Atostin Tablet

23 Okt 2020| Ajeng Prahasta
no-image-drug

Deskripsi obat

Atostin tablet adalah obat untuk menurunkan kolesterol jahat seperti total-C, LDL-C, dan trigliserida serta meningkatkan kolesterol baik. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Atostin tablet mengandung zat aktif atorvastatin.
Atostin Tablet
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
Produk HalalYa
Kandungan utamaAtorvastatin.
Kelas terapiAgen dislipidemia.
Klasifikasi obatStatin.
Kemasan1 box isi 3 strip @ 10 tablet (10 mg; 20 mg)
ProdusenDankos Farma

Informasi zat aktif

Atorvastatin merupakan salah satu obat dengan kelas yang disebut HMG-CoA reduktase inhibitor (statin). Atorvastatin secara selektif dan kompetitif menghambat HMG-CoA reduktase untuk menghasilkan mevalonat. Pengurangan hasil produksi mevalonate menjadi stimulasi pemecahan molekul menjadi lebih sederhadana (katabolisme) LDL, akibatnya menurunkan kadar kolesterol LDL.

Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, atorvastatin diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diserap dengan cepat dari saluran pencernaan. Kadar obat yang masuk ke dalam peredaran darah (ketersediaan hayati) sekitar 12-14% dan waktu dimana obat mencapai kadar tertinggi dalam plasma (waktu konsentrasi puncak plasma) selama1-2 jam.
  • Distribusi: Volume distribusi kira-kira 381 L. Pengikatan protein plasma sebesar 98% ke atas.
  • Metabolisme: Dimetabolisme di hati, menjalani metabolisme jalur pertama yang ekstensif di mukosa gastrointestinal dan hati.
  • Ekskresi: Terutama melalui empedu; melalui urin (<2% sebagai obat tidak berubah). Waktu yang dibutuhkan obat untuk dikeluarkan oleh tubuh dari separuh kadar awal obat (waktu paruh eliminasi) kira-kira selama 14 jam.

Indikasi (manfaat) obat

  • Meningkatkan kolesterol baik seperti High Density Lipoprotein (HDL).
  • Menurunkan risiko terkena penyakit jantung dan membantu mencegah stroke dan serangan jantung.
  • Menurunkan kolesterol jahat dan lemak seperti Low Density Lipoprotein (LDL) dan trigliserida.

Atorvastatin bekerja dengan memperlambat produksi kolesterol dalam tubuh untuk menurunkan jumlah kolesterol yang menumpuk pada dinding arteri dan menghalangi aliran darah ke jantung, otak, dan bagian tubuh lainnya, dengan menurunkan kadar kolesterol dan lemak dalam darah dapat mencegah terjadinya penyakit jantung, nyeri dada (angina), stroke, dan serangan jantung. Atorvastatin merupakan salah satu obat dengan kelas yang disebut HMG-CoA reduktase inhibitor (statin).

Komposisi obat

  • Atostin tablet 10 mg: atorvastatin 10 mg.
  • Atostin tablet 20 mg: atorvastatin 20 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa:

  • Hiperkolesterolemia heterozigot familial, dislipidemia campuran, dan hiperkolesterolemia nonfamilial:
    • Dosis awal: 10 atau 20 mg sebanyak 1 kali/hari. Dosis dapat disesuaikan sesuai dengan respon dengan jarak waktu 2-4 minggu.
    • Dosis umum: 10-80 mg sebanyak 1 kali/hari.
    • Dosis maksimal: 80 mg/hari.
    • Pasien yang membutuhkan penurunan kolesterol LDL sebanyak 45% ke atas: dosis dimulai pada 40 mg sebanyak 1 kali/hari.
  • Mencegah terjadinya penyakit kardiovaskular pada pasien berisiko tinggi:
    • Dosis awal pencegahan primer: 10 mg/hari. Dosis dapat ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan untuk mencapai kadar kolesterol LDL yang seharusnya.

Anak-anak 10-17 tahun:

  • Hiperkolesterolemia heterozigot familial:
    • Dosis awal: 10 mg sebanyak 1 kali/hari. Dosis dapat disesuaikan sesuai respon pasien pada jarak waktu 4 minggu.
    • Dosis umum: 10 mg sebanyak 1 kali/hari.
    • Dosis maksimal: 20 mg/hari.

