Toksin Botulinum zat yang memilik efek terapeutik yang digunakan untuk mengurangi kerutan pada bagian wajah dalam bidang kecantikan
Toksin Botulinum diketahui memiliki efek terapeutik, dan banyak digunakan dalam bidang medis maupun kecantikan

Botox, Lanzox

Botulinum toxin atau toksin botulinum adalah zat yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium botulinum. Zat yang dihasilkan ini menyebabkan paralisis (kelumpuhan) dan lemasnya otot.

Toksin botulinum diketahui memiliki efek terapeutik, dan banyak digunakan dalam bidang medis. Misalnya, untuk mengobati strabismus (mata juling), beberapa kelainan spatisitas (kekakuan) otot, dan otot yang berkontraksi/bekerja secara berlebih. Sedangkan dalam bidang kecantikan, zat ini umumnya dipakai guna mengurangi kerutan pada bagian sepertiga wajah atas (seperti, kerutan pada kening dan sekitar mata) untuk sementara waktu.

Kinerja toksin botulinum adalah dengan cara mengganggu transmisi saraf melalui penghambatan zat asetikolin, yang penting pada proses transmisi saraf yang pada akhirnya menyebabkan otot menjadi lemas.

Terdapat delapan macam protein toksin botulinum. Dua jenis toksin botulinum yang sering digunakan adalah tipe A dan B.

Tipe A merupakan toksin paling poten untuk kebutuhan kecantikan. Sementara tipe B umumnya digunakan untuk kondisi medis, seperti distonia.

Toksin botulinum membutuhkan waktu sekitar 1-3 hari untuk bekerja, namun bisa pula sampai 5 hari pada beberapa orang. Toksin ini mencapai puncak efektivitasnya setelah 10 hari dan efek yang ditimbulkan biasanya bertahan selama 2-3 bulan.

Botulinum Toxin (Toksin Botulinum)
Golongan

Pelemas otot

Kategori obat

Obat resep

Bentuk sediaan obat

Suntik

Dikonsumsi oleh

Dewasa

Kategori kehamilan dan menyusui

Kategori C: Penelitian pada binatang percobaan menunjukkan efek samping terhadap janin dan tidak ada penelitian terkontrol pada wanita; atau belum ada penelitian pada wanita hamil atau binatang percobaan. Obat hanya dapat diberikan jika manfaat yang diperoleh melebihi besarnya risiko yang mungkin timbul pada janin.

Keamanan penggunaan toksin botulinum selama menyusui belum diketahui. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum menggunakannya.

Dosis obat

Dosis setiap orang pasti berbeda-beda. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat.

Strabismus

  • Untuk otot vertikal dan strabismus horizontal <20 prisma dioptri: 1,25-2,5 unit pada 1 otot.
  • Untuk strabismus horizontal dengan dioptri prisma 20-50: 2,5-5 unit pada 1 otot.
  • Untuk kelumpuhan saraf VII persisten ≥ 1 bulan: 1,25-2,5 unit pada otot rektus medial.
  • Dosis maksimal: 25 unit sebagai injeksi tunggal untuk setiap otot.

Blefarospasme

  • Dosis awal 1,25-2,5 unit ke dalam orbicularis okuli pre-tarsal medial dan lateral pada kelopak atas, dan ke dalam orbicularis oculi pre-tarsal lateral pada kelopak bawah. 

Linea glabelar

  • 0,1 mL pada setiap 5 tempat, 2 di setiap otot corrugator & 1 di otot procerus. Total dosis: 20 unit. 

Linea kantus lateralis

Suntikkan 4 unit / 0,1 mL ke dalam 3 tempat per sisi (total injeksi 6 titik) pada otot orbicularis oculi lateral. Dosis total: 24 unit.

Selalu ikuti anjuran dari dokter atau baca petunjuk di kemasan obat toksin botulinum sebelum penggunaan.

Toksin botulinum ada dalam sediaan bubuk dan harus dilarutkan. Kemudian diinjeksikan pada bagian otot yang mengalami kelainan.

Jika digunakan untuk mengobati nyeri kepala, obat ini disuntikkan ke area otot kepala. Sementara untuk mengobati keringat yang berlebih, toksin ini disuntikkan pada kulit.

