Brufen Suspensi 60 ml

15 Okt 2020
Golongan
Obat bebasObat bebas terbatas. Obat yang boleh dibeli secara bebas tanpa menggunakan resep dokter, namun aturan pakai serta efek sampingnya perlu diperhatikan.
HET
Kemasan
1 box isi 1 botol @ 60 ml
Produsen
Abbott Indonesia
Brufen suspensi adalah obat untuk mengatasi demam, nyeri seperti sakit gigi dan sakit kepala, serta peradangan pada anak. Obat ini termasuk dalam golongan obat bebas terbatas. Brufen suspensi mengandung zat aktif ibuprofen.

Mengatasi nyeri, menurunkan demam, dan peradangan seperti pada kondisi:

Ibuprofen adalah obat yang dapat menghambat non-selektif dari enzim siklooksigenase (COX), yang dibutuhkan tubuh untuk produksi prostaglandin atau senyawa yang menyebabkan terjadinya peradangan melalui jalur asam arakidonat. Dengan terhambatnya pembentukan prostaglandin maka gejala peradangan seperti demam dan nyeri dapat dihentikan.

Tiap 5 ml: ibuprofen 100 mg.

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa:

  • Meredakan nyeri: 2 sendok takar 5 ml (10 ml) sebanyak 3-4 kali/hari.

Anak-anak:

  • Menurunkan demam dan meredakan nyeri:
    • 1-2 tahun: ½ sendok takar 5 ml (2,5 ml) sebanyak 3-4 kali/hari.
    • 3-7 tahun: 1 sendok takar 5 ml sebanyak 3-4 kali/hari.
    • 6-12 tahun: 2 sendok takar 5 ml (10 ml) sebanyak 3-4 kali/hari.
Sebaiknya dikonsumsi dengan makanan.
  • Buang angin.
    Hindari mengonsumsi makanan yang mengandung gas seperti bawang dan kacang-kacangan. Dapat juga mengonsumsi obat seperti karbon aktif atau simetikon.
  • Pusing.
    Hentikan aktivitas kemudian duduk atau berbaring hingga Anda merasa membaik. Hindari mengonsumsi kopi, rokok, dan alkohol. Jika pusing tidak membaik dalam beberapa hari, segera hubungi dokter atau apoteker Anda.
  • Muntah atau diare.
    Minumlah air dalam jumlah sedikit dan minumlah sesering mungkin. Namun, jika Anda mengalami gejala dehidrasi seperti mengeluarkan urin berwarna gelap dan memiliki bau yang kuat, segera hubungi dokter Anda.
  • Gangguan pada saluran pencernaan.
    Jika mengalami gangguan pada saluran pencernaan secara berulang, hentikan mengonsumsi ibuprofen dan segera hubungi dokter Anda. Untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada perut dalam sementara dapat mengonsumsi antasida.
  • Sakit kepala.
    Pastikan untuk beristirahat dan mengonsumsi banyak cairan, hindari konsumsi alkohol. Namun, jika sakit kepala tidak hilang selama lebih dari 1 minggu atau sakit kepala menjadi parah, segera hubungi dokter Anda.
  • Mual.
    Hindari mengonsumsi makanan terlalu banyak dan hindari mengonsumsi makanan pedas.
  • Gangguan fungsi hati.
  • Anemia.
  • Penglihatan kabur.
  • Nyeri pada perut bagian atas.
  • Kesulitan buang air besar (konstipasi).
  • Urin berwarna gelap.
  • Pusing.
  • Meningkatkan tekanan darah menjadi tinggi atau di atas normal (hipertensi).
  • Dapat meningkatkan kadar kalium dalam darah (hiperkalemia).
  • Pembengkakan akibat adanya penumpukan cairan pada jaringan (edema).
  • Kegagalan sumsum tulang membentuk granulosit (agranulositosis).
  • Kegagalan sumsum tulang memproduksi sel darah baru (anemia aplastik).
  • Perubahan warna pada kulit dan sklera mata yang menjadi kekuningan.
  • Reaksi alergi seperti gatal dan ruam pada kulit.
  • Reaksi alergi berat (reaksi anafilaksis).
  • Telinga berdengung (tinnitus).
  • Gangguan perubahan mood.
  • Leher terasa kaku.
  • Penurunan kadar trombosit dalam darah (trombositopenia).
  • Pasien penderita gagal ginjal atau hati.
  • Pasien yang mengalami luka pada dinding usus atau lambung.
  • Ibu menyusui.
  • Pasien penderita luka pada saluran pencernaan.
  • Pasien penderita gagal jantung atau pasien yang telah menjalani operasi bypass.
  • Wanita hamil pada trimester ketiga.
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap ibuprofen atau obat antiinflamasi non-steroid lainnya.
  • Pasien dengan riwayat gangguan perdarahan pada saluran pencernaan.
  • Pasien dengan riwayat luka pada dinding lambung atau usus.
  • Pasien penderita gangguan fungsi ginjal atau hati.
  • Pasien penderita gagal jantung.
  • Pasien penderita tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Pasien dengan gangguan pembekuan darah.
  • Pasien penderita asma.
  • Anak-anak 1 tahun ke bawah.
  • Wanita hamil.
  • Pasien penderita penyakit yang menyebabkan terjadinya retensi cairan.
  • Siklosporin dan takrolimus.
    Penggunaan ibuprofen bersama dengan obat tersebut dapat menyebabkan terjadinya risiko peningkatan kadar kalium dalam darah dan menyebabkan toksisitas pada ginjal.
  • Metotreksat dan lithium.
    Penggunaan bersama ibuprofen dapat menyebabkan risiko terjadinya keracunan.
  • Obat antiinflamasi non-steroid lain seperti aspirin, obat penghambat pembekuan darah (antikoagulan) seperti warfarin, dan obat kortikosteroid.
    Penggunaan bersama salah satu obat tersebut dapat menyebabkan peningkatan risiko terjadinya luka dan perdarahan pada saluran pencernaan.
  • Lisinopril, kaptopril, dan ramipril.
    Ibuprofen dapat mengurangi efektivitas obat antihipertensi tersebut.

https://www.mims.com/indonesia/drug/info/brufen?type=brief&lang=id
Diakses pada 23 September 2020

Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/ibuprofen-for-adults/
Diakses pada 23 September 2020

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/ibuprofen
Diakses pada 23 September 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-5166-9368/ibuprofen-oral/ibuprofen-oral/details
Diakses pada 23 September 2020

Medline Plus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a682159.html
Diakses pada 23 September 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email