Aturan pakai obat

Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan. Hindari konsumsi jus anggur secara berlebihan (lebih dari 1 liter/hari).

Efek samping obat

  • Sembelit atau perut kembung.
    Konsumsi makanan yang mengandung serat tinggi seperti sayur, buah segar, sereal, dan konsumsi banyak air putih. Cobalah lebih teratur berolahraga, seperti berjalan kaki atau lari Jika ini tidak membantu, konsultasikan kepada dokter atau apoteker.
  • Diare.
    Konsumsi banyak air untuk menghindari terjadinya dehidrasi. Dehidrasi ditandai dengan penurunan frekuensi dan jumlah buang air kecil yang lebih sedikit dari biasanya atau urin yang berarna gelap dan berbau tajam.
  • Sakit tenggorokan.
    Cobalah berkumur dengan air asin hangat atau gunakan parasetamol atau ibuprofen untuk meringankan rasa sakit atau ketidaknyamanan. Jika gejala ini berlangsung lebih dari satu minggu, konsultasikan kepada apoteker atau dokter.
  • Sakit kepala.
    Pastikan untuk beristirahat yang cukup dan konsumsi banyak cairan. Hindari mengonsumsi alkohol. Mintalah apoteker untuk rekomendasikan obat penghilang rasa sakit. Sakit kepala biasanya akan hilang setelah minggu pertama mengonsumsi atorvastatin. Jika sakit kepala berlangsung lebih dari seminggu atau semakin memburuk segera hubungi dokter Anda.
  • Sakit atau nyeri pada punggung dan persendian.
    Jika mengalami nyeri otot yang tidak biasa, kelemahan atau kelelahan yang bukan disebabkan karena latihan atau kerja keras, konsultasikan ke dokter. Mungkin Anda memerlukan tes darah untuk memeriksa penyebabnya. Anda juga dapat meminta rekomendasi obat penghilang rasa sakit kepala apoteker.
  • Mimisan.
    Cobalah untuk mengolesi vaselin tipis-tipis pada tepi dalam bagian hidung.
  • Munculnya gejala pilek.
    Cobalah untuk konsumsi parasetamol atau ibuprofen secara teratur selama beberapa hari. Jika gejala kembali setelah berhenti mengonsumsi obat penghilang rasa sakit, konsultasikan kepada dokter Anda.
  • Mual atau gangguan pencernaan.
    Tetaplah konsumsi makanan sederhana dan jangan mengonsumsi makanan pedas. Cobalah untuk meminum obat ini setelah makan mungkin akan membantu mengurangi efek samping ini. Jika Anda terus mengalami gejala gangguan pencernaan, tanyakan apoteker Anda untuk merekomendasikan antasida. Hubungi dokter Anda jika gejala Anda berlanjut selama lebih dari beberapa hari atau jika semakin parah.

Perhatian Khusus

  • Pasien yang mengalami infeksi akut berat.
  • Pasien yang mengalami stroke baru-baru ini.
  • Pasien yang mengonsumsi alkohol.
  • Pasien penderita penyakit kencing manis (diabetes melitus).
  • Pasien penderita kelainan otot herediter.
  • Pasien yang mengalami serangan iskemik sementara.
  • Pasien yang mengalami pembedahan mayor.
  • Pasien dengan gangguan metabolisme berat.
  • Anak-anak.
  • Pasien yang mengonsumsi obat klaritromisin, itrakonazol, fosamprenavir, ritonavir, plus darunavir, fosamprenavir, atau saquinavir, elbasvir/grazoprevir, boceprevir, dan nelfinavir.
  • Pasien yang memiliki kadar tiroid yang rendah dalam tubuh (hipotiroidisme).
  • Pasien penderita gangguan ginjal.
  • Pasien yang mengalami kejang yang tidak dapat terkontrol.
  • Pasien yang mengalami kerusakan atau kematian jaringan otot rangka.

