Bufect Forte Suspensi 50 ml

03 Jan 2020| Aby Rachman
Bufect forte suspensi adalah obat untuk meringankan nyeri ringan sampai sedang dan menurunkan demam.

Deskripsi obat

Bufect forte suspensi adalah obat untuk meringankan nyeri ringan sampai sedang dan menurunkan demam. Obat ini merupakan obat bebas terbatas. Bufect forte suspensi mengandung zat aktif ibuprofen.
Bufect Forte Suspensi 50 ml
Golongan ObatObat bebasObat bebas terbatas. Obat yang boleh dibeli secara bebas tanpa menggunakan resep dokter, namun aturan pakai serta efek sampingnya perlu diperhatikan.
Kemasan1 box isi 1 botol @ 50 ml
ProdusenSanbe Farma

Indikasi (manfaat) obat

  • Meringankan nyeri ringan sampai sedang pada sakit gigi atau sesudah pencabutan gigi, sakit kepala, nyeri setelah operasi, nyeri pada peradangan sendi, nyeri karena terlkilir.
  • Menurunkan demam.

Ibuprofen adalah obat penghambat non-selektif dari enzim siklooksigenase (COX), yang dibutuhkan tubuh untuk produksi prostaglandin atau senyawa yang menyebabkan terjadinya peradangan melalui jalur asam arakidonat. COX diperlukan untuk mengubah asam arakidonat menjadi prostaglandin H2 (PGH2). Ibuprofen bekerja dengan menghambat produksi prostaglandin, sehingga obat ini mampu mengatasi berbagai gejala dari peradangan tersebut.

Komposisi obat

Tiap 5 ml: ibuprofen 200 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa: 5 ml sebanyak 3-4 kali/hari.

Anak-anak:

  • 3-7 tahun: 2,5 ml sebanyak 3-4 kali/hari.
  • 8-12 tahun: 5 ml sebanyak 3-4 kali/hari.
    • Untuk mengurangi nyeri dan menurunkan demam: 20 mg/kg BB dalam 2 dosis terbagi.

Dihitung dengan mengalikan berat badan pasien.

Aturan pakai obat

Sebaiknya diikonsumsi setelah makan.

Efek samping obat

  • Nyeri pada perut bagian atas.
  • Diare.
  • Gangguan fungsi hati.
  • Anemia.
  • Penglihatan kabur.
  • Kesulitan buang air besar (konstipasi).
  • Pusing.
  • Meningkatkan tekanan darah menjadi tinggi atau di atas normal (hipertensi).
  • Telinga berdering (tinnitus).
  • Gangguan perubahan mood.
  • Leher terasa kaku.
  • Urin berwarna gelap.
  • Perubahan warna pada kulit dan sklera mata yang menjadi kekuningan.
  • Reaksi alergi seperti gatal dan ruam pada kulit.
  • Reaksi alergi berat (reaksi anafilaksis).
  • Dapat meningkatkan kadar kalium dalam darah (hiperkalemia).
  • Pembengkakan akibat adanya penumpukan cairan pada jaringan (edema).
  • Kegagalan sumsum tulang membentuk granulosit (agranulositosis).
  • Penurunan kadar trombosit dalam darah (trombositopenia).
  • Kegagalan sumsum tulang memproduksi sel darah baru (anemia aplastik).
  • Sakit kepala.
    Pastikan untuk beristirahat dan mengonsumsi banyak cairan, hindari konsumsi alkohol. Namun, jika sakit kepala tidak hilang selama lebih dari 1 minggu atau sakit kepala menjadi parah, segera hubungi dokter Anda.
  • Pusing.
    Hentikan aktivitas kemudian duduk atau berbaring hingga Anda merasa membaik. Hindari mengonsumsi kopi, rokok, dan alkohol. Jika pusing tidak membaik dalam beberapa hari, segera hubungi dokter atau apoteker Anda.
  • Mual.
    Hindari mengonsumsi makanan terlalu banyak dan hindari mengonsumsi makanan pedas.
  • Muntah.
    Minumlah air dalam jumlah sedikit dan minumlah sesering mungkin. Namun, jika Anda mengalami gejala dehidrasi seperti mengeluarkan urin berwarna gelap dan memiliki bau yang kuat, segera hubungi dokter Anda.
  • Buang angin.
    Hindari mengonsumsi makanan yang mengandung gas seperti bawang dan kacang-kacangan. Dapat juga mengonsumsi obat seperti karbon aktif atau simetikon.
  • Gangguan pada saluran pencernaan.
    Jika mengalami gangguan pada saluran pencernaan secara berulang, hentikan mengonsumsi ibuprofen dan segera hubungi dokter Anda. Untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada perut dalam sementara dapat mengonsumsi antasida.

