Cartylo tablet adalah obat untuk mengatasi nyeri ringan hingga sedang, demam, dan peradangan.
Golongan obat Merah Obat keras: diharuskan menggunakan resep dokter.
Kemasan 1 box isi 10 strip @ 10 tablet (80 mg)
Produsen Kimia Farma
Cartylo tablet adalah obat untuk mengatasi nyeri ringan hingga sedang, mengatasi demam, dan peradangan. Obat ini termasuk dalam golongan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Cartylo tablet mengandung zat aktif asam asetilsalisilat.

Asam asetilsalisilat adalah obat golongan salisilat yang dapat meredakan nyeri dan meringankan peradangan, asam asetilsalisilat bekerja dengan menghambat zat alami dalam tubuh yang menyebabkan peradangan, sehingga dapat meredakan gejala peradangan seperti:

  • Meringankan nyeri ringan hingga sedang seperti sakit kepala sebelah (migrain) dan demam.
  • Sakit kepala.
  • Sakit gigi.
  • Nyeri haid.
  • Batuk dan flu.
  • Meringankan peradangan pada sendi (arthritis).
  • Peradangan sendi akibat sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringannya sendiri (rheumathoid arthritis).
  • Pada penggunaan dalam dosis rendah asam asetilsalisilat dapat mencegah terjadinya penggumpalan darah, mengurangi risiko stroke, serangan jantung, dan nyeri dada pada pasien penderita arteri koroner kronis.

Asam asetilsalisilat menghambat terbentuknya prostaglandin sehingga tidak selektif untuk enzim COX-1 dan COX-2. Penghambatan COX-1 menghasilkan penghambatan agregasi trombosit selama sekitar 7-10 hari (umur trombosit rata-rata). Kelompok asetil dari asam asetilsalisilat mengikat dengan residu serin dari enzim siklooksigenase-1 (COX-1), yang mengarah ke penghambatan ireversibel. Ini mencegah produksi prostaglandin penyebab nyeri. Proses ini juga menghentikan konversi asam arakidonat menjadi tromboksan A2 (TXA2), yang merupakan penginduksi kuat label agregasi platelet. Agregasi trombosit dapat menyebabkan gumpalan dan tromboemboli vena dan arteri yang berbahaya, yang mengarah pada kondisi seperti emboli paru dan stroke.

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa:

  • Stroke, angina pektoris, dan serangan jantung: 150-300 mg/hari.
  • Demam, nyeri ringan hingga sedang:
    • Dosis umum: 300-900 mg, dapat diulangi setiap 4-6 jam.
    • Dosis maksimal: 4 g/hari.
  • Rematik akut: 4-8 g/hari dalam dosis terbagi.
  • Rematik kronis: 5,4 g/hari dalam dosis terbagi.
  • Pencegahan penyakit kardiovaskular pada pasien berisiko tinggi:
    • Jangka panjang: 75-150 mg sebanyak 1 kali/hari.
    • Jangka pendek: 150-300 mg sebanyak 1 kali/hari.
Sebaiknya dikonsumsi dengan makanan.
  • Sensitif terhadap salisilat.
  • Telinga berdering (tinnitus).
  • Anemia.
  • Penurunan kadar trombosit dalam darah (trombositopenia).
  • Rasa tidak nyaman pada perut (dispepsia).
  • Iritasi pada lambung.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Pusing.
  • Asma.
  • Pengencangan otot-otot pada lapisan saluran udara atau bronkus (bronkospasme).
  • Sesak napas.
  • Peradangan pada mukosa hidung (rhinitis).
  • Ruam pada kulit.
  • Biduran (urtikaria).
  • Gangguan saluran pencernaan ringan.
  • Perdarahan.
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap aspirin atau obat antiinflamasi non-steroid lainnya.
  • Pasien yang memiliki luka pada saluran pencernaan.
  • Pasien yang mengalami pecahnya pembuluh darah di dalam otak (haemoragik).
  • Pasien penderita gangguan pembekuan darah seperti hemofilia dan trombositopenia.
  • Pasien penderita gangguan ginjal dan hati yang berat.
  • Anak-anak 16 tahun ke bawah.
  • Pasien yang baru sembuh dari infeksi virus.
  • Wanita hamil pada trimester ketiga.
  • Pasien yang mengonsumsi obat NSAID lain dan metotreksat.
  • Pasien yang memiliki luka pada dinding lambung atau usus 12 jari.
  • Pasien yang mengalami gangguan perdarahan.
  • Pasien dengan riwayat asma.
  • Pasien penderita anemia.
  • Pasien yang mengalami dehidrasi.
  • Pasien penderita gangguan hati dan ginjal.
    • Obat antiinflamasi seperti natrium diklofenak, ibuprofen, indometasin, dan naproksen.
      Dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan pada saluran pencernaan jika dikonsumsi dengan aspirin.
    • Metotreksat.
      Aspirin dapat menyebabkanpeningkatan kadar metotreksat dan dapat meningkatkan potensi efek samping.
    • Antidepresan SSRI, seperti sitalopram, fluoksetin, paroksetin, venlafaksin, dan sentralin.
      Penggunaan bersama dengan aspirin dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan.
    • Warfarin, obat penghambat pembekuan darah (antikoagulan), dan obat pengencer darah.
      Obat di atas dapat menyebabkan risiko terjadinya perdarahan.
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/161255#interactionsDiakses pada 21 Juli 2020MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/aspirinDiakses pada 21 Juli 2020Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/aspirin-for-pain-relief/Diakses pada 21 Juli 2020Drugbank. https://www.drugbank.ca/drugs/DB00945Diakses pada 21 Juli 2020Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/low-dose-aspirin/#:~:text=If%20you%20forget%20to%20take,an%20alarm%20to%20remind%20you.Diakses pada 21 Juli 2020

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus tetap sesuai dengan anjuran dokter.

Artikel Terkait