Aptor tablet 100 mg adalah obat pengencer darah.
Aptor tablet 100 mg adalah obat pengencer darah.
Aptor tablet 100 mg adalah obat pengencer darah.
Aptor tablet 100 mg adalah obat pengencer darah.
Golongan obat Merah Obat keras: diharuskan menggunakan resep dokter.
HET Rp 4.800/strip (10 tablet) per November 2019.
Kemasan 1 box isi 10 strip @ 10 tablet (100 mg)
Produsen Nicolas Laboratories Indonesia

Aptor adalah obat pengencer darah atau untuk mencegah penggumpalan darah. Aptor tablet merupakan golongan obat keras yang memerlukan resep dokter. Obat ini mengandung zat aktif Acetyl Salicylic acid.

  • Mengurangi resiko pembekuan (trombosis) koroner pada fase penyembuhan serangan jantung (myocardial Infarction).
  • Mengurangi resiko kematian atau serangan jantung (myocardial Infarction) pada penderita infark atau angina pektoris yang tidak stabil.
  • Mencegah trombosis setelah operasi jantung baypass.
  • Mengurangi resiko serangan ulang TIA (transient ischemic attack) atau stroke pada penderita dengan riwayat TIA.

Acetyl salicylic acid 100 mg.

  • Dosis lazim: 1 tablet/ hari.
  • Penderita serangan jantung (Myocardial infaraction): 100-300 mg/hari.
  • Penderita stroke (transient ischemic attack): 100-300 mg/hari.

Dikonsumsi dengan air putih, sebelum makan.

  • Nyeri lambung.
  • Rasa terbakar.
  • Mual (nausea).
  • Pendarahan sistem pencernaan.
  • Reaksi hipersensitifitas seperti: sesak nafas, reaksi pada kulit.
  • Jumlah keping darah (trombosit) dalam tubuh rendah (trombositopenia).
  • Meningkatan enzim-enzim di hati.
  • Kerusakan ginjal.
  • Gagal ginjal akut.
  • Pada penderita kekurangan enzim glucose-6-fosfat dehidrogenase berat:
    • Rusaknya jaringan darah (hemolosis).
    • Anemia yang terjadi karena sel darah merah lebih cepat hancur daripada pembentukannya (anemia hemolitik).
  • Penderita gangguan lambung (tukak lambung).
  • Penderita kelainan darah dan gangguan pendarahan lainnya.
  • Pasien yang hipersensitif terhadap acetylsalicylic acid.
  • Wanita hamil.
  • Wanita menyusui.
  • Penderita kerusakan hati berat.
  • Pasien penderita kekurangan vitamin K (hipoprotrombinemia)
  • Pengguna antikkoagulan.
  • Pasien yang mengalami kekurangan enzim glucose-6-fosfat dehidrogenase.
  • Penderita asma.
  • Penderita hipersensitif terhadap salisilat, obat anti inflamasi dan anti neorematik, obat alergi.
  • Penderita tukak lambung kronik.
  • Penderita gangguan fungsi ginjal.
  • Antikoagulan: kumarin, heparin.
  • Kortikosteroid.
  • Alkohol.
  • Analgesik lain. 
  • NSAID.
  • Sulfonilurea.
  • Metotreksat.
  • Spironolakton.
  • Furosemid.
  • Diuretik.

Sesuai kemasan per November 2019.

Artikel Terkait