Alfabet
# A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

Clenbuterol (Alias: Klenbuterol)

Ditulis oleh Lenny Tan
Terakhir ditinjau oleh dr. Virly
Clenbuterol digunakan untuk mengobati keluhan sesak napas pada orang dewasa dengan penyakit paru obstruktif kronis atau asma.

Merk dagang yang beredar:

Spiropent

Clenbuterol merupakan obat golongan agonis beta-2 yang digunakan sebagai bronkodilator (pembuka saluran pernapasan) untuk mengobati keluhan sesak napas pada pasien dengan penyakit paru obstruktif kronis atau asma (suatu kondisi terjadinya penyempitan saluran pernapasan). Obat ini bekerja dengan merelaksasi otot polos saluran pernapasan sehingga menyebabkan pelebaran/pembukaan saluran napas, yang pada akhirnya akan mengurangi keluhan sesak napas.

Saat ini, clenbuterol telah banyak disalahgunakan, khususnya oleh para atlet dan orang yang sedang menjalani diet, karena obat ini memiliki pengaruh dalam meningkatkan massa otot dan efek lipolysis (pemecahan lemak).

Clenbuterol (Klenbuterol)
Golongan

Agonis beta-2

Kategori Obat

Obat resep

Bentuk Obat

Tablet

Dikonsumsi oleh

Dewasa

Kategori Kehamilan dan Menyusui

Keamanan penggunaan clenbuterol selama kehamilan dan menyusui masih belum diketahui. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum penggunaannya.

Dosis

Dosis setiap orang pasti berbeda-beda. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat.

Oral

Bronkodilator

Dewasa: 20 mcg 2 kali sehari, dapat ditingkatkan menjadi 40 mcg 2 kali sehari.

Aturan pakai Clenbuterol dengan benar

Baca petunjuk obat dan ikuti anjuran dokter Anda. Clenbuterol sebaiknya dikonsumsi pada waktu yang sama setiap harinya untuk mendapatkan efek maksimal.

Penggunaan clenbuterol pada manusia di beberapa negara masih bersifat kontroversial. Di beberapa negara, seperti Eropa dan Asia, penggunaan obat ini untuk manusia telah disetujui untuk mengobati kondisi, seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis.

Sedangkan di Amerika, penggunaan clenbuterol pada manusia dilarang oleh FDA (Food and Drugs Administration). Obat ini hanya disetujui untuk mengobati hewan.

Clenbuterol bekerja dengan melebarkan pembuluh darah sehingga meningkatkan kadar oksigen. Obat ini juga menstimulasi jantung dan sistem saraf pusat.

Efek Samping

Pemakaian obat umumnya memiliki efek samping tertentu dan bersifat individual. Jika terjadi efek samping yang berlebih, harus segera di tangani oleh tenaga medis.

Efek samping yang mungkin timbul dari pemakaian clenbuterol, antara lain:

  • Tremor.
  • Jantung berdebar-debar.
  • Detak jantung lebih cepat.
  • Nervous tension (ketegangan saraf): sulit beristirahat, kekakuan otot, cemas.
  • Napas cepat.
  • Nyeri dada.
  • Nyeri kepala.
  • Kram otot.
  • Hipokalemia (kadar kalium rendah dalam darah).
  • Reaksi alergi (ruam, bengkak, gatal).

Ada beberapa efek samping lain yang belum terdaftar. Jika Anda mempunyai efek samping selain dari yang terdaftar di atas, konsultasikan segera ke dokter Anda.

Peringatan

Beritahukan dan konsultasikan dengan dokter mengenai riwayat penyakit Anda sebelumnya, terutama bila Anda memiliki riwayat atau kondisi berikut:

  • Hipertiroid (fungsi tiroid berlebih).
  • Aritmia (denyut jantung tidak beraturan).
  • Hipertensi (tekanan darah tinggi).
  • Diabetes melitus.
  • Asma berat.
  • Kehamilan.
  • Myocardial insufficiency.

Clenbuterol seringkali disalahgunakan untuk keperluan pembentukan otot dan penurunan berat badan. Namun perlu diingat bahwa penggunaannya dalam dosis tinggi dapat bersifat toksik bagi jantung dan dapat menyebabkan denyut jantung tidak beraturan, kadar kalium rendah dalam darah, napas cepat, dan nyeri dada.

Interaksi

Interaksi obat mungkin terjadi bila beberapa obat dikonsumsi secara bersamaan. Jika ingin mengonsumsi obat secara bersamaan, konsultasikan ke dokter Anda terlebih dahulu. Bila perlu, dokter akan mengubah dosis obat atau mengganti obat dengan alternatif obat lainnya.

Mengonsumsi obat clenbuterol dengan obat lain secara bersamaan dapat menyebabkan beberapa interaksi, seperti:

  • Peningkatan risiko denyut jantung tidak teratur bila dikonsumsi dengan obat-obatan yang menyebabkan penurunan kadar kalium dalam darah (misalnya, thiazide, amfoterisin B, kortikosteroid).
  • Peningkatan risiko hipokalemia (kadar kalium rendah dalam darah) dan detak jantung cepat bila dikonsumsi bersamaan dengan teofilin dosis tinggi.
  • Meningkatkan efek clenbuterol bila digunakan bersamaan dengan obat golongan agonis beta lainnya.
  • Menurunkan efek clenbuterol bila diberikan bersamaan dengan obat golongan penghambat beta.

Ditinjau oleh: dr.Virly Isella

Penyakit
  • PPOK
  • Asma
Referensi

MIMS. http://www.mims.com/indonesia/drug/info/clenbuterol/?type=brief&mtype=generic

Diakses pada 3 Januari 2019

Healtline. https://www.healthline.com/health/clenbuterol#side-effects

Diakses pada 3 Januari 2019

PubChem. https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/clenbuterol#section=Pharmacology

Diakses pada 3 Januari 2019

Science Direct. https://www.sciencedirect.com/topics/veterinary-science-and-veterinary-medicine/clenbuterol

Diakses pada 3 Januari 2019

Drugbank. https://www.drugbank.ca/drugs/DB01407

Diakses pada 3 Januari 2019

Spiller HA,  James KJ, Scholzen S, Borys DJ. A descriptive study of Adverse Events from Clenbuterol Misuse and Abuse for Weight Loss and Bodybuilding. Substance Abuse. 2013.

Diakses pada 3 Januari 2019

Widiastuti R, Anastasia Y. Clenbuterol Residues in Beef Meat Collected from Several Cities in Java Island, Indonesia. Indonesian Journal of Animal and Veterinary Science. 2018.

Artikel Terkait:
Back to Top