Aggravan Tablet 50 mg

27 Okt 2020| Lenny Tan
Aggravan tablet 50 mg obat untuk mengurangi berbagai keadaan yang ditimbulkan oleh kekurangan suplai darah ke jaringan atau organ tubuh karena permasalahan pada pembuluh darah (iskemia) yang disebabkan penyakit oklusif arteri pronis, dan mengobati nyeri yang timbul saat berolahraga (claudication intermittent).

Deskripsi obat

Aggravan tablet adalah obat yang digunakan untuk mencegah penggumpalan darah dan mengencerkan darah (antiplatelet). Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Anggravan tablet mengandung zat aktif silostazol.
Aggravan Tablet 50 mg
Golongan ObatObat kerasObat resep. Obat hanya boleh dibeli menggunakan resep dokter.
HETRp 96.825/strip per Oktober 2019
Produk HalalYa
Kandungan utamaSilostazol.
Kelas terapiAntikoagulan, antiplatelet, dan fibrinolitik.
Kemasan1 box isi 3 strip @ 10 tablet (50 mg)
ProdusenDexa Medica

Informasi zat aktif

Silostazol merupakan penghambat AMP siklik (cAMP) fosfodiesterase III (penghambat PDE III), yang menghambat aktivitas fosfodiesterase dan menekan degradasi cAMP dengan hasil peningkatan cAMP pada trombosit dan pembuluh darah sehingga menyebabkan penghambatan penggumpalan darah (agregasi platelet) dan pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi). Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, silostazol diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Peningkatan penyerapan jika dikonsumsi dengan makanan berlemak tinggi.
  • Distribusi: Ikatan protein plasma sekitar 95-98%.
  • Metabolisme: Dimetabolisme di hati.
  • Ekskresi: Diekskresi melalui urin sebanyak 74% dan feses 20% dan waktu obat dikeluarkan oleh tubuh (waktu paruh eliminasi) sekitar 11-13 jam.

Indikasi (manfaat) obat

  • Mengurangi berbagai keadaan yang ditimbulkan oleh kekurangan suplai darah ke jaringan atau organ tubuh karena permasalahan pada pembuluh darah (iskemia) yang disebabkan penyakit oklusif arteri kronis.
  • Mengobati nyeri yang timbul saat berolahraga (klaudikasio intermiten).

Silostazol bekerja pada trombosit dan pembuluh darah sehingga menyebabkan penghambatan penggumpalan darah (agregasi platelet) dan pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi).

Komposisi obat

Silostazol 50 mg.

Dosis obat

Penggunaan obat harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter

Dewasa: 100 mg sebanyak 2 kali/hari.

Aturan pakai obat

Sebaiknya dikonsumsi dalam keadaan perut kosong, konsumsi minimal 30 menit sebelum atau 2 jam sesudah makan.

Efek samping obat

  • Mual, muntah, gangguan pencernaan, sakit perut, dan perut kembung.
    Jika Anda mengalami salah satu atau beberapa hal tersebut, cobalah mengonsumsi makanan yang sederhana dan hindari makanan yang berat atau makanan yang pedas.
  • Sakit kepala.
    Jika Anda mengalami sakit kepala mintalah apoteker untuk merekomendasikan obat penghilang rasa sakit yang sesuai untuk Anda. Jika sakit kepala terus berlanjut, segera hubungi dokter Anda.
  • Diare.
    Jika Anda mengalami diare setelah mengonsumsi silostazol, minumlah banyak air untuk mengganti cairan yang hilang.
  • Pusing atau kelelahan.
    Jika Anda mengalami pusing atau kelelahan, jangan mengemudi dan jangan menggunakan alat atau mesin.
  • Kehilangan nafsu makan, detak jantung cepat, nyeri dada, pilek, pergelangan kaki atau kaki bengkak, ruam kulit gatal.
    Jika Anda mengalami salah satu atau beberapa hal tersebut, segeralah hubungi dokter Anda.

Perhatian Khusus

  • Pasien dengan gangguan hati atau ginjal berat.
  • Wanita yang sedang mengalami menstruasi.
  • Pasien yang memiliki risiko perdarahan atau perdarahan abnormal karena suatu pemicu (diatesis hemoragik).
  • Pasien yang menjalani terapi dengan obat antikoagulan, antitrombotik atau agen antiplatelet, prostaglandin E1 atau turunannya.

Kategori kehamilan

Kategori C: Belum terdapat penelitian terkontrol untuk penggunaan aggravan tablet pada ibu hamil, namun ada efek samping yang mungkin dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan janin. Oleh karena itu, penggunaannya pada ibu hamil hanya dapat dilakukan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin. Konsultasikan penggunaan obat ini dengan dokter sebelum digunakan.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien dengan nyeri dada karena penyakit jantung koroner (angina pektoris). Pasien yang mengalami serangan jantung (infark miokard) dalam 6 bulan terakhir.
  • Kerusakan pada mukosa otot saluran cerna (ulserasi peptik).
  • Pasien yang mengalami pecahnya salah satu pembuluh darah otak (stroke hemoragik) baru-baru ini.
  • Pasien dengan gagal jantung kongestif (derajat atau keparahan apa pun).
  • Pasien dengan riwayat detak jantung cepat (takikardia).
  • Pasien dengan irama jantung tidak teratur (fibrilasi).
  • Pasien yang mengalami pertumbuhan pembuluh darah baru dalam retina akibat penyakit gula darah tinggi (retinopati diabetik proliferatif).
  • Pasien dengana tekanan darah tinggi (hipertensi) yang tidak terkontrol.
  • Pasien dengan gangguan ginjal berat.
  • Pasien dengan gangguan hati sedang atau berat.
  • Wanita hamil dan ibu menyusui.
  • Penggunaan bersamaan dengan lebih dari dua obat antiplatelet atau antikoagulan tambahan (misalnya aspirin, klopidogrel, heparin, warfarin, dabigatran, rivaroksaban atau apiksaban).

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Aspirin dan klopidogrel.
    Penggunaan silostazol bersama dengan aspirin dapat meningkatkan risiko perdarahan. Anda harus segera mencari pertolongan medis jika Anda mengalami perdarahan atau memar yang tidak biasa, memiliki tanda dan gejala perdarahan lain seperti pusing, feses berwarna merah atau hitam batuk atau muntah darah segar atau kering, sakit kepala parah, dan kelemahan.
  • Klaritromisinm esomeprazol,
    Klaritromisin secara signifikan dapat meningkatkan kadar silostazol dalam darah. Hal ini dapat meningkatkan risiko atau keparahan efek samping seperti pusing, pusing, pingsan, mual, diare, perdarahan, jantung berdebar-debar, atau detak jantung tidak teratur.
  • Rivaroksaban.
    Penggunaan rivaroksaban bersama dengan silostazol dapat meningkatkan risiko perdarahan, termasuk perdarahan yang parah dan terkadang fatal.
  • Selekosib.
    Penggunaan selecoxib bersama dengan silostazol dapat meningkatkan risiko komplikasi perdarahan pada saluran pencernaan.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Jika Anda mengalami memar atau pendarahan, atau jika Anda mengalami sakit tenggorokan atau suhu tubuh tinggi.

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/cilostazol
Diakses pada 4 September 2020

Patient. https://patient.info/medicine/cilostazol-tablets
Diakses pada 4 September 2020

Drugs. https://www.drugs.com/drug-interactions/cilostazol.html
Diakses pada 4 September 2020

Drugbank. https://www.drugbank.ca/drugs/DB01166
Diakses pada 4 September 2020

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email