Kategori kehamilan

Kategori X: Penggunaan atostin tablet tidak disarankan pada ibu hamil. Penelitian menunjukkan adanya dampak berupa kelainan pada janin, mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin, serta risiko efek sampingnya lebih besar pada wanita hamil daripada manfaatnya. Konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi obat ini. Khususnya bagi ibu hamil pada trimester pertama, harus lebih berhati-hati mengingat efek sampingnya dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan organ janin.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien penderita penyakit hati.
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap atorvastatin.
  • Wanita hamil dan ibu menyusui.
  • Pasien yang mengonsumsi obat siklosporin, asam fusidat sistemik, telaprevir, glekaprevir, pibrentasvir dan kombinasi tipranavir atau ritonavir.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Rifampisin, efavirenz, fenitoin, antasida Al atau Mg, dan kolestipol.
    Penggunaan atorvastatin dengan obat di atas dapat menyebabkan penurunan kadar dari atorvastatin dalam plasma sehingga efektivitas atorvastatin akan berkurang.
  • Asam fusidat sistemik.
    Penggunaan atorvastatin bersama atau dalam 7 hari setelah penggunaan asam fusidat sistemik dapat menyebabkan terjadinya kerusakan dan kematia jaringan otot rangka yang fatal (rhabdomyolysis).
  • Digoksin dan kontrasepsi oral seperti norethindron dan etinil estradiol.
    Atorvastatin dapat menyebabkan peningkatan kadar serum digoksin dan kontrasepsi oral sehingga dapat menyebabkan risiko terjadinya efek samping.
  • Kombinasi siklosporin, telaprevir, glekaprevir/pibrentasvir, dan tipranavir/ritonavir.
    Penggunaan atorvastatin dan obat-obat di atas dapat menyebabkan terjadinya peningkatan risiko gangguan otot (miopati) serta kerusakan dan kematian jaringan otot rangka (rhabdomyolysis).
  • Penghambat protease HIV dan HCV, itrakonazol, ketokonazol, klaritromisin, eritromisin, verapamil, diltiazem, femofibrat, gemfibrozil, kombinasi ezetimibe, niasin, dan ritikina.
    Penggunaan atorvastatin dan obat-obat di atas dapat menyebabkan terjadinya peningkatan risiko gangguan otot (miopati) serta kerusakan dan kematian jaringan otot rangka (rhabdomyolysis).

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, maka dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutnya konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa untuk mengonsumsi obat, cobalah untuk menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau meminta bantuan orang lain untuk membantu mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

  • Jika mengalami batuk, sesak napas, dan penurunan berat badan bisa menjadi tanda penyakit paru-paru.
  • Jika terdapat ruam kulit dengan bercak merah muda hingga merah, terutama di telapak tangan atau telapak kaki.
  • Jika mengalami batuk, sesak napas, dan penurunan berat badan bisa menjadi tanda penyakit paru-paru.
  • Jika Anda mengalami nyeri otot, kelemahan otot atau kram otot bisa menjadi tanda terjadinya kerusakan otot dan kerusakan ginjal. Jika mengalami kulit kuning atau sklera mata menjadi kekuningan, feses pucat dan urin berwarna gelap bisa menjadi tanda terjadinya gangguan pada hati.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/atorvastatin?mtype=generic
Diakses pada 30 September 2020

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a600045.html
Diakses pada 30 September 2020

NHS. https://www.nhs.uk/medicines/atorvastatin/
Diakses pada 30 September 2020

Drugs. https://www.drugs.com/atorvastatin.html
Diakses pada 30 September 2020

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-841/atorvastatin-oral/details
Diakses pada 30 September 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Simvastatin adalah Obat Penurun Kolesterol yang Bisa Diandalkan

Simvastatin adalah salah satu obat yang berfungsi untuk menurunkan kadar kolesterol. Obat ini tersedia dalam dua bentuk, yaitu tablet dan suspensi (cairan).
20 Oct 2020|Rieke Saraswati
Baca selengkapnya
Simvastatin adalah Obat Penurun Kolesterol yang Bisa Diandalkan

Ini Kadar Kolesterol Normal Agar Terhindar dari Penyakit

Kolesterol normal yang perlu Anda ketahui adalah kurang dari 200 mg/dL dan disebut tinggi bila kadarnya mencapai 240 mg/dl atau lebih. Anda harus memahami LDL, HDL, trigliserida serta kolesterol total.
05 Jun 2019|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
Ini Kadar Kolesterol Normal Agar Terhindar dari Penyakit

10 Penyebab Dada Terasa Panas Ini Perlu Diwaspadai

Ketika mengalami dada terasa panas, Anda mungkin merasa khawatir. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai hal mulai dari penyakit lambung, gangguan jantung hingga penyakit paru-paru.
06 Jan 2020|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
10 Penyebab Dada Terasa Panas Ini Perlu Diwaspadai