Bioprexium Tablet

26 Sep 2020| Dea Febriyani
Golongan
Obat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
HET
Rp 280.000/botol (5 mg); Rp 385.000/botol (10 mg) per September 2020
Kemasan
1 box isi 1 botol @ 30 tablet (5 mg; 10 mg)
Produsen
Servier Indonesia
Bioprexium tablet adalah obat untuk mengatasi tekanan darah tinggi (hipertensi), serta menurunkan risiko stroke dan serangan jantung. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Bioprexium tablet mengandung zat aktif perindopril.
  • Mengobati tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Menurunkan risiko terjadinya stroke atau serangan jantung.
  • Mengatasi kondisi melemahnya jantung dalam memompa darah yang membuat darah yang dialirkan ke organ tidak cukup (gagal jantung).
  • Menurunkan risiko kematian atau serangan jantung jika Anda memiliki penyakit arteri koroner yang stabil.

Perindopril termasuk dalam golongan obat yang disebut inhibitor angiotensin-converting enzyme (ACE). Obat ini sering digunakan untuk mengobati kondisi serupa. Perindopril bekerja dengan membantu pembuluh darah Anda rileks dan melebar sehingga akan menurunkan tekanan darah Anda.

  • Bioprexium tablet 5 mg: perindopril 5 mg.
  • Bioprexium tablet 10 mg: perindopril 10 mg.

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa:

  • Hipertensi: 5 mg sebanyak 1 kali/hari, dosis dapat ditingkatkan hingga 10 mg sebanyak 1 kali/hari sesudah 1 bulan terapi.
  • Penyakit arteri koroner stabil:
    • Dosis awal: 5 mg/hari selama 2 minggu, dosis dapat ditingkatkan hingga 10 mg sebanyak 1 kali/hari.
  • Gagal jantung kongestif:
    • Dosis awal: 2,5 mg dosis dapat ditingkatkan hingga 5 mg.

Pasien lanjut usia:

