Astika Tablet 100 mg

27 Okt 2020| Dea Febriyani
Astika tablet adalah obat untuk mengatasi nyeri ringan hingga sedang, demam, dan peradangan.

Deskripsi obat

Astika tablet adalah obat untuk mengatasi nyeri ringan hingga sedang, mengatasi demam, dan peradangan. Obat ini termasuk dalam golongan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Astika tablet mengandung zat aktif aspirin (asam asetilsalisilat).
Astika Tablet 100 mg
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
Produk HalalYa
Kandungan utamaAspirin (asam asetilsalisilat).
Kelas terapiAntikoagulan, analgesik, antipiretik, dan antiinflamasi.
Klasifikasi obatNon-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAID).
Kemasan1 box isi 10 strip @ 10 tablet (100 mg)
ProdusenIkapharmindo Putramas

Informasi zat aktif

Aspirin merupakan salisilat yang memiliki aktivitas analgesik, antiinflamasi, dan antipiretik. Aspirin bekerja menghambat enzim siklooksigenase-1 (COX-1) yang selektif dan tidak dapat diubah, sehingga mengakibatkan penghambatan langsung biosintesis prostaglandin dan tromboksan dari asam arakidonat. Selain itu, aspirin juga menghambat agregasi platelet. Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, aspirin diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diabsorbsi secara cepat dari saluran pencernaan. Dihidrolisis sebagian oleh esterase menjadi salisilat selama absorpsi di saluran pencernaan. Ketersediaan hayati adalah 50-75% dan waktu untuk konsentrasi plasma puncak sekitar 1-2 jam, 3-4 jam pada obat salut enterik, dan 2 jam pada kapsul lepas lambat.
  • Distribusi: Terdistribusi secara luas dan cepat ke sebagian besar jaringan dan cairan tubuh, melintasi plasenta dan memasuki ASI. Volume distribusi adalah 170 mL/kg dan ikatan protein plasma adalah 80-90%.
  • Metabolisme: Dimetabolisme di hati menjadi asam salisilat, glukoronida fenolik salisil, asil glukuronida salisilat, asam gentisat, dan asam gentisurat dan menjalani metabolisme lintas pertama.
  • Ekskresi: Diekskresi melalui urin sebanyak 75% dalam bentuk asam salicyluric dan 10% dalam bentuk asam salisilat. Waktu paruh eliminasi adalah 15-20 menit.

Indikasi (manfaat) obat

  • Meringankan nyeri ringan hingga sedang seperti sakit kepala sebelah (migrain) dan demam.
  • Peradangan sendi akibat sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringannya sendiri (rheumathoid arthritis).
  • Sakit kepala.
  • Sakit gigi.
  • Nyeri haid.
  • Batuk dan flu.
  • Meringankan peradangan pada sendi (arthritis).
  • Pada penggunaan dalam dosis rendah asam asetilsalisilat dapat mencegah terjadinya penggumpalan darah, mengurangi risiko stroke, serangan jantung, dan nyeri dada pada pasien penderita arteri koroner kronis.

Aspirin atau yang dikenal dengan asam asetilsalisilat merupakan obat golongan salisilat yang bekerja menghambat terbentuknya prostaglandin sehingga tidak selektif untuk enzim COX-1 dan COX-2. Penghambatan COX-1 menghasilkan penghambatan agregasi trombosit selama sekitar 7-10 hari (umur trombosit rata-rata). Kelompok asetil dari asam asetilsalisilat mengikat dengan residu serin dari enzim siklooksigenase-1 (COX-1), yang mengarah ke penghambatan ireversibel. Hal tersebut mencegah produksi prostaglandin penyebab nyeri dan menghentikan konversi asam arakidonat menjadi tromboksan A2 (TXA2), yang merupakan penginduksi kuat label agregasi platelet. Agregasi trombosit dapat menyebabkan gumpalan dan tromboemboli vena dan arteri yang berbahaya yang mengarah pada kondisi seperti emboli paru dan stroke.

Komposisi obat

Aspirin (asam asetilsalisilat) 100 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa:

  • Stroke, angina pektoris, dan serangan jantung: 150-300 mg/hari.
  • Demam, nyeri ringan hingga sedang:
    • Dosis umum: 300-900 mg, dapat diulangi setiap 4-6 jam.
    • Dosis maksimal: 4 g/hari.
  • Rematik akut: 4-8 g/hari dalam dosis terbagi.
  • Rematik kronis: 5,4 g/hari dalam dosis terbagi.
  • Pencegahan penyakit kardiovaskular pada pasien berisiko tinggi:
    • Jangka panjang: 75-150 mg sebanyak 1 kali/hari.
    • Jangka pendek: 150-300 mg sebanyak 1 kali/hari.

