Berotec inhaler 200 dosis untuk pengobatan serangan asma akut, pencegahan asma akibat olahraga, terapi simtomatik asma bronkial dan bronkitis obstruktif kronik.
Berotec inhaler 200 dosis untuk pengobatan serangan asma akut, pencegahan asma akibat olahraga, terapi simtomatik asma bronkial dan bronkitis obstruktif kronik.
Berotec inhaler 200 dosis untuk pengobatan serangan asma akut, pencegahan asma akibat olahraga, terapi simtomatik asma bronkial dan bronkitis obstruktif kronik.
Berotec inhaler 200 dosis untuk pengobatan serangan asma akut, pencegahan asma akibat olahraga, terapi simtomatik asma bronkial dan bronkitis obstruktif kronik.
Golongan obat Merah Obat keras: diharuskan menggunakan resep dokter.
HET Rp 248.491/box (200 dosis) per September 2019
Kemasan 1 inhaler @ 200 dosis
Produsen Boehringer Ingelheim Indonesia

Berotec adalah obat yang diindikasikan penggunaannya pada asma akut dan masalah paru lainnya yang menyebabkan saluran napas menyempit. Obat ini merupakan obat keras yang memerlukan resep dokter. Berotec mengandung zat aktif fenoterol hydrobromide.

Pengobatan serangan asma akut, pencegahan asma akibat olahraga, terapi simtomatik asma bronkial dan bronkitis obstruktif kronik.

Tiap semprot: Fenoterol hydrobromide 100 mcg, ethyl alcohol 15,6 mg.

  • Asma akut: 1 kali/hari.

  • Pencegahan asma yang di picu oleh aktivitas fisik: 1-2 kali/hari.
    • Maksimal: 8 kali/hari.

  • Asma bronkial: 1-2 kali/hari.
    • Maksimal: 8 kali/hari.

Dihirup melalui mulut lalu dihembuskan.

  • Reaksi hipersensitivitas.
  • Kondisi kadar kalium yang terdapat di dalam darah rendah (hipokalemia).
  • Gugup.
  • Tremor.
  • Sakit kepala.
  • Pusing.
  • Penyumbatan otot jantung (iskemia miokard).
  • Aritmia.
  • Jantung yang berdenyut cepat (takikardia).
  • Jantung terasa berdegup dengan kencang (palpitasi).
  • Gangguan pada otot bronkus (bronkospasme paradoks).
  • Batuk.
  • Iritasi tenggorokan.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Berkeringat secara berlebihan (hiperhidrosis).
  • Reaksi kulit.
  • Kejang otot.
  • Mialgia.
  • Kelemahan otot.
  • Peningkatan atau penurunan tekanan darah diastolik.
  • Hipersensitivitas.
  • Penebalan otot jantung (kardiomiopati obstruksi hipertrofi).
  • Gangguan irama jantung dimana jantung berdetak di atas 100 denyut/menit (takiaritmia).
  • Gangguan jantung organik atau vaskular yang berat.
  • Tumor langka pada kelenjar adrenal (pheochromocytoma).
  • Segera hentikan pemakaian jika terjadi bronkospasme.
  • Adanya penyakit jantung berat.
  • Asma yang berat. Sesak (dispnea) akut yang dapat memburuk dengan cepat.
  • Pasien dengan penggunaan rutin yang berkepanjangan harus dievaluasi untuk penambahan atau peningkatan terapi anti-inflamasi.
  • Trimester pertama kehamilan dan laktasi.
  • β-mimetik.
  • Antikolinergik.
  • Derivat xantin.
  • Kortikosteroid.
  • Diuretik.
  • β-bloker.

Sesuai kemasan per September 2019.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/berotec/berotec?type=brief&lang=id
Diakses pada 30 September 2019

Artikel Terkait