Carpiaton Tablet

21 Jan 2021| Dea Febriyani
Carpiaton tablet adalah obat untuk menurunkan tekanan darah tinggi.

Deskripsi obat

Carpiaton tablet adalah obat untuk menurunkan tekanan darah tinggi, gagal jantung dan mencegah penurunan kadar kalium dalam darah. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Carpiaton tablet mengandung zat aktif spironolakton.

Carpiaton Tablet
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
Produk HalalYa
Kandungan utamaSpironolakton.
Kelas terapiDiuretik.
Klasifikasi obatAntagonis reseptor mineralokortikoid.
Kemasan1 box isi 10 strip @ 10 tablet (25 mg; 100 mg)
ProdusenFahrenheit

Informasi zat aktif

Spironolactone adalah obat yang digunakan untuk mengobati orang dengan berbagai kondisi, termasuk tekanan darah tinggi, kadar kalium rendah, gagal jantung, edema, penyakit hati, penyakit ginjal, dan hiperaldosteronisme yaitu suatu kondisi di mana tubuh memproduksi terlalu banyak hormon aldosteron. Obat ini berada dalam kelas obat yang disebut antagonis reseptor aldosteron. Spironolactone bekerja dengan membantu ginjal membuang air dan natrium yang tidak dibutuhkan tanpa menghabiskan terlalu banyak kalium.

Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, spironolactone diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diserap dengan baik dari saluran pencernaan. Kadar obat yang masuk ke dalam peredaran darah (ketersediaan hayati) kira-kira 90%, ditingkatkan dengan makanan tinggi lemak atau kalori. Waktu dimana obat mencapai kadar tertinggi dalam plasma (waktu konsentrasi plasma puncak) selama 2,6-4,3 jam (terutama sebagai metabolit aktif).
  • Distribusi: Melintasi plasenta dan memasuki ASI.
  • Metabolisme: Metabolisme yang cepat dan ekstensif di hati menjadi beberapa metabolit aktif.
  • Ekskresi: Melalui urine (terutama sebagai metabolit); feses (sekunder). Waktu yang dibutuhkan obat untuk dikeluarkan oleh tubuh dari separuh kadar awal obat (waktu paruh eliminasi) sekitar 1,4 jam.

Indikasi (manfaat) obat

Spironolakton merupakan diuretik hemat kalium magnesium. Spironolakton merupakan antagonis kompetitif aldosteron pada efek pada nefron distal, meningkatkan ekskresi Na+, Cl- dan air dan mengurangi ekskresi K+ dan urea, mengurangi keasaman air seni yang dapat dititrasi. Peningkatan diuresis menyebabkan efek hipotensi, yang tidak stabil. Efek hipotensi tidak tergantung pada tingkat renin dalam plasma darah dan tidak terungkap dalam tekanan darah normal.

  • Mengobati gagal jantung.
  • Mengatasi pembengkakan akibat penumpukan cairan pada jaringan tubuh terutama pada kaki (edema).
  • Mengatasi tekanan darah tinggi atau di atas normal (hipertensi).
  • Mencegah dan mengobati kondisi kalium yang rendah dalam tubuh (hipokalemia).
  • Mengobati kelainan kelenjar endokrin yang melibatkan satu atau kedua hormon adrenalin, yang menghasilkan terlalu banyak hormon aldosteron (hiperaldosteronisme).

Komposisi obat

  • Carpiaton tablet 25 mg: spironolakton 25 mg.
  • Carpiaton tablet 100 mg: spironolakton 100 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa:

  • Edema: 100 mg/hari.
    • Dosis maksimal: 400 mg/hari.
  • Hiperentsi:
    • Monoterapi: 50-100 mg dalam 1-2 dosis terbagi.
  • Hiperaldosteronisme:
    • Jangka panjang: 400 mg/hari dikonsumsi dalam 3-4 minggu.
    • Jangka pendek: 400 mg/hari dikonsumsi dalam 4 hari.
  • Gagal jantung kongestif: 25 mg/hari.
    • Dosis maksimal: 50 mg/hari.
  • Hipokalemia akibat diuretik: 25-200 mg/hari.

Anak-anak:

  • Hiperaldosteronisme: 3 mg/kg.
  • Gagal jantung kongestif: 3 mg/kg dikonsumsi dalam dosis terbagi.
    Dihitung dengan mengalikan berat badan pasien.

Aturan pakai obat

Sebaiknya dikonsumsi dengan makanan.

