Astika tablet adalah obat untuk mengatasi nyeri ringan hingga sedang, demam, dan peradangan.
Golongan obat Merah Obat keras: diharuskan menggunakan resep dokter.
Kemasan 1 box isi 10 strip @ 10 tablet (100 mg)
Produsen Ikapharmindo Putramas
Astika tablet adalah obat untuk mengatasi nyeri ringan hingga sedang, mengatasi demam, dan peradangan. Obat ini termasuk dalam golongan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Astika tablet mengandung zat aktif aspirin (asam asetilsalisilat).
  • Meringankan nyeri ringan hingga sedang seperti sakit kepala sebelah (migrain) dan demam.
  • Peradangan sendi akibat sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringannya sendiri (rheumathoid arthritis).
  • Sakit kepala.
  • Sakit gigi.
  • Nyeri haid.
  • Batuk dan flu.
  • Meringankan peradangan pada sendi (arthritis).
  • Pada penggunaan dalam dosis rendah asam asetilsalisilat dapat mencegah terjadinya penggumpalan darah, mengurangi risiko stroke, serangan jantung, dan nyeri dada pada pasien penderita arteri koroner kronis.

Aspirin atau yang dikenal dengan asam asetilsalisilat merupakan obat golongan salisilat yang bekerja menghambat terbentuknya prostaglandin sehingga tidak selektif untuk enzim COX-1 dan COX-2. Penghambatan COX-1 menghasilkan penghambatan agregasi trombosit selama sekitar 7-10 hari (umur trombosit rata-rata). Kelompok asetil dari asam asetilsalisilat mengikat dengan residu serin dari enzim siklooksigenase-1 (COX-1), yang mengarah ke penghambatan ireversibel. Hal tersebut mencegah produksi prostaglandin penyebab nyeri dan menghentikan konversi asam arakidonat menjadi tromboksan A2 (TXA2), yang merupakan penginduksi kuat label agregasi platelet. Agregasi trombosit dapat menyebabkan gumpalan dan tromboemboli vena dan arteri yang berbahaya yang mengarah pada kondisi seperti emboli paru dan stroke.

Aspirin (asam asetilsalisilat) 100 mg.

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa:

  • Stroke, angina pektoris, dan serangan jantung: 150-300 mg/hari.
  • Demam, nyeri ringan hingga sedang:
    • Dosis umum: 300-900 mg, dapat diulangi setiap 4-6 jam.
    • Dosis maksimal: 4 g/hari.
  • Rematik akut: 4-8 g/hari dalam dosis terbagi.
  • Rematik kronis: 5,4 g/hari dalam dosis terbagi.
  • Pencegahan penyakit kardiovaskular pada pasien berisiko tinggi:
    • Jangka panjang: 75-150 mg sebanyak 1 kali/hari.
    • Jangka pendek: 150-300 mg sebanyak 1 kali/hari.
Sebaiknya dikonsumsi dengan makanan.
  • Pengencangan otot-otot pada lapisan saluran udara atau bronkus (bronkospasme).
  • Gangguan saluran pencernaan ringan.
  • Sensitif terhadap salisilat.
  • Telinga berdering (tinnitus).
  • Anemia.
  • Penurunan kadar trombosit dalam darah (trombositopenia).
  • Rasa tidak nyaman pada perut (dispepsia).
  • Iritasi pada lambung.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Pusing.
  • Asma.
  • Sesak napas.
  • Peradangan pada mukosa hidung (rhinitis).
  • Ruam pada kulit.
  • Biduran (urtikaria).
  • Perdarahan.
  • Pasien penderita gangguan pembekuan darah seperti hemofilia dan trombositopenia.
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap aspirin atau obat antiinflamasi non-steroid lainnya.
  • Pasien yang memiliki luka pada saluran pencernaan.
  • Pasien yang mengalami pecahnya pembuluh darah di dalam otak (haemoragik).
  • Pasien penderita gangguan ginjal dan hati yang berat.
  • Anak-anak 16 tahun ke bawah.
  • Pasien yang baru sembuh dari infeksi virus.
  • Wanita hamil pada trimester ketiga.
  • Pasien yang mengonsumsi obat NSAID lain dan metotreksat.
  • Pasien yang memiliki luka pada dinding lambung atau usus 12 jari.
  • Pasien yang mengalami gangguan perdarahan.
  • Pasien penderita gangguan hati dan ginjal.
  • Pasien dengan riwayat asma.
  • Pasien penderita anemia.
  • Pasien yang mengalami dehidrasi.
  • Obat antiinflamasi seperti natrium diklofenak, ibuprofen, indometasin, dan naproksen.
    Dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan pada saluran pencernaan jika dikonsumsi dengan aspirin.
  • Metotreksat.
    Aspirin dapat menyebabkanpeningkatan kadar metotreksat dan dapat meningkatkan potensi efek samping.
  • Antidepresan SSRI, seperti sitalopram, fluoksetin, paroksetin, venlafaksin, dan sentralin.
    Penggunaan bersama dengan aspirin dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan.
  • Warfarin, obat penghambat pembekuan darah (antikoagulan), dan obat pengencer darah.
    Obat di atas dapat menyebabkan risiko terjadinya perdarahan.

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/161255#interactions
Diakses pada 19 Agustus 2020

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/aspirin
Diakses pada 19 Agustus 2020

Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/aspirin-for-pain-relief/
Diakses pada 19 Agustus 2020

Drugbank. https://www.drugbank.ca/drugs/DB00945
Diakses pada 19 Agustus 2020

Nhs. https://www.nhs.uk/medicines/low-dose-aspirin/#:~:text=If%20you%20forget%20to%20take,an%20alarm%20to%20remind%20you
Diakses pada 19 Agustus 2020

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus tetap sesuai dengan anjuran dokter.

Artikel Terkait