  • Dosis awal: 2,5 mg sebanyak 1 kali/hari, dikonsumsi pada pagi hari ketika sebelum makan.
Sebaiknya dikonsumsi saat perut kosong atau sebelum makan.
  • Batuk kering yang mengiritasi.
    Obat batuk biasanya tidak membantu untuk batuk yang disebabkan oleh perindopril. Terkadang, batuknya dapat sembuh dengan sendirinya. Bicaralah dengan dokter Anda jika batuk masih terus berlanjut, mengganggu Anda, atau mengganggu tidur. Bahkan jika Anda berhenti menggunakan perindopril, batuk mungkin membutuhkan waktu hingga satu bulan untuk sembuh dari efek samping ini.
  • Merasa pusing.
    Jika perindopril membuat Anda merasa pusing saat berdiri, cobalah bangun dengan sangat lambat atau tetap duduk sampai Anda merasa lebih baik. Jika Anda mulai merasa pusing, berbaringlah agar tidak pingsan, lalu duduklah sampai Anda merasa lebih baik.
  • Sakit kepala.
    Pastikan Anda istirahat dan minum banyak cairan. Jangan minum terlalu banyak minum alkohol. Mintalah apoteker Anda untuk merekomendasikan obat penghilang rasa sakit. Bicaralah dengan dokter Anda jika berlangsung lebih dari seminggu atau parah.
  • Muntah dan diare.
    Banyak minum cairan untuk mencegah dehidrasi. Jika Anda sedang sakit, minumlah sedikit-sedikit, sesering mungkin. Bicaralah dengan apoteker jika Anda memiliki tanda-tanda dehidrasi, seperti buang air kecil lebih jarang dari biasanya atau urin berwarna gelap dan berbau menyengat. Jangan minum obat lain untuk mengobati diare atau muntah tanpa berbicara dengan apoteker atau dokter.
  • Sakit perut.
    Jika Anda mengalami diare atau muntah karena sakit perut atau penyakit, beri tahu dokter Anda. Anda mungkin perlu menghentikan penggunaan perindopril untuk sementara sampai Anda merasa lebih baik.
  • Gatal atau ruam pada kulit.
    Mungkin membantu untuk mengonsumsi obat antialergi (antihistamin) yang dapat Anda beli dari apotek. Tanyakan kepada apoteker untuk mengetahui jenis apa yang cocok untuk Anda.
  • Penglihatan kabur.
    Hindari mengemudi atau menggunakan alat atau mesin saat penglihatan Anda kabur. Jika itu berlangsung lebih dari satu atau dua hari, bicarakan dengan dokter Anda karena mereka mungkin perlu mengubah perawatan Anda.
  • Pasien dengan riwayat alergi pembengkakan pada bagian tubuh seperti sekitar mata, bibir, dan pipi (angioedema) akibat penggunaan obat ACE inhibitor.
  • Wanita hamil.
  • Pasien yang mengonsumsi bersama dengan aliskiren pada pasien diabetes atau gangguan ginjal.
  • Pasien dimana mengalami kekurangan cairan ekstrasel (volume deplesi).
  • Pasien penderita nyeri dada (angina pektoris) tidak stabil.
  • Pasien penderita tekanan darah rendah (hipotensi).
  • Pasien yang mengalami katup jantung yang menebal (mitral valve) dan penyempitan katup jantung (stenosis aorta).
  • Pasien yang mengalami penebalan pada jantung tanpa adanya penyebab yang jelas (kardiomiopati hipertrofik).
  • Pasien dengan peningkatan tekanan darah sistolik dan atau diastolik (hipertensi renovaskular).
  • Pasien penderita gangguan ginjal.
  • Pasien penderita penyakit kuning atau gejala elevasi enzim hati.
  • Pasien penyakit kolagen pembuluh darah.
  • Pasien yang menggunakan bersamaan dengan imunosupresan, allupurinol atau terapi prokainamid.
  • Pasien yang menjalankan operasi besar.
  • Pasien yang memiliki kadar kalium yang tinggi dalam darah (hiperkalemia).
  • Pasien penderita penyakit diabetes.
  • Pasien yang mengalami intoleransi galaktosa, malabsorpsi glukosa-galaktosa, defisiensi Lapp-laktase.
  • Lakukan pemeriksaan jumlah darah lengkap dan kadar serum K.
  • Wanita hamil pada trimester pertama.
  • Anak-anak dan remaja di bawah 18 tahun.
  • Obat antihipertensi, diuretik, nitrat, dan baklofen.
    Penggunaan bersama obat di atas dapat meningkatkan efek penurunan tekanan darah hingga di bawah batas normal (hipotensi).
  • Diuretik hemat K misalnya spironolakton dan eplerenon, suplemen K, atau agen lain yang mempengaruhi konsentrasi K serum misalnya trimetoprim, siklosporin, dan heparin.
    Penggunaan bersama obat di atas dapat menyebabkan terjadinya peningkatan risiko peningkatan kadar kalium dalam darah (hiperkalemia).
  • Insulin dan agen hipoglikemik oral.
    Penggunaan bersama obat di atas dapat menyebabkan efek penurunan kadar gula dalam darah (hipoglikemia).
  • Temsirolimus, sirolimus, everolimus, inhibitor netral endopeptidase (NEP) misalnya racecadotril, dan inhibitor dipeptidyl peptidase-IV (DPP-IV) seperti sitagliptin dan linagliptin.
    Penggunaan bersama obat di atas dapat meningkatkan risiko pembengkakan pada sekitar pipi, mata dan mulut yang disebabkan karena alergi (angioedema).
  • Obat antiinflamasi non-steroid (NSAID) seperti aspirin.
    Penggunaan bersama obat di atas dapat menyebabkan kerusakan fungsi ginjal dan mengurangi efek penurunan tekanan darah (antihipertensi) dari peridopril.
  • Lithium.
    Peridopril dapat meningkatkan kadar serum dan menyebabkan keracunan litium.
  • Na aurothiomalat.
    Penggunaan bersama obat di atas dapat menyebabkan reaksi nitritoid yang ditandai dengan kemerahan pada wajah, mual, muntah, dan penurunan tekanan darah (hipotensi).
  • Aliskiren.
    Peningkatan risiko penurunan tekanan darah (hipotensi), peningkatan kadar kalium dalam darah (hiperkalemia), dan perubahan fungsi ginjal dengan aliskiren.
  • Sacubitril atau valsartan.
    Penggunaan bersama obat di atas dapat meningkatkan risiko pembengkakan pada sekitar pipi, mata dan mulut yang disebabkan karena alergi (angioedema).

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/bioprexum?type=brief&lang=id
Diakses pada 8 September 2020

Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/perindopril/
Diakses pada 8 September 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/perindopril-oral-tablet#about
Diakses pada 8 September 2020

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a602017.html
Diakses pada 8 September 2020

Drugs. https://www.drugs.com/mtm/perindopril.html
Diakses pada 8 September 2020

Patient. https://patient.info/medicine/perindopril-an-ace-inhibitor
Diakses pada 8 September 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

5 Obat Kolesterol di Apotik yang Manjur

Ada berbagai macam obat kolesterol di apotik yang terbukti aman dan efektif untuk menurunkan kadar kolesterol tinggi. Apa saja?
09 Dec 2019|Rieke Saraswati
Baca selengkapnya
5 Obat Kolesterol di Apotik yang Manjur

Kolesterol Normal yang Perlu Dijaga Demi Kesehatan Masa Depan

Kolesterol normal untuk orang dewasa, kadarnya adalah 60 mg/dl untuk kolesterol HDL dan 100 mg/dl untuk kolesterol LDL. Menjaganya tetap pada angka tersebut sangatlah penting.
05 Jun 2019|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
Kolesterol Normal yang Perlu Dijaga Demi Kesehatan Masa Depan

Mengenal Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC 8 dan Faktor Risikonya

Klasifikasi hipertensi menurut JNC 8 adalah prahipertensi, hipertensi tahap 1, dan hipertensi tahap 2. Berikut ini penjelasan lengkapnya untuk Anda.
06 Sep 2020|Asni Harismi
Baca selengkapnya
Mengenal Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC 8 dan Faktor Risikonya