Setelah injeksi/penyuntikan toksin botulinum, disarankan tidak berbaring selama 4 jam, tidak melakukan aktivitas berat selama 1-2 hari, tidak mengonsumsi alkohol, dan tidak melakukan facial, atau pemijatan wajah selama 1-2 minggu. Hal ini berfungsi untuk meminimalisir kemungkinan toksin berpindah ke otot sekitarnya akibat peningkatan sirkulasi darah dan manipulasi tekanan langsung.

Karena efek dari penyuntikan toksin botulinum hanya bertahan selama 3 bulan, diperlukan penyuntikan rutin dalam rentang waktu tertentu. Beberapa pasien yang memiliki respons baik terhadap toksin, akan membentuk antibodi penetral bagi toksin ini dan terjadi toleransi.

Hal tersebut sering terjadi pada pasien yang sering mendapatkan suntikan toksin botulinum dan pasien yang menggunakannya dalam dosis tinggi. Oleh sebab itu, suntikan tidak boleh diberikan terlalu sering dan harus dimulai dari dosis terendah.

Pemakaian obat umumnya memiliki efek samping tertentu dan bersifat individual. Jika terjadi efek samping yang berlebih, harus segera di tangani oleh tenaga medis.

Toksin botulinum dapat menyebabkan efek samping yang meliputi:

  • Gatal / bengkak pada daerah yang disuntik.
  • Bronkitis.
  • Sinusitus.
  • Radang tenggorokan.
  • Kulit terasa kencang.
  • Iritasi kulit.
  • Ruam.
  • Nyeri kepala.
  • Nyeri pada bagian wajah.
  • Kesulitan bernapas.
  • Kelemahan otot.
  • Mual dan rasa tidak nyaman pada perut.
  • Sulit menelan.
  • Kejang.

Ada beberapa efek samping lain yang mungkin belum terdaftar. Jika Anda mempunyai efek samping selain dari yang terdaftar di atas, segera konsultasikan ke dokter Anda.

Beritahukan dan konsultasikan dengan dokter Anda mengenai riwayat penyakit Anda sebelumnya, terutama bila Anda memiliki riwayat atau kondisi berikut:

  • Penyakit jantung dan pembuluh darah.
  • Pemakaian tidak boleh lebih sering dari 3 bulan sekali.
  • Anak di bawah usia 12 tahun dan lansia.

Jangan mengonsumsi obat ini jika mempunyai kondisi medis di bawah ini:

  • Alergi terhadap kandungan yang ada dalam zat ini.
  • Kelainan neuromuskular, seperti myastenia gravis, sindrom Eaton Lambert, amiotropik lateral sklerosis.
  • Peradangan kulit pada tempat yang akan disuntik.
  • Keloid.
  • Bell’s palsy.
  • Kehamilan dan menyusui.

Interaksi obat mungkin terjadi jika Anda mengonsumsi beberapa obat secara bersamaan. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum menggunakannya. Bila perlu, dokter mungkin akan mengurangi dosis atau mengganti obat dengan alternatif obat lainnya.

Mengonsumsi toksin botulinum dengan obat lain secara bersamaan dapat menyebabkan beberapa interaksi yang meliputi:

  • Aminoglikosida, linkosamid, polimiksin, Mg Sulfat, antikolinesterase dapat meningkatkan efek toksin botulinum
  • Quinine, klorokuin, hidroksiklorokuin dapat menurunakan efek toksin botulinum.
  • Penghambat kanal kalsium dan pengencer darah (warfarin dan aspirin) dapat menyebabkan lebam.

Ditinjau oleh: dr.Virly Isella

MIMS. http://www.mims.com/indonesia/drug/info/botox/?type=brief
Diakses pada 4 Januari 2019

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-153982/botox-cosmetic-injection/details
Diakses pada 4 Januari 2019

NCBI.  https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2856357/
Diakses pada 4 Januari 2019

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/325451-overview#a9
Diakses pada 4 Januari 2019

American Family Physician. https://www.aafp.org/afp/2014/0801/p168.pdf
Diakses pada 4 Januari 2019

BPOM. http://pionas.pom.go.id/monografi/toksin-botulinum-tipe
Diakses pada 4 Januari 2019

Science Direct. https://www.sciencedirect.com/topics/neuroscience/botulinum-toxin
Diakses pada 4 Januari 2019

Artikel Terkait