Codikaf tablet adalah obat untuk mengatasi batuk kering dan mengatasi nyeri.
Golongan obat Narkotika Obat narkotika: Harus dengan resep dokter. Penyalahgunaan merupakan kejahatan kriminal.
Kemasan 1 box isi 10 strip @ 10 tablet (10 mg; 15 mg; 20 mg)
Produsen Kimia Farma

Codikaf tablet adalah obat untuk mengatasi batuk kering (antitusif) dan mengatasi nyeri (analgetik). Obat ini termasuk dalam golongan narkotika. Codikaf tablet mengandung zat aktif kodein fosfat.

  • Mengatasi nyeri ringan hingga sedang.
  • Mengatasi batuk kering (antitusif).
  • Mengatasi diare yang terjadi selama 2 minggu ke atas (diare akut).

Kodein adalah agonis selektif untuk reseptor opioid mu, tetapi dengan afinitas yang jauh lebih lemah terhadap reseptor ini daripada morfin, obat opioid yang lebih manjur. Kodein berikatan dengan reseptor mikro opioid, yang terlibat dalam transmisi rasa sakit ke seluruh tubuh dan sistem saraf pusat. Kodein digunakan untuk mengobati rasa sakit, obat ini bekerja dengan mengubah cara otak dan sistem saraf merespons rasa sakit. Ketika kodein digunakan untuk mengurangi batuk, obat ini bekerja dengan mengurangi aktivitas di bagian otak yang dapat menyebabkan batuk.

  • Codikaf tablet 10 mg: kodein fosfat 10 mg.
  • Codikaf tablet 15 mg: kodein fosfat 15 mg.
  • Codikaf tablet 20 mg: kodein fosfat 20 mg.

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa:

  • Antitusif: 15-30 mg sebanyak 3-4 kali/hari
  • Analgetik: 15-60 mg/4 jam.
    • Dosis maksimal: 360 mg/hari.
  • Diare akut: 15-60 mg sebanyak 3-4 kali/hari.

Anak-anak:

  • Antitusif:
    • 2-5 tahun: 3 mg sebayak 3-4 kali/hari.
    • 6-12 tahun: 7,5-15 mg sebanyak 3-4 kali/hari.
  • Analgetik:
    • 12 tahun ke bawah: 0,5-1 mg/kgBB/4-6 jam/hari.
    • Dosis maksimal: 240 mg/hari.

Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan.

