Atorvastatin

02 Mar 2021| Anita Djie
Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri
Atorvastatin digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol dan lemak jahat di tubuh

Atorvastatin digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol dan lemak jahat di tubuh

Daftar merek obat yang beredar di Indonesia

Damaben, Sotatic, Emeran, Enakur, Ethiferan, Lexapram, Meclam, Metoclopramide OGB Dexa, Nilatika, Opram, Piralen, Plasil, Raclonid, Tivomit, Tomit, Vertivom, Vilapon, Vomiles, Vomipram, Vomitrol, Vosea

Deskripsi obat

Atorvastatin digunakan untuk membantu menurunkan kadar kolesterol dan lemak jahat di tubuh. Obat ini termasuk dalam golongan statin yang bekerja dengan menghambat enzim yang memproduksi kolesterol di hati.

Atorvastatin dapat membantu menurunkan kolesterol total, kolesterol jahat atau low-density lipoprotein (LDL), dan kadar trigliserida. Selain itu, obat ini pun dapat meningkatkan kolesterol baik atau high-density lipoprotein (HDL).

Agar obat bekerja lebih baik, penggunaan atorvastatin sebaiknya disertai gaya hidup sehat, misalnya menjalankan diet, menurunkan berat badan, dan berolahraga rutin.

Menurunkan kolesterol dan lemak jahat dapat mengurangi risiko serangan jantung dan stroke, serta kemungkinan operasi jantung pada orang yang menderita penyakit jantung atau berisiko terkena penyakit jantung.

Atorvastatin ()
GolonganKelas terapi : Agen dislipidemia Klasifikasi obat : Statin
Kategori obatObat resep
Bentuk sediaan obatTablet
Dikonsumsi olehDewasa dan anak-anak usia 10 tahun ke atas
Kategori kehamilan dan menyusuiKategori X: Penggunaan obat ini tidak disarankan pada ibu hamil.
Dosis obatDosis setiap orang berbeda-beda. Pastikan selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan atau mengonsumsi obat.

Efek samping obat

Efek samping belum tentu terjadi di setiap pemakaian obat. Namun, jika terjadi efek samping yang mengganggu atau memburuk, segeralah cari bantuan medis.

Efek samping yang mungkin timbul dari penggunaan atorvastatin antara lain:

  • Sakit tenggorokan
    Cobalah berkumur dengan air asin hangat serta minumlah parasetamol atau ibuprofen untuk meringankan rasa sakit. Jika gejala ini berlangsung lebih dari satu minggu, konsultasikan kepada apoteker atau dokter.
  • Mual atau gangguan pencernaan
    Jangan mengonsumsi makanan pedas. Minumlah obat ini setelah makan untuk mengurangi efek samping ini. Jika Anda terus mengalami gejala gangguan pencernaan, mintalah rekomendasi antasida kepada apoteker. Hubungi dokter jika gejala berlanjut selama lebih dari beberapa hari atau bertambah parah.
  • Diare
    Minumlah banyak air untuk menghindari dehidrasi atau kekurangan cairan. Dehidrasi ditandai dengan penurunan frekuensi dan jumlah buang air kecil atau urine berwarna gelap dan berbau tajam.
  • Mimisan
    Cobalah mengoleskan vaselin tipis-tipis di tepi dalam hidung.
  • Sakit atau nyeri pada punggung dan persendian
    Jika mengalami nyeri otot yang tidak biasa yang bukan disebabkan olahraga atau kerja keras, konsultasikan ke dokter. Mungkin Anda memerlukan tes darah untuk memeriksa penyebabnya. Anda juga dapat meminta rekomendasi obat penghilang rasa sakit kepada apoteker.
  • Munculnya gejala pilek
    Minumlah paracetamol atau ibuprofen secara teratur selama beberapa hari. Jika gejala kembali setelah berhenti mengonsumsi obat penghilang rasa sakit, konsultasikan kepada dokter Anda.
  • Sembelit atau perut kembung
    Konsumsi makanan yang mengandung serat tinggi, seperti sayur, buah segar, dan sereal, serta minumlah banyak air putih. Cobalah lebih teratur berolahraga, seperti berjalan kaki atau berlari. Jika cara ini tidak membantu, konsultasikan kepada dokter atau apoteker.
  • Sakit kepala
    Pastikan untuk beristirahat yang cukup dan konsumsi banyak cairan. Hindari mengonsumsi alkohol. Mintalah apoteker merekomendasikan obat penghilang rasa sakit. Sakit kepala biasanya akan hilang setelah minggu pertama mengonsumsi atorvastatin. Jika sakit kepala berlangsung lebih dari seminggu atau memburuk, segera hubungi dokter Anda.
  • Perubahan warna kulit, sklera mata, dan jaringan lainnya menjadi kekuningan (ikterus kolestatik)
  • Kerusakan pada saraf perifer yang sering menyebabkan gejala kelemahan, mati rasa, dan nyeri yang biasanya terjadi di tangan dan kaki (neuropati perifer)
  • Ketidakmampuan secara konsisten untuk ereksi atau mempertahankan ereksi (impotensi)
  • Gangguan tidur (insomnia)
  • Kekakuan otot
  • Kelainan otot (miopati)
  • Penurunan nafsu makan (anoreksia)
  • Kerontokan rambut (alopecia)
  • Muntah
  • Nyeri otot (mialgia)
  • Kelelahan (astenia)
  • Peradangan pada kelenjar pankreas (pankreatitis)
  • Sakit perut
  • Sakit tenggorokan
  • Rasa tidak nyaman pada perut