Aturan pakai obat

Sebaiknya dikonsumsi dengan makanan.

Efek samping obat

  • Pengencangan otot-otot pada lapisan saluran udara atau bronkus (bronkospasme).
  • Gangguan saluran pencernaan ringan.
  • Sensitif terhadap salisilat.
  • Telinga berdering (tinnitus).
  • Anemia.
  • Penurunan kadar trombosit dalam darah (trombositopenia).
  • Rasa tidak nyaman pada perut (dispepsia).
  • Iritasi pada lambung.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Pusing.
  • Asma.
  • Sesak napas.
  • Peradangan pada mukosa hidung (rhinitis).
  • Ruam pada kulit.
  • Biduran (urtikaria).
  • Perdarahan.

Perhatian Khusus

  • Pasien yang memiliki luka pada dinding lambung atau usus 12 jari.
  • Pasien yang mengalami gangguan perdarahan.
  • Pasien penderita gangguan hati dan ginjal.
  • Pasien dengan riwayat asma.
  • Pasien penderita anemia.
  • Pasien yang mengalami dehidrasi.

Kategori kehamilan

Pada trimester pertama dan kedua:
Kategori C: Belum terdapat penelitian terkontrol untuk penggunaan astika kaplet pada ibu hamil, namun ada efek samping yang mungkin dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan janin.
Oleh karena itu, penggunaannya pada ibu hamil hanya dapat dilakukan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin.
Konsultasikan penggunaan obat ini dengan dokter sebelum digunakan.

Pada trimester ketiga:
Kategori D: Hasil penelitian menunjukkan bahwa obat ini menimbulkan risiko pada janin manusia.
Penggunaan pada ibu hamil dapat dipertimbangkan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin. Misalnya, bila obat dibutuhkan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa atau penyakit serius, di mana obat lain tidak efektif atau tidak bisa diberikan.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien penderita gangguan pembekuan darah seperti hemofilia dan trombositopenia.
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap aspirin atau obat antiinflamasi non-steroid lainnya.
  • Pasien yang memiliki luka pada saluran pencernaan.
  • Pasien yang mengalami pecahnya pembuluh darah di dalam otak (haemoragik).
  • Pasien penderita gangguan ginjal dan hati yang berat.
  • Anak-anak 16 tahun ke bawah.
  • Pasien yang baru sembuh dari infeksi virus.
  • Wanita hamil pada trimester ketiga.
  • Pasien yang mengonsumsi obat NSAID lain dan metotreksat.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Obat antiinflamasi seperti natrium diklofenak, ibuprofen, indometasin, dan naproksen.
    Dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan pada saluran pencernaan jika dikonsumsi dengan aspirin.
  • Metotreksat.
    Aspirin dapat menyebabkanpeningkatan kadar metotreksat dan dapat meningkatkan potensi efek samping.
  • Antidepresan SSRI, seperti sitalopram, fluoksetin, paroksetin, venlafaksin, dan sentralin.
    Penggunaan bersama dengan aspirin dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan.
  • Warfarin, obat penghambat pembekuan darah (antikoagulan), dan obat pengencer darah.
    Obat di atas dapat menyebabkan risiko terjadinya perdarahan.

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, maka dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutnya konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa untuk mengonsumsi obat, cobalah untuk menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau meminta bantuan orang lain untuk membantu mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Hentikan penggunaan dan hubungi dokter jika Anda mengalami telinga berdenging, kebingungan, halusinasi, pernapasan cepat, kejang, mual parah, muntah, atau sakit perut, feses berdarah, batuk darah atau muntah yang terlihat seperti bubuk kopi, demam berlangsung lebih dari 3 hari, atau bengkak, atau nyeri yang berlangsung lebih dari 10 hari.

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/161255#interactions
Diakses pada 19 Agustus 2020

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/aspirin
Diakses pada 19 Agustus 2020

Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/aspirin-for-pain-relief/
Diakses pada 19 Agustus 2020

Drugbank. https://www.drugbank.ca/drugs/DB00945
Diakses pada 19 Agustus 2020

Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/low-dose-aspirin/#:~:text=If%20you%20forget%20to%20take,an%20alarm%20to%20remind%20you
Diakses pada 19 Agustus 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email