Calortusin Kaplet

17 Jan 2021| Lenny Tan
Ditinjau oleh Dea Febriyani
Calortusin kaplet adalah obat untuk meringankan gejala flu seperti demam dan sakit kepala

Deskripsi obat

Calortusin kaplet adalah obat yang digunakan untuk meredakan gejala flu, seperti demam, sakit kepala, hidung tersumbat, dan bersin-bersin yang disertai batuk. Obat ini merupakan obat bebas terbatas. Calortusin kaplet mengandung zat aktif paracetamol, phenylpropanolamine hydrochloride, dextromethorphan hydrobromide, dan chlorpheniramine maleate.
Paracetamol adalah obat penghilang rasa sakit yang umum digunakan untuk mengobati sakit dan nyeri serta untuk mengurangi suhu tubuh yang tinggi.
Phenylpropanolamine digunakan untuk mengobati hidung tersumbat yang terkait dengan alergi, demam, dan flu biasa.
Dextromethorphan digunakan untuk mengatasi batuk dan chlorpheniramine maleate digunakan untuk mengatasi alergi.

Calortusin Kaplet
Golongan ObatObat bebasObat bebas terbatas. Obat yang boleh dibeli secara bebas tanpa menggunakan resep dokter, namun aturan pakai serta efek sampingnya perlu diperhatikan.
HETRp 75.000/box per November 2019
Kandungan utamaParacetamol, dextrometorphan hydrobromide, phenylpropanolamine hydrochloride, dan chlorpheniramine maleat.
Kelas terapiObat batuk dan flu.
Klasifikasi obatAnalgesik non-opioid.
Kemasan1 box isi 10 strip @ 10 kaplet
ProdusenRama Emerald Multi Sukses

Informasi zat aktif

Paracetamol bekerja dengan mengurangi produksi prostaglandin di otak. Prostaglandin merupakan senyawa yang menyebabkan peradangan dan pembengkakan,

Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, paracetamol diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diserap dengan baik setelah pemberian oral. Waktu saat obat mencapai kadar tertinggi dalam plasma (waktu puncak konsentrasi plasma) sekitar 10-60 menit (oral).
  • Distribusi: Didistribusikan ke sebagian besar jaringan tubuh. Melintasi plasenta dan memasuki ASI.
  • Metabolisme: Terutama dimetabolisme di hati melalui konjugasi asam glukuronat dan sulfat, selanjutnya dimetabolisme melalui konjugasi dengan glutathione di hati dan ginjal.
  • Ekskresi: Melalui urine kurang dari 5% sebagai obat yang tidak berubah, 60-80% sebagai metabolit glukuronida, dan 20-30% sebagai metabolit sulfat. Waktu yang dibutuhkan obat untuk dikeluarkan oleh tubuh dari separuh kadar awal obat (waktu paruh eliminasi) sekitar 1-3 jam.

Phenylpropanolamine digunakan secara oral sebagai garam HCl untuk mengatasi hidung tersumbat.

Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, phenylpropanolamine diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diserap dengan mudah dan sempurna dari saluran pencernaan. Waktu saat obat mencapai kadar tertinggi dalam plasma (waktu untuk konsentrasi plasma puncak) 1-2 jam.
  • Metabolisme: Menjalani metabolisme hati parsial.
  • Ekskresi: Melalui urine 80-90% (tidak berubah). Waktu yang dibutuhkan obat untuk dikeluarkan oleh tubuh dari separuh kadar awal obat (waktu paruh) sekitar 3-5 jam.

Chlorpheniramine maleate merupakan obat antihistamin yang membantu mengurangi gejala alergi dengan mencegah efek zat histamin. Histamin diproduksi oleh tubuh sebagai respons terhadap zat asing yang membuat tubuh alergi. 

Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, chlorpheniramine maleate diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diserap dengan baik dari saluran pencernaan. Makanan di perut menunda penyerapan, tetapi tidak mempengaruhi kadar obat yang masuk ke dalam peredaran darah.
  • Distribusi: Didistribusikan secara luas ke dalam tubuh; sekitar 72% terikat protein.
  • Metabolisme: Metabolisme sebagian besar di sel mukosa pencernaan dan hati (efek lintasan pertama).
  • Ekskresi: Waktu yang dibutuhkan obat untuk dikeluarkan oleh tubuh dari separuh kadar awal obat (waktu paruh) adalah 12 hingga 43 jam pada orang dewasa dan 10 hingga 13 jam pada anak-anak. Obat dan metabolit dibuang dalam urine.

Dextromethorphan menekan refleks batuk dengan tindakan langsung di pusat batuk di medula (jaringan ginjal yang halus).
Dextromethorphan memiliki potensi meringankan batuk kering (antitusif) yang hampir sama dengan obat batuk codein, tetapi tidak menyebabkan kecanduan dan tidak memiliki aksi ekspektoran (merangsang pengeluaran dahak).

Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, dextromethorphan diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diserap dengan mudah dari saluran cerna.
  • Distribusi: Tidak diketahui.
  • Metabolisme: Dimetabolisme secara ekstensif oleh hati.
  • Ekskresi: Sedikit yang diekskresikan tidak berubah terutama dalam urine, sekitar 7% sampai 10% diekskresikan dalam tinja.

Indikasi (manfaat) obat

Meringankan gejala flu, seperti:

  • Demam.
  • Sakit kepala.
  • Hidung tersumbat.
  • Bersin disertai batuk.

Paracetamol memberikan efek pereda nyeri (analgesik) dengan cara meningkatkan ambang batas nyeri. Selain itu, paracetamol mampu menurunkan demam (antipiretik) melalui tindakan langsung pada pusat pengatur panas hipotalamus di otak.
Dextromethorphan digunakan untuk meredakan batuk,, tetapi tidak akan mengobati penyebab batuk atau mempercepat pemulihan. Dextromethorphan merupakan obat antitusif yang bekerja dengan cara mengurangi aktivitas di bagian otak yang menyebabkan batuk.
Phenylpropanolamine merupakan obat untuk mengatasi hidung tersumbat (dekongestan) yang bekerja dengan menyempitkan atau mengecilkan pembuluh darah vena dan arteri di tubuh Anda. Penyempitan pembuluh darah di sinus, hidung, dan dada akan memungkinkan drainase atau pengaliran di area tersebut, sehingga mengurangi penyumbatan.
Chlorpheniramine maleat dapat mengurangi gejala alergi, seperti bersin, serta mata dan hidung berair dengan cara mencegah efek zat histamin.

Komposisi obat

  • Paracetamol 500 mg.
  • Phenylpropanolamine hydrochloride 15 mg.
  • Dextromethorphan hydrobromide 15 mg.
  • Chlorphenamine maleate 2 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Dewasa dan anak-anak berusia 12 tahun ke atas: 1 kaplet sebanyak 3 kali/hari.
  • Anak-anak berusia 6-12 tahun: ½ kaplet sebanyak 3 kali/hari.

Aturan pakai obat

Dikonsumsi sesuai petunjuk penggunaan atau anjuran dokter.

Efek samping obat

  • Mengantuk.
    Beristirahatlah dan jangan mengemudikan kendaraan atau menjalankan mesin ketika mengantuk.
  • Mulut kering.
    Cobalah mengonsumsi permen atau permen karet bebas gula.
  • Gangguan pencernaan.
  • Gangguan fisik dan kerja otot (psikomotor).
  • Gangguan pada kandung kemih untuk mengeluarkan urine (retensi urin).
  • Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan hati.
  • Detak jantung melebihi 100 kali per menit (takikardia).
  • Gangguan irama jantung (aritmia).
  • Jantung berdebar-debar (palpitasi).

