari 2021

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email