Perhatian Khusus

  • Pasien yang mengalami serangan jantung.
  • Pasien penderita tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Pasien yang memiliki kadar lemak yang tinggi dalam darah (hiperlipidemia).
  • Pasien penderita kencing manis (diabetes melitus).
  • Pasien yang mengalami perdarahan pada saluran pencernaan.
  • Pasien penderita anemia.
  • Pasien yang mengalami stroke.
  • Pasien penderita gagal jantung.
  • Pasien penderita asma.
  • Pasien lanjut usia.
  • Pasien yang mengonsumsi obat antiinflamasi non-steroid lain, obat pengencer darah, dan obat yang menghambat pembekuan pada darah (antikoagulan).
  • Tidak untuk penggunaan jangka panjang.
  • Anak-anak terutama bayi yang lahir prematur.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini (ibuprofen) atau obat antiinflamasi non-steroid (NSAID) lainnya.
  • Pasien dengan riwayat gangguan perdarahan pada saluran pencernaan.
  • Pasien penderita luka pada saluran pencernaan.
  • Pasien penderita gagal jantung atau pasien yang telah menjalani operasi bypass.
  • Pasien penderita gagal ginjal atau hati.
  • Wanita hamil pada trimester ketiga.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Obat antiinflamasi non-steroid lain seperti aspirin, obat penghambat pembekuan darah (antikoagulan) seperti warfarin, dan obat kortikosteroid.
    Penggunaan bersama salah satu obat tersebut dapat menyebabkan peningkatan risiko terjadinya luka dan perdarahan pada saluran pencernaan.
  • Siklosporin dan takrolimus.
    Penggunaan ibuprofen bersama dengan obat tersebut dapat menyebabkan terjadinya risiko peningkatan kadar kalium dalam darah dan menyebabkan toksisitas pada ginjal.
  • Metotreksat dan lithium.
    Penggunaan bersama ibuprofen dapat menyebabkan risiko terjadinya keracunan.
  • Lisinopril, kaptopril, dan ramipril.
    Ibuprofen dapat mengurangi efektivitas obat antihipertensi tersebut.

Sesuai kemasan per Januari 2020

Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/ibuprofen-for-adults/
Diakses pada 7 Agustus 2020

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/ibuprofen
Diakses pada 7 Agustus 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-5166-9368/ibuprofen-oral/ibuprofen-oral/details
Diakses pada 7 Agustus 2020

Medline Plus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a682159.html
Diakses pada 7 Agustus 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Penyebab Gigi Keropos yang Mungkin Tidak Anda Sadari Sebelumnya

Penyebab gigi keropos, antara lain mengonsumsi soda berlebihan, mulut kering, hingga refluks asam lambung. Hal tersebut menyebabkan lapisan enamel gigi rusak atau menipis.Baca selengkapnya
Penyebab Gigi Keropos yang Mungkin Tidak Anda Sadari Sebelumnya

Cara Menurunkan Panas pada Bayi Ketika Si Kecil Demam, Bagaimana?

Cara menurunkan panas pada bayi bisa dilakukan dengan memberikan obat parasetamol dan ibuprofen untuk anak. Harap diwaspadai jika anak mengalami tanda-tanda seperti muntah dan kejang saat demam
08 Oct 2019|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
Cara Menurunkan Panas pada Bayi Ketika Si Kecil Demam, Bagaimana?

Cara Mengatasi Gigi Berlubang yang Tepat Menurut Dokter Gigi

Cara mengatasi gigi berlubang bisa berbeda tergantung dari tingkat keparahannya. Pada gigi yang lubangnya masih kecil, maka pemberian fluoride dan penambalan gigi masih bisa dilakukan. Jika lubangnya sudah terlalu besar, maka penambalan biasanya akan sulit dilakukan dan perlu perawatan saluran akar atau pencabutan.
15 Apr 2019|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Cara Mengatasi Gigi Berlubang yang Tepat Menurut Dokter Gigi