Amtocort tablet adalah obat yang digunakan untuk mengatasi peradangan dan reaksi alergi.
Golongan obat Merah Obat keras: diharuskan menggunakan resep dokter.
HET Rp 121.000/box per Agustus 2020
Kemasan 1 box isi 10 strip @ 5 tablet (4 mg)
Produsen Pharos Indonesia
Amtocort tablet adalah obat untuk mengatasi peradangan dan reaksi alergi seperti asma bronkial, peradangan rongga hidung (rinitis alergi), biduran (urtikaria), peradangan berupa ruam kemerahan pada kulit (dermatitis kontak) dan peradangan kulit berupa ruam dan rasa gatal (dermatitis atopik). Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Amtocort mengandung zat aktif triamsinolon.

Mengatasi berbagai reaksi alergi dan peradangan pada kondisi:

  • Asma yang disebabkan terjadinya pembengkakan pada dinding saluran pernapasan (asma bronkial).
  • Peradangan rongga hidung (rinitis alergi).
  • Biduran (urtikaria).
  • Peradangan berupa ruam kemerahan pada kulit (dermatitis kontak).
  • Peradangan kulit berupa ruam dan rasa gatal (dermatitis atopik). 

Triamsinolon menstimulasi sintesis enzim yang dibutuhkan untuk menurunkan respon inflamasi. Obat ini mampu menekan sistem kekebalan dengan mengurangi aktivitas dan volume sistem limfatik, menghasilkan limfositopenia (terutama limfosit T), menurunkan tingkat imunoglobulin dan komplemen, mengurangi bagian kompleks imun melalui membran basal, dan menekan reaktivitas jaringan terhadap interaksi antigen-antibodi.

Triamsinolon 4 mg.

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

  • Dewasa dan anak-anak 12 tahun ke atas: 4-48 mg/hari.
  • Anak-anak 12 tahun ke bawah: 416 mcg-1,7 mg/kgBB/hari.
    Dosis dihitung dengan mengalikan berat badan pasien.
Dikonsumsi dengan makanan.
  • Gangguan cairan dan elektrolit.
  • Kelainan otot akibat penggunaan obat steroid (miopati steroid).
  • Kelemahan otot.
  • Luka pada lambung (tukak lambung).
  • Berkurangnya kepadatan tulang (osteoporosis).
  • Garis-garis pada beberapa bagian tubuh atau stretch marks (striae).
  • Daerah kulit tertentu lebih gelap (hiperpigmentasi).
  • Berat badan bertahan.
  • Perubahan suasana hati.
  • Sakit kepala.
  • Pusing.
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap triamsinolon.
  • Pasien yang memiliki jumlah sel keping darah yang rendah sehingga menjadi mudah berdarah dan memar (trombositopenia idiopatik purpura).
  • Pasien penderita komplikasi malaria akibat adanya parasit yang menyebabkan kerusakan pada sawar otak (malaria serebral).
  • Pasien penderita infeksi jamur sistemik.
  • Pasien penderita yang mengalami kesulitan dalam membedakan antara imajinasi dan kenyataan (psikosis akut).
  • Pasien penderita tuberkulosis.
  • Pasien penderita herpes simpleks keratitis.
  • Pasien penderita parasitosis.
  • Pasien dengan tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Pasien dengan kerusakan hati (sirosis).
  • Pasien dengan kadar kadar hormon tiroid yang rendah (hipotiroidisme).
  • Pasien dengan infeksi herpes pada mata yang dapat menyebabkan kebutaan
  • (herpes simpleks okular).
  • Pasien dengan peradangan usus (kolitis ulserativa nonspesifik).
  • Pasien dengan tekanan bola mata yang tinggi (glaukoma) atau buramnya lensa mata (katarak).
  • Pasien dengan gagal jantung.
  • Pasien dengan serangan jantung (infark miokard akut).
  • Pasien dengan gangguan saluran pencernaan.
  • Pasien dengan riwayat kejang.
  • Anak-anak.
  • Pasien dengan gangguan hati dan ginjal.
  • Wanita hamil dan ibu menyusui.
  • Obat antikolinergik seperti atropin.
    Penggunaan bersama triamsinolon meningkatkan tekanan intraokular.
  • Obat antikoagulan.
    Penggunaan bersama triamsinolon mengurangi efek antikoagulan dari obat-obatan antikoagulan oral.
  • Seritinib.
    Penggunaan bersama triamsinolon meningkatkan efek hiperglikemia yaitu meningkatkan kadar gula darah.
  • Obat turunan sulfonilurea dan insulin.
    Penggunaan bersama triamsinolon menurunkan efek terapi antidiabetik.
  • Obat antihipertensi dan diuretik.
    Penggunaan bersama triamsinolon menurunkan tekanan darah arteri.
  • Obat NSAID.
    Penggunaan bersama triamsinolon meningkatkan risiko pendarahan di saluran cerna.
  • Kontrasepsi oral.
    Penggunaan bersama triamsinolon meningkatkan kadar serum estrogen.
  • Disopiramid, kuinidin, prokainamid, amiodaron, sotalol, bepridil.
    Penggunaan bersama triamsinolon meningkatkan risiko perpanjangan interval QT.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/amtocort%20tablet?type=brief&lang=id
Diakses pada 18 Agustus 2020

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/triamcinolone?mtype=generic
Diakses pada 18 Agustus 2020

Drugs. https://www.drugs.com/triamcinolone.html
Diakses pada 18 Agustus 2020

Glowm. https://www.glowm.com/resources/glowm/cd/pages/drugs/t057.html
Diakses pada 18 Agustus 2020

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus tetap sesuai dengan anjuran dokter.

Artikel Terkait