no-image-drug
Golongan obat Merah Obat keras: diharuskan menggunakan resep dokter.
Kemasan 1 box isi 3 strip @ 10 tablet (90 mg; 180 mg)
Produsen Dexa Medica

Cordila SR tablet adalah obat yang digunakan untuk nyeri dada (angina pektoris), darah tinggi (hipertensi), gangguan irama jantung (aritmia). Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Cordila SR tablet mengandung zat aktif diltiazem hidroklorida.

  • Mengatasi nyeri dada (angina pektoris).
  • Menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Mengobati gangguan irama jantung (aritmia).

Diltiazem hidroklorida bekerja dengan memengaruhi pergerakan kalsium ke dalam sel-sel jantung dan pembuluh darah. Sehingga, diltiazem dapat melemaskan pembuluh darah dan meningkatkan suplai darah dan oksigen ke jantung sekaligus mengurangi beban kerjanya.

  • Cordila SR 90 mg: diltiazem hidroklorida 90 mg.
  • Cordila SR 180 mg: diltiazem hidroklorida 180 mg.

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Nyeri dada (angina pektoris): 100 mg/hari, jika tidak ada perubahan atau kondisi tidak membaik dosis dapat ditingkatkan hingga 200 mg/hari.
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi): 100-200 mg/hari.
  • Gangguan irama jantung (aritmia): 60 mg sebanyak 3 kali/hari, pada usia lanjut dosis diberikan sebanyak 2 kali/hari. Dosis dapat ditingkatkan hingga 360 mg/hari sesuai kondisi medis dan usia pasien.

DIkonsumsi dengan atau tanpa makanan.

  • Sakit perut dan gangguan saluran pencernaan.
    Cobalah untuk beristirahat, dan mengonsumsi makanan dengan porsi yang lebih sedikit dari biasanya, serta dapat menggunakan handuk hangat atau botol air yang berisi air hangat ke atas perut untuk meringankan rasa sakitnya. Namun, jika Anda merasa sangat kesakitan, segera hubungi dokter Anda.
  • Lelah dan lemas
  • Sakit kepala.
    Cobalah beristirahat dan meminum banyak air. Jangan minum terlalu banyak alkohol dan berkonsultasi kepada apoteker atau dokter untuk merokendasikan obat mengatasi nyeri. Sakit kepala dapat hilang setelah saatu minggu mengonsumsi diltiazem.
  • Pusing dan kepala berat.
    Hentikan seluruh aktivitas dan cobalah untuk duduk atau berbaring. Jangan mengemudi atau mengoperasikan mesin.
  • Cobalah meminum banyak air dan jangan minum terlalu banyak alkhol. Segera konsultasi pada dokter jika efek samping tidak hilang setelah satu minggu.
  • Kulit kemerahan.
    Hentikan konsumsi kopi, teh, dan alkohol. Jaga temperatur ruangan agar tetap sejuk dan dapat menggunakan kipas angin. Anda juga dapat semprotkan wajah Anda dengan air dingin atau meminum air dingin. Kulit kemerahan dapat hilang dalam beberapa hari. Jika belum membaik atau semakin memburuk, segeralah konsultasikan kepada dokter Anda.
  • Kulit terasa panas.
    Dapat menggunakan kain yang dingin pada kulit, mandi dengan air dingin dan jika Anda memiliki kulit gatal, gunakan pelembab yang tidak beraroma secara teratur.
  • Kesulitan buang air besar (konstipasi).
    Cobalah makan lebih banyak makanan berserat tinggi seperti buah segar, sayuran dan sereal, dan minum banyak air. Cobalah berolahraga secara teratur, misalnya dengan berjalan kaki atau berlari setiap hari. Namun, jika Anda merasa sangat kesakitan, segera hubungi dokter Anda.
  • Penyumbatan atrioventricular (atrioventricular block).
  • Peningkatan serum alkaline phosphatase (ALP), glutamic oxaloacetic transaminase (GOT), dan glutamic pyruvic transaminase (GPT) di hati.
  • Detak jantung yang lebih lambat dari biasanya (bradikardi).
  • Pasien yang memiliki gangguan hati atau masalah pada detak jantung.
  • Pasien yang memiliki penyakit kelainan darah (porfiria).
  • Tekanan darah rendah (hipotensi).
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini.
  • Pasien yang memiliki penyakit ginjal dan hati.
  • Wanita hamil atau wanita yang berencana untuk hamil.
  • Ibu menyusui.
  • Kurangi dosis pada pasien yang memiliki gangguan fungsi hati, ginjal, gagal jantung, detak jantung yang lambat (bradikardi berat), penyumbatan atrioventricular (atrioventricular block) derajat satu.
  • Gejala tekanan darah rendah (hipotensi).
  • Ibu menyusui.
  • Amiodaron, digoksin, dan klonidin.
    Penggunaan bersama diltiazem meningkatkan risiko jantung berdetak lebih lambat (bradikaradi), dan penyumbatan atrioventricular (atrioventricular block).
  • Siklosporin, fenitoin, karbamazepin, silostazol, benzodiazepin (midazolam dan triazolam), buspiron, quinidin, kortikosteroid (metilprednisolon), litium, dan teofilin.
    Penggunaan bersama diltiazem kadar konsentrasi serum siklosporin, fenitoin, karbamazepin, silostazol, benzodiazepin (midazolam dan triazolam), buspiron, quinidin, kortikosteroid (metilprednisolon), litium, dan teofilin.
  • Obat inhibitior CYP3A4 (simetidin).
    Penggunaan bersama diltiazem meningkatkan konsentrasi plasma.
  • Obat penginduksi CYP3A4 (rifampisin).
    Penggunaan bersama diltiazem menurunkan konsentrasi plasma.
  • Obat antiplatelet.
    Penggunaan bersama diltiazem meningkatkan efek obat antiplatelet.
  • Atorvastatin, fluvastatin, simvastatin.
    Penggunaan bersama diltiazem meningkatkan risiko miopati dan rhabdomiolisis.
  • Obat beta blocker.
    Penggunaan bersama diltiazem meningkatkan risiko bradikardi dan tanda dari gagal jantung.
  • Ivabradin.
    Penggunaan bersama diltiazem meningkatkan risiko jantung berdetak lebih lambat (bradikaradi).

Pionas. http://pionas.pom.go.id/monografi/diltiazem-hidroklorida
Diakses pada 27 Juli 2020

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/diltiazem
Diakses pada 27 Juli 2020

Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/diltiazem/
Diakses pada 27 Juli 2020

Mayoclinic. https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/diltiazem-oral-route/side-effects/drg-20071775?p=1
Diakses pada 27 Juli 2020

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus tetap sesuai dengan anjuran dokter.

Artikel Terkait