Antiplat Tablet 50 mg

16 Sep 2020| Dea Febriyani
Golongan
Obat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
HET
Kemasan
1 box isi 3 strip @ 10 tablet (50 mg)
Produsen
Dexa Medica
Antiplat tablet adalah obat yang digunakan untuk mencegah penggumpalan darah dan mengencerkan darah (antiplatelet). Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Antiplat tablet mengandung zat aktif silostazol.
  • Mengurangi berbagai keadaan yang ditimbulkan oleh kekurangan suplai darah ke jaringan atau organ tubuh karena permasalahan pada pembuluh darah (iskemia) yang disebabkan penyakit oklusif arteri kronis.
  • Mengobati nyeri yang timbul saat berolahraga (klaudikasio intermiten).

Silostazol bekerja pada trombosit dan pembuluh darah sehingga menyebabkan penghambatan penggumpalan darah (agregasi platelet) dan pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi).

Silostazol 50 mg.

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa: 100 mg sebanyak 2 kali/hari.

Sebaiknya dikonsumsi dalam keadaan perut kosong, konsumsi minimal 30 menit sebelum atau 2 jam sesudah makan.
  • Sakit kepala.
    Jika Anda mengalami sakit kepala mintalah apoteker untuk merekomendasikan obat penghilang rasa sakit yang sesuai untuk Anda. Jika sakit kepala terus berlanjut, segera hubungi dokter Anda.
  • Diare.
    Jika Anda mengalami diare setelah mengonsumsi silostazol, minumlah banyak air untuk mengganti cairan yang hilang.
  • Pusing atau kelelahan.
    Jika Anda mengalami pusing atau kelelahan, jangan mengemudi dan jangan menggunakan alat atau mesin.
  • Mual, muntah, gangguan pencernaan, sakit perut, dan perut kembung.
    Jika Anda mengalami salah satu atau beberapa hal tersebut, cobalah mengonsumsi makanan yang sederhana dan hindari makanan yang berat atau makanan yang pedas.
  • Kehilangan nafsu makan, detak jantung cepat, nyeri dada, pilek, pergelangan kaki atau kaki bengkak, ruam kulit gatal.
    Jika Anda mengalami salah satu atau beberapa hal tersebut, segeralah hubungi dokter Anda.
  • Pasien dengan gagal jantung kongestif (derajat atau keparahan apa pun).
  • Pasien dengan riwayat detak jantung cepat (takikardia).
  • Pasien dengan irama jantung tidak teratur (fibrilasi).
  • Pasien dengan nyeri dada karena penyakit jantung koroner (angina pektoris). Pasien yang mengalami serangan jantung (infark miokard) dalam 6 bulan terakhir.
  • Kerusakan pada mukosa otot saluran cerna (ulserasi peptik).
  • Pasien yang mengalami pecahnya salah satu pembuluh darah otak (stroke hemoragik) baru-baru ini.
  • Pasien yang mengalami pertumbuhan pembuluh darah baru dalam retina akibat penyakit gula darah tinggi (retinopati diabetik proliferatif).
  • Pasien dengana tekanan darah tinggi (hipertensi) yang tidak terkontrol.
  • Pasien dengan gangguan ginjal berat.
  • Pasien dengan gangguan hati sedang atau berat.
  • Wanita hamil dan ibu menyusui.
  • Penggunaan bersamaan dengan lebih dari dua obat antiplatelet atau antikoagulan tambahan (misalnya aspirin, klopidogrel, heparin, warfarin, dabigatran, rivaroksaban atau apiksaban).
  • Wanita yang sedang mengalami menstruasi.
  • Pasien yang memiliki risiko perdarahan atau perdarahan abnormal karena suatu pemicu (diatesis hemoragik).
  • Pasien dengan gangguan hati atau ginjal berat.
  • Pasien yang menjalani terapi dengan obat antikoagulan, antitrombotik atau agen antiplatelet, prostaglandin E1 atau turunannya.
  • Klaritromisinm esomeprazol,
    Klaritromisin secara signifikan dapat meningkatkan kadar silostazol dalam darah. Hal ini dapat meningkatkan risiko atau keparahan efek samping seperti pusing, pusing, pingsan, mual, diare, perdarahan, jantung berdebar-debar, atau detak jantung tidak teratur.
  • Aspirin dan klopidogrel.
    Penggunaan silostazol bersama dengan aspirin dapat meningkatkan risiko perdarahan. Anda harus segera mencari pertolongan medis jika Anda mengalami perdarahan atau memar yang tidak biasa, memiliki tanda dan gejala perdarahan lain seperti pusing, feses berwarna merah atau hitam batuk atau muntah darah segar atau kering, sakit kepala parah, dan kelemahan.
  • Rivaroksaban.
    Penggunaan rivaroksaban bersama dengan silostazol dapat meningkatkan risiko perdarahan, termasuk perdarahan yang parah dan terkadang fatal.
  • Selekosib.
    Penggunaan selecoxib bersama dengan silostazol dapat meningkatkan risiko komplikasi perdarahan pada saluran pencernaan.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/antiplat
Diakses pada 25 Agustus 2020

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/cilostazol
Diakses pada 25 Agustus 2020

Patient. https://patient.info/medicine/cilostazol-tablets
Diakses pada 25 Agustus 2020

Drugs. https://www.drugs.com/drug-interactions/cilostazol.html
Diakses pada 25 Agustus 2020

Drugbank. https://www.drugbank.ca/drugs/DB01166
Diakses pada 25 Agustus 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Daftar Penyakit yang Bisa Sembuh dengan Pengobatan Tusuk Jarum

Pengobatan tusuk jarum diklaim bisa meredakan sakit punggung, leher kaku, hingga osteoarthritis dan sakit kepala. Benarkah demikian?
17 Sep 2020|Asni Harismi
Baca selengkapnya
Daftar Penyakit yang Bisa Sembuh dengan Pengobatan Tusuk Jarum

Penyebab Nyeri Otot saat Berolahraga

Nyeri otot dapat terjadi akibat adanya robekan kecil mikroskopis pada jaringan otot. Robeknya otot ini dapat dikategorikan sebagai cedera ringan. Untuk mengatasi nyeri otot saat olahraga, istirahat yang cukup dan minum obat pereda nyeri.
29 Mar 2019|Aby Rachman
Baca selengkapnya
Penyebab Nyeri Otot saat Berolahraga

Mengenal Penyebab Eritrosit Tinggi Beserta Cara Menanganinya

Kadar sel darah merah atau eritrosit tinggi bisa menjadi gejala dari penyakit yang "bersembunyi" di dalam tubuh. Jika dibiarkan, penyakit-penyakit ini bisa semakin buas dan mengancam nyawa. Oleh karena itu, kenali penyebab dan cara mengatasi eritrosit tinggi di sini.
18 Feb 2020|Fadli Adzani
Baca selengkapnya
Mengenal Penyebab Eritrosit Tinggi Beserta Cara Menanganinya