Althea Tablet

26 Sep 2020| Ajeng Prahasta

Deskripsi obat

Althea tablet adalah obat kontrasepsi oral yang digunakan saat darurat untuk mencegah kehamilan dan mengatasi jerawat pada wanita, peradangan kulit bagian atas yang ditandai dengan timbulnya sisik pada kulit (seborrhea), dan pertumbuhan rambut yang berlebihan pada wajah (hirustisme) yang ringan. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Althea tablet mengandung zat aktf siproteron asetat dan etinilestradiol.
Althea Tablet
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
Produk HalalYa
Kandungan utamaSiproteron dan etinilestradiol.
Kelas terapiKontrasepsi oral.
Kemasan1 box isi 1 strip @ 21 tablet
ProdusenDKT Health

Informasi zat aktif

Siproteron dan etinilestradiol sebagai kontrasepsi oral kombinasi, bekerja dengan menekan proses pelepasan sel telur matang (ovulasi) dan mengentalkan lendir serviks untuk membentuk penghalang sperma. Bedasarkan proses kerja obat dalam tubuh, siproteron dan etinilestradiol diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Siproteron diserap seluruhnya dari saluran pencernaan, obat yang masuk ke peredaran darah seluruh tubuh (ketersediaan hayati) sebanyak 88%, dan waktu dimana obat mencapai kadar tertinggi dalam plasma (waktu puncak konsentrasi plasma) selama 3-4 jam. Etinilestradiol diserap secara baik dan cepat dari saluran pencernaan, obat yang masuk ke peredaran darah seluruh tubuh (ketersediaan hayati) sebanyak 40-60%, dan dan waktu dimana obat mencapai kadar tertinggi dalam plasma (waktu puncak konsentrasi plasma) selama 1-2 jam.
  • Distribusi: Masuk ke dalam ASI. Ikatan protein plasma siproteron sebanyak 96% dan etinilestradiol sebanyak 98%.
  • Metabolism: Siproteron dimetabolisme di hati melalui penambahan gugus OH yang dapat menyebabkan obat lebih mudah larut dalam air (hidroksilasi) dan reaksi penggabungan molekul obat dengan suatu molekul yang terdapat di dalam tubuh (konjugasi) menjadi hasil dari metabolisme (metabolit) utamanya, 15-beta-hidroksisiproteron. Etinilestradiol dimetabolisme di hati melalui penambahan gugus OH yang dapat menyebabkan obat lebih mudah larut dalam air (hidroksilasi) oleh enzim utama yaitu enzim CYP3A4 menjadi 2-hidroksietinilestradiol.
  • Ekskresi: Siproteron dieksresi terutama melaui feses sebanyal 60% dan urin sebanyak 33% dan waktu obat dikeluarkan dari dalam tubuh (waktu paruh eliminasi) sekitar 43 jam. Etinilestradiol diekskresikan melalui urin dan feses sebagai metabolit bebas dan waktu obat dikeluarkan dari dalam tubuh (waktu paruh eliminasi), kira-kira 24 jam (fase disposisi terminal).

Indikasi (manfaat) obat

  • Mencegah kehamilan dan mengatasi jerawat pada wanita.
  • Pertumbuhan rambut yang berlebihan pada wajah (hirustisme) yang ringan.
  • Peradangan kulit bagian atas yang ditandai dengan timbulnya sisik pada kulit (seborrhea).

Siproteron dan etinilestradiol adalah obat yang bekerja dengan menekan proses pelepasan sel telur matang (ovulasi) dan mengentalkan lendir serviks untuk membentuk untuk menghalangi sperma.

Komposisi obat

Siproteron asetat 2 mg dan etinilestradiol 0,035 mg.

 

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa: 1 tablet/hari pada waktu yang sama selama 21 hari dimulai pada hari pertama menstruasi diikuti dengan masa istirahat dengan tidak mengonsumsi obat selama 7 hari.

Aturan pakai obat

Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan.

Efek samping obat

  • Sakit pada perut.
    Coba untuk beristirahat dan rileks dan makan lebih sering dan dalam jumlah yang lebih sedikit. Tempelkan bantal panas atau botol air panas tertutup pada berut. Jika rasa sakit semakin memburuk, segera hubungi dokter Anda.
  • Pusing.
    Jika Anda mengalami pusing setelah mengonsumsi famotidin, jangan mengemudi dan jangan menggunakan alat atau mesin dan jangan mengonsumsi alkohol. Istirahatlah hingga merasa lebih baik.
  • Sakit kepala.
    Cobalah minum banyak air dan mintalah apoteker untuk merekomendasikan obat penghilang rasa sakit yang sesuai. Jika sakit kepala terus berlanjut, segera hubungi dokter Anda.
  • Kelelahan atau kelemahan yang tidak biasa.
    Jangan mengemudi kendaraan atau menjalankan mesin. Hindari mengonsumsi alkohol, karena akan memperburuk keadaan.
  • Perubahan suasana hati.
  • Nyeri payudara.
  • Pertumbuhan rambut berlebih pada wajah, dada, dan kaki.
  • Rambut rontok.
  • Kenaikan atau penurunan berat badan.

Perhatian Khusus

  • Pasien dengan riwayat masalah kuit berupa bercak gelap dan perubahan warna pada kulit (chloasma gravidarum).
  • Pasien dengan perdarahan tidak teratur yang dapat terjadi terutama selama satu bulan pemakaian.
  • Pasien dengan risiko pembekuan darah pada pembuluh darah (tromboemboli) arteri dan vena.

