Bodrexin flu dan batuk PE sirup 56 ml

26 Nov 2019| Dina Rahmawati
Bodrexin PE sirup adalah obat untuk meredakan gejala flu.

Deskripsi obat

Bodrexin PE sirup adalah obat untuk meredakan gejala flu. Obat ini merupakan golongan obat bebas terbatas. Bodrexin PE sirup mengandung zat aktif parasetamol, fenileprin hci, guaifenesin, bromheksin HCl, dan klorfeniramin maleat. Parasetamol adalah obat yang mampu meredakan nyeri (analgetik) dan menurunkan demam (antipiretik), fenilefrin adalah obat untuk mangobati hidung tersumbat yang bekerja dengan cara menyempitkan pembuluh darah disekitar daerah hidung sehingga mengurangi pembengkakan dan meredakan gejala hidung tersumbat tersebut. Guaifenesin adalah ekspektoran atau obat untuk mengatasi batuk berdahak yang bekerja dengan mengencerkan dahak pada saluran pernapasan sehingga melegakan dan melancarkan pernapasan serta menghilangkan dahak yang menyumbat saluran napas. Bromheksin adalah obat untuk mengencerkan dahak, obat ini bekerja dengan mengurangi kekentalan dahak pada saluran pernapasan sehingga memudahkan pengeluaran dahak. Klorfeniramin maleat adalah untuk mengatasi alergi yang bekerja dengan cara menghambat efek dari histamin.

Bodrexin flu dan batuk PE sirup 56 ml
Golongan ObatObat bebasObat bebas terbatas. Obat yang boleh dibeli secara bebas tanpa menggunakan resep dokter, namun aturan pakai serta efek sampingnya perlu diperhatikan.
HETRp 10.445/botol (56 ml)
Kemasan1 botol @ 56 ml
ProdusenTempo Scan Pacific

Indikasi (manfaat) obat

Meredakan gejala flu seperti:

  • Demam.
  • Sakit kepala.
  • Hidung tersumbat.
  • Bersin-bersin yang disertai batuk berdahak.

Komposisi obat

Tiap 5 ml:

  • Parasetamol 100 mg.
  • Fenilefrin HCl 2,5 mg.
  • Guaifenesin 20 mg.
  • Bromheksin HCl 2 mg.
  • Klorfeniramin maleat 0,5 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Anak-anak:

  • 2-5 tahun: sesuai petunjuk dokter.
  • 6-12 tahun: 2 sendok takar 5 ml (10 ml) sebanyak 3 kali/hari.

Aturan pakai obat

Dikonsumsi sesuai dengan petunjuk dokter.

Efek samping obat

  • Mengantuk.
  • Gangguan pencernaan.
  • Gangguan psikomotor.
  • Gelisah.
  • Eksitasi.
  • Gerakan yang tidak terkontrol dan tidak terkendali pada satu atau lebih bagian tubuh (tremor).
  • Detak jantung melebihi 100 kali per menit (takikardi).
  • Gangguan detak jantung atau irama jantung (aritmia).
  • Mulut kering.
  • Jantung berdebar-debar (palpitasi).
  • Sulit berkemih.
  • Kerusakan hati.
  • Gangguan sistem kekebalan tubuh.
  • Gangguan kulit dan bawah kulit.

Perhatian Khusus

  • Pasien penderita gangguan fungsi ginjal.
  • Pasien penderita kerusakan saraf mata yang menyebabkan gangguan penglihatan dan kebutaan (glaukoma).
  • Pasien yang memiliki kadar hormon tiroid terlalu tinggi dalam tubuh (hipertiroid), pembesaran kelenjar prostat (hipertrofi prostat), dan kesulitan mengeluarkan urin (retensi urin).
  • Dapat menyebabkan kantuk, debil, dan kekurangan oksigen (hipoksia).
  • Pasien yang mengonsumsi alkohol.
  • Dapat mengganggu kemampuan mengemudi kendaraan atau menjalankan mesin.
  • Pada penggunaan dosis besar dapat menyebabkan depresi pernapasan dan susunan saraf pusat pada pasien penderita gangguan fungsi pernapasan.
  • Anak-anak 6 tahun ke bawah.
  • Pasien penderita luka pada dinding lambung (tukak lambung)
  • Kategori kehamilan dan menyusui:
    Kategori C. Penelitian pada binatang percobaan menunjukkan efek samping terhadap janin dan tidak ada penelitian terkontrol pada wanita. Atau, belum ada penelitian pada wanita hamil maupun hewan percobaan. Obat hanya boleh diberikan jika manfaatnya melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini.
  • Pasien penderita gangguan fungsi hati yang berat.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Penghambat MAO seperti fenelzin, transilpromin, dan isokarboksazid.
  • Penggunaan bersama antibiotik seperti amoksisilin, sefuroksim, eritromisin, dan doksisiklin dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi antibiotik tersebut pada jaringan paru.
  • Metoklopramid dapat meningkankan efek antinyeri pada parasetamol.
  • Karbamazepin, fenobarbital, dan fenitoin dapat meningkatkan risiko kerusakan hati.
  • Kolestiramin dan liksisenatid dapat mengurangi efek parasetamol.
  • Obat penghambat pembekuan darah seperti warfarin dapat menyebabkan peningkatan risiko terjadinya pendarahan.

Sesuai kemasan per November 2019

Drugs. https://www.drugs.com/mtm/phenylephrine.html
Diakses pada 2 Juli 2020

Drugs. https://www.drugs.com/guaifenesin.html
Diakses pada 2 Juli 2020

Drugs. https://www.drugs.com/acetaminophen.html
Diakses pada 2 Juli 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Kenali 7 Penyebab Sakit Kepala Belakang yang Sering Disepelekan

Penyebab sakit kepala belakang perlu Anda ketahui. Umumnya, kondisi ini terjadi karena postur tubuh yang buruk, migran, radang sendi pada leher, hingga sakit kepala tegang.
12 Apr 2019|Anita Djie
Baca selengkapnya
Kenali 7 Penyebab Sakit Kepala Belakang yang Sering Disepelekan

Bayi Baru Lahir Sering Bersin, Normal Atau Pertanda Sedang Sakit?

Apakah bayi Anda sering bersin? Jangan panik dulu, bayi sering bersin merupakan hal yang normal. Namun, apabila disertai gejala lainnya, bayi bersin terus menerus bisa jadi indikasi suatu penyakit.Baca selengkapnya
Bayi Baru Lahir Sering Bersin, Normal Atau Pertanda Sedang Sakit?

6 Gejala Meningitis Anak yang Harus Diwaspadai Orangtua

Gejala meningitis pada anak harus diwaspadai. Maka dari itu, orangtua harus segera membawa anak ke rumah sakit jika menemukan gejala meningitis pada anak atau bayi, seperti sering sakit kepala atau munculnya ruam kulit. Penanganan yang cepat dan tepat dapat mencegah komplikasi penyakit meningitis.
13 Aug 2019|Asni Harismi
Baca selengkapnya
6 Gejala Meningitis Anak yang Harus Diwaspadai Orangtua