Perhatian Khusus

Beri tahu dokter mengenai riwayat penyakit Anda sebelumnya. Hati-hati menggunakan atorvastatin pada kondisi:

  • Stroke
  • Penyakit kencing manis (diabetes melitus)
  • Mengonsumsi alkohol
  • Gangguan pada otot
  • Kadar tiroid rendah dalam tubuh (hipotiroidisme)
  • Penderita gangguan ginjal atau hati

Perhatikan juga hal berikut ini saat mengonsumsi atorvastatin:

  • Hentikan penggunaan jika terdiagnosis miopati atau kelainan otot
  • Hindari mengemudi kendaraan atau menjalankan mesin
  • Lakukan pemeriksaan fungsi hati secara berkala sebelum melakukan terapi
  • Selama mengonsumsi obat ini, sebaiknya pasien menerapkan pola hidup sehat, seperti berolahraga, meningkatkan konsumsi makanan berserat tinggi, tidak merokok dan minum alkohol, serta mengonsumsi diet rendah kolesterol

Informasi lebih lengkap bisa dilihat melalui kemasan.

Penyimpanan

Simpan pada suhu antara 20-25°C.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

Jangan menggunakan obat ini jika mempunyai kondisi medis, seperti:

  • Alergi terhadap atorvastatin atau obat golongan statin lainnya
  • Kehamilan dan menyusui
  • Mengonsumsi obat cyclosporin, asam fusidat sistemik, telaprevir, glecaprevir, pibrentasvir, dan kombinasi tipranavir atau ritonavir
  • Penderita penyakit hati, seperti penyumbatan saluran empedu atau kolestasis, peningkatan kadar enzim hati, peradangan pada organ hati (hepatitis), dan penyakit kuning

Kategori kehamilan & menyusui

Kategori X: Penggunaan atorvastatin tidak disarankan pada ibu hamil.

Penelitian menunjukkan adanya dampak berupa kelainan pada janin, mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin, serta risiko efek sampingnya lebih besar pada wanita hamil daripada manfaatnya.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Berhenti mengonsumsi obat ini sementara waktu jika Anda mengalami:

  • Ketidakseimbangan elektrolit, seperti kadar kalium tinggi atau rendah dalam darah
  • Infeksi penyakit parah
  • Operasi atau keadaan darurat medis
  • Kejang yang tidak terkontrol
  • Penurunan tekanan darah menjadi sangat rendah (hipotensi)

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

Interaksi obat mungkin terjadi bila beberapa obat dikonsumsi bersamaan. Jika ingin mengonsumsi obat bersamaan, konsultasikan ke dokter Anda terlebih dahulu, bila perlu dokter akan mengubah dosis obat atau mengganti obat dengan alternatif obat lainnya.

Mengonsumsi obat atorvastatin dengan obat lain bersamaan dapat menyebabkan beberapa interaksi, seperti:

  • Itraconazole, ketoconazole, clarithromycin, erythromycin, verapamil, diltiazem, fenofibrate, gemfibrozil, kombinasi ezetimibe, niasin, dan ritikina
    Penggunaan atorvastatin dan obat-obat di atas dapat meningkatkan risiko gangguan otot (miopati), serta kerusakan dan kematian jaringan otot rangka (rhabdomyolysis).
  • Digoxin dan kontrasepsi oral, seperti norethindrone dan etinil estradiol
    Penggunaan bersama atorvastatin dapat meningkatkan kadar serum digoxin dan kontrasepsi oral, sehingga dapat menyebabkan efek samping, seperti sakit kepala dan mual.
  • Asam fusidat sistemik
    Penggunaan atorvastatin bersama atau dalam 7 hari setelah penggunaan asam fusidat sistemik dapat menyebabkan kerusakan dan kematian jaringan otot rangka yang fatal (rhabdomyolysis).
  • Kombinasi ciclosporin, telaprevir, glekaprevir atau pibrentasvir, dan tipranavir atau ritonavir
    Penggunaan atorvastatin dan obat-obat di atas dapat meningkatkan risiko gangguan otot (miopati) serta kerusakan dan kematian jaringan otot rangka (rhabdomyolysis).
  • Rifampicin, efavirenz, phenytoin, antasida Al atau Mg, dan colestipol
    Penggunaan atorvastatin bersama obat di atas dapat menurunkan kadar atorvastatin dalam plasma, sehingga efektivitasnya dalam menurunkan kolesterol akan berkurang.

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis langsung dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus dengan resep dokter. Ketersediaan obat tergantung pada indikasi yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/atorvastatin?mtype=generic
Diakses pada 19 Februari 2021

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-841/atorvastatin-oral/details
Diakses pada 19 Februari 2021

Rxlist. https://www.rxlist.com/consumer_atorvastatin_lipitor/drugs-condition.htm
Diakses pada 19 Februari 2021

Drugs. https://www.drugs.com/atorvastatin.html
Diakses pada 19 Februari 2021

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a600045.html
Diakses pada 19 Februari 2021

Patient. https://patient.info/medicine/atorvastatin-tablets-lipitor
Diakses pada 19 Februari 2021

NHS. https://www.nhs.uk/medicines/atorvastatin/
Diakses pada 19 Februari 2021

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/atorvastatin-oral-tablet#about
Diakses pada 19 Februari 2021

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email