Bactrim Forte Tablet

15 Okt 2020
Golongan
Obat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
HET
Kemasan
1 box isi 4 strip @ 5 tablet
Produsen
Boehringer Ingelheim
Bactrim forte tablet adalah obat untuk mengatasi berbagai infeksi bakteri seperti infeksi saluran pencernaan, saluran kemih, saluran pernapasan, dan infeksi THT. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Bactrim forte tablet mengandung zat aktif trimetoprim dan sulfametoksazol.
  • Infeksi saluran kemih seperti:
    • Infeksi pada ginjal (pielonefritis).
    • Peradangan pembuluh darah (plelitis).
    • Prostates akut dan kronis yang disebabkan oleh kuman yang sensitive seperti E.coli, klebsiella, enterobacter dan proteus mirabilis.
  • Infeksi saluran cerna, terutama yang disebabkan oleh kuman Salmonella dan Shigella seperti:
    • Demam tifoid.
    • Paratifus (paratifoid).
    • Disentri basiler.
  • Infeksi saluran napas sseperti:
    • Peradangan bronkus akibat infeksi dan iritasi yang baru saja terjadi dan berlangsung tak lama (bronchitis akut).
  • Infeksi THT seperti:
    • Infeksi pada telinga bagian tengah (otitis media akut).
    • Peradangan yang terjadi di rongga hidung atau sinus (sinusitis akut) yang disebabkan oleh kuman H.Influenzae atau S.Pneumoniae.

Sulfametoksazol merupakan salah satu obat golongan sulfonamida yang bekerja langsung pada sintesis folat di dalam organisme mikroba. Mekanisme kerja sulfametoksazol adalah dengan menghentikan bakteri dalam memproduksi asam dihidrofolat dan trimetoprim mencegah pembentukan asam tetrahidrofolat, dimana dua hal tersebut merupakan langkah penting dalam pembentukan asam nukleat dan protein penting bagi banyak bakteri. Jika digunakan sendiri, obat ini hanya bekerja secara bakteriostatik yaitu menghambat pertumbuhan bakteri. Namun, bila digunakan dalam kombinasi sulfametoksazole-trimetoprim, akan memblokir dua langkah dalam pembentukan senyawa kimia (biosintesis) bakteri seperti asam nukleat esensial dan protein, sehingga bersifat membunuh bakteri (bakterisidal).

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa: 1 tablet sebanyak 3 kali/hari.