Efek samping obat

  • Kelelahan.
  • Pusing.
  • Gangguan pada saluran pencernaan seperti diare.
  • Masalah pada otak yang menyebabkan gangguan keseimbangan dan koordinasi (ataksia).
  • Kegagalan sumsum tulang membentuk granulosit (agranulositosis).
  • Penurunan kadar trombosit dalam darah (trombositopenia).
  • Kebingungan.
  • Gatal pada sebagian atau seluruh tubuh (pruritus).
  • Kerontokan rambut.
  • Penurunan kadar kalium dalam darah (hiponatremia).
  • Gangguan menstruasi yang tidak teratur.
  • Nyeri pada bagian payudara.
  • Impotensi.
  • Penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia).

Perhatian Khusus

  • Pasien yang berisiko memiliki kadar kalium yang tinggi dalam darah (hiperkalemia) dan asidosis.
  • Pasien penderita kencing manis (diabetes melitus).
  • Pasien penderita gangguan ginjal dan jantung.
  • Pasien lanjut usia.

Kategori kehamilan

Kategori C: Belum terdapat penelitian terkontrol untuk penggunaan carpiaton tablet pada ibu hamil, namun ada efek samping yang mungkin dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan janin.
Oleh karena itu, penggunaannya pada ibu hamil hanya dapat dilakukan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin.
Konsultasikan penggunaan obat ini dengan dokter sebelum digunakan.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini.
  • Pasien yang mengalami kerusakan pada kelenjar adrenal yang tidak mampu memproduksi hormon yang sesuai dengan kebutuhan tubuh (penyakit addison).
  • Pasien penderita gangguan ginjal yang menyebabkan tubuh tidak dapat memproduksi urin (anuria).
  • Pasien yang memiliki kadar kalium yang tinggi dalam darah (hiperkalemia).
  • Pasien penderita gangguan ginjal.
  • Pasien yang mengonsumsi eplerenon.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Diuretik hemat kalium lainnya, suplemen kalium penghambat ACE, antagonis reseptor angiotensin II, trilostan, dan heparin.
    Penggunaan obat di atas meningkatkan terjadinya peningkatan kadar kalium yang terlalu tinggi (hiperkalemia) dalam tubuh.
  • Alkohol, barbiturat, atau obat golongan narkotika.
    Penggunaan obat di atas menyebabkan pasien mengalami pusing ketika beranjak dari duduk ataau berbaring, hal tersebut disebabkan karena penurunan tekanan darah (hipotensi ortostatik).
  • Siklosporin dan NSAID.
    Siklosporin dan NSAID dapat meningkatkan terjadinya kerusakan pada ginjal.
  • Lithium.
    Lithum dapat menyebabkan risiko terjadinya toksisitas.
  • Digoksin.
    Spironolakton dapat meningkatkan kadar digoksin dalam serum.
  • Norepinefrin.
    Penggunaan bersama spironolakton menurunkan respon vaskular.
  • Kolestiramin.
    Kolestiramin menyebabkan terjadinya peningkatan kadar asam yang sangat tinggi dalam tubuh (asidosis metabolik) dan peningkatan kadar kalium dalam tubuh (hiperkalemia).
  •  

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, maka dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutnya konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa untuk mengonsumsi obat, cobalah untuk menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau meminta bantuan orang lain untuk membantu mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

  • Jika Anda mengalami gangguan penglihatan, mengalami pembengkakan, peningkatan berat badan secara cepat, sesak napas, depresi berat, timbulnya perilaku yang tidak biasa, kejang, feses berdarah, batuk berdarah, nyeri pada perut bagian atas yang menyebar ke punggung, mual dan muntah, jantung berdetak cepat.
  • Jika Anda mengalami penurunan kadar kalium dalam darah yang ditandai dengan gejala kebingungan, detak jantung tidak stabil, rasa haus yang ekstrim, peningkatan frekuensi buang air kecil, kelemahan otot, dan merasa lemas.
  • Jika Anda mengalami peningkatan tekanan darah tinggi yang ditandai dengan sakit kepala yang parah, penglihatan kabur, telinga berdengung, gelisah, nye dada, sesak napas, dan kejang.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/spironolactone
Diakses pada 19 Agustus 2020

Sdrugs. https://www.sdrugs.com/
Diakses pada 19 Agustus 2020

Nhs. https://www.nhs.uk/search?collection=nhs-meta&query=spironolactone
Diakses pada 19 Agustus 2020

Medline Plus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a682627.html#:~:text=What%20should%20I%20do%20if%20I%20forget%20a%20dose%3F&text=Take%20the%20missed%20dose%20as,up%20for%20a%20missed%20one.
Diakses pada 19 Agustus 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email