Kategori kehamilan

Kategori X: Penggunaan althea tablet tidak disarankan pada ibu hamil. Penelitian menunjukkan adanya dampak berupa kelainan pada janin, mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin, serta risiko efek sampingnya lebih besar pada wanita hamil daripada manfaatnya. Konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi obat ini. Khususnya bagi ibu hamil pada trimester pertama, harus lebih berhati-hati mengingat efek sampingnya dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan organ janin.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini.
  • Pasien yang mengonsumsi obat antivirus yang mengandung obitasvir, paritaprevir, dasabuvir atau kombinasi obat tersebut.
  • Pasien dengan penyakit jantung.
  • Pasien dengan penyakit stroke.
  • Pasien dengan risiko pembekuan darah.
  • Wanita hamil.
  • Pasien dengan penyakit hati dan ginjal yang aktif.
  • Pasien dengan risiko kanker payudara.
  • Pasien dengan diabetes parah dengan perubahan pembuluh darah.
  • Pasien yang memiliki perdarahan vagina abnormal yang tidak terdiagnosis.
  • Pasien yang sedang mengonsumsi kombinasi estrogen atau progestogen lain atau estrogen atau progestogen saja.
  • Pasien yang memiliki riwayat kondisi yang menyebabkan pembengkakan pada tangan, kaki, wajah, atau saluran udara (angioedema).
  • Memiliki masalah mata yang disebabkan oleh penyakit pembuluh darah di mata seperti kehilangan penglihatan sebagian atau seluruhnya atau perubahan penglihatan lainnya.
  • Pasien dengan penyempitan pembuluh darah arteri akibat plak pada dinding pembuluh darah.

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Obat antibiotik.
    Penggunaan bersama obat antibiotik meingkatkan risiko perdarahan dan kegagalan kontrasepsi.
  • Fenitoin, barbiturat, primidon, karbamazepin, rifampicin, oksakarbazepin, topiramat, ferbamat, griseofulvin.
    Peningkatan pembersihan (klirens) hormon seks dengan obat-obatan yang menginduksi enzim mikrosom.
  • Siklosporin dan lamotrigin.
    Peningkatan konsentrasi plasma dan jaringan dengan siklosporin.

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, maka dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutnya konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa untuk mengonsumsi obat, cobalah untuk menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau meminta bantuan orang lain untuk membantu mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

  • Sakit perut yang tiba-tiba, parah, atau berkelanjutan.
  • Tanda-tanda reaksi alergi yang serius misalnya, kram perut, kesulitan bernapas, mual dan muntah, atau pembengkakan pada wajah dan tenggorokan.
  • Tanda-tanda pembekuan darah misalnya batuk darah, nyeri di dada, atau tungkai terutama di betis kaki).
  • Tanda-tanda serangan jantung misalnya nyeri dada mendadak atau nyeri menjalar ke punggung, lengan bawah, rahang, sensasi dada sesak, mual, muntah, berkeringat, gelisah.
  • Tanda-tanda stroke misalnya, sakit kepala mendadak atau parah, kehilangan koordinasi secara tiba-tiba, perubahan penglihatan, bicara mendadak atau kelemahan, mati rasa, atau nyeri di lengan atau tungkai yang tidak dapat dijelaskan.
  • Sesak napas.
  • Pembengkakan pada wajah, tangan, kaki, atau saluran udara.

Jika mengalami salah satu atau beberapa gejala, segera informasikan kepada dokter Anda. Jangan menghentikan obat tanpa persetujuan dari dokter.

MIMS. https://www.mims.com/philippines/drug/info/diane-35
Diakses pada 7 Sepetember 2020

MIMS. https://www.mims.com/philippines/drug/info/cyproterone%20+%20ethinylestradiol?mtype=generic
Diakses pada 7 Sepetember 2020

CHealth. https://chealth.canoe.com/drug/getdrug/diane-35
Diakses pada 7 Sepetember 2020

Healthdirect. https://www.healthdirect.gov.au/medicines/brand/amt,744371000168103/diane-35-ed#downloads
Diakses pada 7 Sepetember 2020

Pharmasave. https://pharmasave.com/health/medications/diane-35/
Diakses pada 7 Sepetember 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Kenali Penyebab Stretch Mark Berikut Ini pada Ibu Hamil

Meski tidak berbahaya untuk ibu maupun bayi di dalam kandungan, munculnya stretch mark pada ibu dapat menimbulkan rasa tidak nyaman akibat rasa gatal. Timbunya stretch mark saat hamil dapat disebabkan oleh peningkatan berat badan yang wajar dialami oleh ibu hamil.
14 May 2019|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Kenali Penyebab Stretch Mark Berikut Ini pada Ibu Hamil

Telat Suntik KB dan Terlambat Datang Bulan, Hamilkah?

Telat suntik KB dan terlambat datang bulan bisa jadi salah satu tanda hamil yang harus dipastikan dengan pemeriksaan kehamilan. Apakah Anda pernah telat suntik KB?
03 Oct 2020|Asni Harismi
Baca selengkapnya
Telat Suntik KB dan Terlambat Datang Bulan, Hamilkah?

4 Penyebab Air Liur Berlebihan Saat Hamil

Air liur berlebihan saat hamil merupakan hal yang umum terjadi. Kondisi ini terjadi untuk melindungi mulut, gigi, dan tenggorokan. Untuk mengatasinya, Anda bisa menjaga kebersihan mulut dengan gosok gigi dan menggunakan obat kumur beberapa hari sekali.
27 May 2019|dr. M. Helmi A.
Baca selengkapnya
4 Penyebab Air Liur Berlebihan Saat Hamil