  • Kesulitan buang air besar (konstipasi).
    Cobalah untuk konsumsi maknan yang mengandung serat seperti buah dan sayuran serta sereal. Usahakan untuk minum beberapa gelas air atau cairan non alkohol lainnya setiap hari. Lakukanlah olahraga ringan juga dapat membantu. Konsumsi pencahar jika sembelit tidak kunjung hilang. Biasanya, laktulosa adalah yang terbaik tetapi periksakan ke apoteker atau dokter terlebih dahulu.
  • Mual atau muntah.
    Konsumsi kodein denga makanan atau tepat setelah makan atau ngemil untuk meredakan perasaan mual. Jika Anda sedang sakit, cobalah sesering mungkin mengonsumsi minum. Efek samping ini biasanya akan hilang setelah beberapa hari. Bicaralah dengan dokter Anda tentang minum obat anti-penyakit jika berlangsung lebih lama.
  • Mengantuk.
    Efek samping ini akan hilang dalam beberapa hari karena tubuh Anda terbiasa dengan kodein. Bicaralah dengan dokter Anda jika itu berlangsung lebih lama.
  • Merasa bingung, pusing, dan sakit keapala yang membuat penderita merasa sekelilingnya seperti berputar (vertigo).
    Jika kodein membuat Anda pusing saat berdiri, cobalah bangun dengan sangat perlahan atau tetap duduk sampai Anda merasa lebih baik. Jika Anda mulai merasa pusing, berbaringlah agar tidak pingsan, lalu duduklah sampai Anda merasa lebih baik. Efek samping ini akan hilang dalam beberapa hari karena tubuh Anda terbiasa dengan kodein. Segera hubungi dokter Anda jika efek samping tidak hilang.
  • Mulut kering.
    Coba kunyah permen karet bebas gula atau makan permen bebas gula. Dokter Anda juga dapat meresepkan pengganti air liur buatan untuk menjaga kelembapan mulut Anda.
  • Sakit kepala.
    Aman untuk mengonsumsi obat penghilang rasa sakit setiap hari seperti parasetamol atau ibuprofen. Bicaralah dengan dokter Anda jika sakit kepala semakin parah atau berlangsung lebih dari seminggu.
  • Pasien yang mengalami depresi pernapasan akut.
  • Pasien dengan keadaan koma.
  • Pasien yang mengalami trauma pada kepala.
  • Pasien penderita gagal hati.
  • Pasien penderita asma bronkial akut atau berat.
  • Pasien yang mengalami penyumbatan pada saluran pencernaan.
  • Pasien yang mengalami kelumpuhan otot usus yang menyebabkan gangguan pergerakan usus (ileus paralitik).
  • Pasien yang mengalami perut kembung.
  • Pasien yang mengonsumsi alkohol akut.
  • Pasien yang mengalami cedera kepala.
  • Pasien dengan peningkatan tekanan intrakranial.
  • Pasien yang mengalami diare yang disebabkan oleh kolitis pseudomembran atau keracunan.
  • Anak-anak 12 tahun tahun ke bawah.
  • Pasien 18 tahun yang menjalani tonsilektomi dan atau adenoidektomi.
  • 12-18 tahun yang memiliki faktor risiko lain untuk depresi pernapasan..
  • Pasien 18 tahun ke bawah (bila digunakan untuk mengatasi batuk).
  • Ibu menyusui.
  • Pasien yang secara bersamaan atau dalam 14 hari setelah penggunaan MAOI.
  • Pasien yang mengalami infark miokard dan asma.
  • Pasien yang mengonsumsi alkohol.
  • Pasien dengan tekanan darah yang rendah atau di bawah batas normal (hipotensi).
  • Pasien dengan kadar tiroid yang rendah (hipotiroidisme).
  • Pasien yang mengalami pembesaran kelenjar prostat.
  • Pasien yang memiliki peradangan atau penyumbatan pada usus.
  • Pasien dengan gangguan kesehatan mental.
  • Pasien yang memiliki berat badan sangat berlebih (sangat gemuk).
  • Pasien dengan gangguan kejang.
  • Pasien yang mengonsumsi obat jangka panjang.
  • Hindari penggunaan dalam dosis berlebih karena dapat menyebabkan gangguan fungsi hati.
  • Pasien penderita penyakit ginjal.
  • Hindari penghentian penggunaan obat secara tiba-tiba.
  • Pasien penderita gangguan fungsi ginjal dan hati.
  • Anak-anak dan orang tua.
  • Wanita hamil.
  • Benzodiazepin, anestesi, antihistamin, dan natrim oksibat.
    Penggunaan kodein dengan obat di atas dapat menyebabkan peningkatan risiko pada sistem saraf pusat atau dapat menyebabkan depresi pernapsan.
  • Antikolinergik dan antidiare.
    Penggunaan kodein dengan antikolinergik atau antidiare dapat meningkatkan risiko terjadinya sembelit yang parah.
  • Kuinidin.
    Kuinidin dapat menyebabkan metabolisme kodein dalam tubuh akan terganggu.
  • Simetidin.
    Simetidin dapat meningkatkan konsentrasi kodein dalam plasma sehingga akan menyebabkan toksisitas obat kodein.
  • Mexiletin.
    Kodein dapat menunda penyerapan dari mexiletin, sehingga akan menghambat efek dari obat mexiletin.
  • Domperidon, cisaprid, dan metoklopramid.
    Kodein dapat menyebabkan terjadinya efek yg berlawanan dengan fungsi obat di atas.
  • Penghambat monoamin oksidase (MAOI).
    Penggunaan kodein dengan obat penghambat monoamin oksidase dapat menyebabkan eksitasi sistem saraf pusat yang parah atau bahkan menyebabkan terjadinya depresi.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/codikaf Diakses pada 11 Agustus 2020 MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/codeine Diakses pada 11 Agustus 2020 Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/codeine/ Diakses pada 11 Agustus 2020 Medline Plus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a682065.html Diakses pada 11 Agustus 2020 Drugs. https://www.drugs.com/codeine.html Diakses pada 11 Agustus 2020

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus tetap sesuai dengan anjuran dokter.

Artikel Terkait