Cara penyimpanan obat

Simpan pada suhu di bawah 30°C dan terlindung dari cahaya matahari langsung.

Perhatian Khusus

  • Pasien dengan asma.
  • Pasien dengan tekanan dalam bola mata tinggi (glaukoma).
  • Dapat mengganggu kemampuan mengemudi atau mengoperasikan mesin.
  • Pasien penderita pembesaran prostat jinak (hipertrofi prostat).
  • Pasien penderita gangguan pada kandung kemih untuk mengeluarkan urine (retensi urine).
  • Pasien penderita debil dan kekurangan oksigen (hipoksia).
  • Pasien penderita gangguan fungsi pernapasan.
  • Tidak dianjurkan pada anak-anak berusia di bawah 6 tahun, kecuali atas persetujuan dokter
  • Pasien yang mengonsumsi alkohol akan meningkatkan risiko kerusakan fungsi hati
  • Pasien penderita kemampuan berpikir yang rendah (debil) dan kekurangan oksigen (hipoksia).
  • Wanita hamil dan menyusui.

Kategori kehamilan

Paracetamol.
Kategori B: Penelitian tidak menemukan efek malformasi atau efek yang mengganggu perkembangan janin pada trimester pertama dan selanjutnya.
Studi pada reproduksi hewan telah membuktikan tingkat keamanan obat ini.

Phenylpropanolamine hydrochloride, chlorphenamine maleate, dextrometorphan hydrobromide.
Kategori C: Belum terdapat penelitian terkontrol untuk penggunaan Calortusin kaplet pada ibu hamil. Namun, ada efek samping yang mungkin dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan janin.
Oleh karena itu, penggunaannya pada ibu hamil hanya dapat dilakukan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin.
Konsultasikan penggunaan obat ini dengan dokter sebelum digunakan.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini.
  • Pasien penderita kencing manis (diabetes melitus).
  • Pasien penderita gangguan fungsi hati berat.
  • Pasien penderita gangguan jantung.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Penghambat monoamin oksidase (MAOI) yang digunakan untuk mengatasi depresi.
    Penggunaan bersama obat di atas dapat meningkatkan tekanan darah (hipertensi).
  • Obat yang memberikan rangsangan pada saraf (antikoagulan), misalnya warfarin.
    Penggunaan bersama warfarin dapat meningkatkan risiko perdarahan.
  • Phenobarbital, karbamazepin, dan phenytoin.
    Penggunaan bersama obat di atas dapat meningkatkan potensi kerusakan hati.
  • Colestiramine dan lixisenatide.
    Penggunaan bersama obat di atas dapat menurunkan efektivitas paracetamol.

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutkan mengonsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali atas anjuran dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa menggunakan obat, cobalah menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau mintalah bantuan orang lain mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian sesuai kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Hentikan penggunaan dan hubungi dokter jika:

  • Demam tidak kunjung turun setelah mengonsumsi obat selama 3 hari dan nyeri tidak hilang setelah 5 hari.
  • Timbulnya ruam pada kulit, kemerahan atau pembengkakan, serta sakit kepala berkelanjutan.
  • Gejala semakin memburuk atau timbul gejala baru.

Sesuai kemasan per November 2019

Medlineplus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a682543.html
Diakses pada 30 Desember 2020

Drugs. https://www.drugs.com/mtm/phenylpropanolamine.html
Diakses pada 30 Desember 2020

Drugbank. https://go.drugbank.com/drugs/DB00397
Diakses pada 30 Desember 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/pain-relief/acetaminophen-tylenol-side-effects#about-acetaminophen
Diakses pada 30 Desember 2020

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/guaifenesin?mtype=generic
Diakses pada 30 Desember 2020

Glowm. https://www.glowm.com/resources/glowm/cd/pages/drugs/c049.html
Diakses pada 30 Desember 2020

Glowm. https://www.glowm.com/resources/glowm/cd/pages/drugs/a004.html
Diakses pada 30 Desember 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email