Dikonsumsi dengan makanan.
  • Muntah.
    Cobalah mengonsumsi makanan yang sederhana dan jangan mengonsumsi makanan yang berat dan pedas. Cobalah mengonsumsi obat setelah makan dan cobalah minum air dalam jumlah sedikit. Jika efek samping ini terus berlanjut, hubungi dokter Anda.
  • Mual.
    Cobalah mengonsumsi obat dengan atau setelah makan, serta hindari mengonsumi makanan yang berat atau pedas saat mengonsumsi obat ini.
  • Reaksi hipersensitivitas yang fatal pada kulit atau darah seperti Sindrom Steven Johnson, kelainan kulit dan mukosa (toxic epidermal necrolysis) dan kelainan perkembangan sel darah (diskrasia darah).
  • Pada penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan anemia megaloblastik.
  • Kondisi saat jumlah keping darah (trombosit) rendah (trombositopenia).
  • Sumsum tulang tidak bisa memproduksi sel darah (anemia aplastik).
  • Rendahnya jumlah sel darah putih (leukopenia).
  • Kondisi akut dari leukopenia (agranulositosis).
  • Kemerahan (ruam) kulit.
  • Pasien dengan kekurangan sel darah merah akibat sumsum tulang memproduksi sel darah merah abnormal (anemia megaloblastik).
  • Pasien yang mengosumsi leukovorin untuk pengobatan Pneumocystis carinii pneumonia (PCP) pada pasien positif HIV.
  • Pasien dengan riwayat rendahnya keping darah (trombositopenia) akibat penggunaan trimetoprim atau sulfonamid.
  • Penderita yang memiliki alergi terhadap golongan sulfonamid dan trimetoprim.
  • Penderita anemia megaloblastik yang terjadi karena kekurangan folat.
  • Pasien yang mengonsumsi klozapin.
  • Pasien dengan gangguan hati dan ginal berat.
  • Wanita hamil dan menyusui
  • Bayi usia 4 minggu ke bawah.
  • Pasien penderita ketidakseimbangan mineral dalam tubuh seperti memiliki kadar kalium yang tinggi atau kadar natrium yang rendah dalam darah.
  • Pasien dengan kelainan darah seperti porfiria dan anemia akibat defisiensi vitamin.
  • Pasien dengan kelainan darah akibat pengobatan dengan trimetoprim dan sulfametoksazol.
  • Pasien dengan gangguan ginjal dan hati.
  • Pasien dengan gangguan sumsum tulang belakang.
  • Pasien dengan kadar gula darah tinggi (diabetes melitus).
  • Pasien yang memiliki berbagai alergi.
  • Pasien penderita asma.
  • Amilorid, benazepril, captopril.
    Amilorid, benazepril, captopril dapat meningkatkan kadar kalium dalam darah. Kadar kalium yang tinggi dapat berkembang menjadi kondisi yang disebut hiperkalemia, yang pada kasus parah dapat menyebabkan gagal ginjal, kelumpuhan otot, irama jantung tidak teratur, dan serangan jantung.
  • Fenitoin.
    Kombinasi sulfametoksazol dan trimetoprim dapat meningkatkan waktu paruh fenitoin sehingga kada fenitoin dalam darah meningkat.
  • Anisindion.
    Anisindion dapat meningkatkan risiko perdarahan, terutama jika Anda sudah lanjut usia atau memiliki gangguan ginjal atau hati.
  • Amiodaron.
    Amiodaron dapat meningkatkan risiko terjadi detak jantung cepat di atas normal (aritmia ventrikular).
  • Metenamin.
    Metenamin dapat meningkatkan risiko terdapatnya kristal pada urin (kristaluria).
  • Klozapin.
    Klozapin dapat menurunkan jumlah sel darah putih, dapat memengaruhi fungsi sumsum tulang.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/sulfamethoxazole%20+%20trimethoprim?mtype=generic
Diakses pada 21 September 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-3409-1071/sulfamethoxazole-trimethoprim-oral/sulfamethoxazole-trimethoprim-suspension-oral/details
Diakses pada 21 September 2020

Drugs. https://www.drugs.com/drug-interactions/sulfamethoxazole-trimethoprim.htm l
Diakses pada 21 September 2020

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513232/
Diakses pada 21 September 2020

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a684026.html#if-i-forget
Diakses pada 21 September 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Cara Membedakan Bercak Putih di Mata Akibat Ulkus Kornea dan Katarak

Ulkus kornea dan katarak sama-sama memunculkan luka berupa bercak bintik putih yang ada di mata. Lantas, apa beda kedua masalah mata ini?
08 May 2019|Anita Djie
Baca selengkapnya
Cara Membedakan Bercak Putih di Mata Akibat Ulkus Kornea dan Katarak

Pielonefritis, Infeksi Ginjal yang Membuat Buang Air Kecil Terasa Menyiksa

Pielonefritis adalah infeksi ginjal yang harus diwaspadai. Bila infeksi ginjal ini dibiarkan tanpa pengobatan, dampaknya bisa berbahaya bagi kesehatan Anda.
13 Jan 2020|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
Pielonefritis, Infeksi Ginjal yang Membuat Buang Air Kecil Terasa Menyiksa

8 Cara Pencegahan Virus Corona (COVID-19) Rekomendasi Kemenkes RI dan WHO

Kasus infeksi COVID-19 di Indonesia masih tampak menukik naik. Terapkan cara pencegahan penyebaran virus Corona ini untuk hentikan pandemi!Baca selengkapnya
8 Cara Pencegahan Virus Corona (COVID-19) Rekomendasi Kemenkes RI dan WHO