Acetylcysteine

27 Apr 2021
Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri
Acetylcysteine digunakan untuk mengencerkan dahak pada kondisi asma, cystic fibrosis, dan PPOK

Acetylcysteine digunakan untuk mengencerkan dahak pada kondisi asma, cystic fibrosis, dan PPOK

Daftar merek obat yang beredar di Indonesia

Acetylcysteine, Alstein, Cecyl, Fluimucil, Hidonac, Mucylin, Nalitik, Nytex, Pectocil, Resfar

Deskripsi obat

Acetylcysteine digunakan untuk membantu mengencerkan dahak. Misalnya saja, pada kondisi asma, emfisema atau kerusakan kantong udara pada paru-paru, bronkitis atau peradangan pada bronkus, fibrosis kistik atau penyakit bawaan yang menyebabkan masalah pernapasan, pencernaan, dan reproduksi, atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Selain itu, obat ini juga dapat mengatasi kerusakan hati akibat penggunaan paracetamol dalam dosis besar.

Acetylcysteine tersedia dalam tiga jenis sediaan, yaitu larutan inhalasi, larutan suntik, dan tablet. Penggunaan acetylcysteine dalam bentuk larutan inhalasi harus dihirup melalui mulut. Setelah dihirup, obat ini akan membantu mengencerkan lendir di saluran udara untuk melegakan pernapasan.

Obat ini hanya bisa didapat menggunakan resep dokter.

Acetylcysteine (Asetilsistein)
GolonganKelas terapi: Mukolitik
Kategori obatObat resep
Bentuk sediaan obatTablet, injeksi, larutan inhalasi
Dikonsumsi olehDewasa dan anak-anak
Kategori kehamilan dan menyusuiKategori B: Penelitian tidak menemukan efek malformasi atau efek yang mengganggu perkembangan janin
Dosis obatDosis setiap orang berbeda-beda. Pastikan selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan atau mengonsumsi obat.

Petunjuk umum konsumsi

Dosis yang diberikan mungkin bervariasi berdasarkan kondisi individu. Selama pengobatan, dokter akan melihat respons terhadap pengobatan dan melakukan penyesuaian dosis bila diperlukan.

Injeksi
Keracunan parasetamol

  • Dewasa: Dosis awal sebanyak 150 mg/kg (maksimal 16,5 g) dalam 200 ml pengencer, selama 60 menit. Dilanjutkan dengan 50 mg/kg (maksimall 5,5 g) dalam 500 ml pengencer selama 4 jam berikutnya, kemudian 100 mg/kg (maksimal 11 g) dalam 1 L pengencer selama 16 jam berikutnya.
  • Anak:
    • Berat kurang dari 20 kg: Dosis awal sebanyak 150 mg/kg dalam 3 mL/kg pengencer selama 60 menit. Diikuti dengan 50 mg/kg dalam 7 mL/kg pengencer selama 4 jam, kemudian 100 mg/kg dalam 14 mL/kg pengencer selama 16 jam.
    • Berat 20-40 kg: Dosis awal sebanyak 150 mg/kg dalam 100 mL pengencer selama 60 menit. Diikuti dengan 50 mg/kg dalam 250 mL pengencer selama 4 jam, kemudian 100 mg/kg dalam 500 mL pengencer selama 16 jam.
    • Berat badan lebih dari 40 kg: Sama dengan dosis orang dewasa

Tablet
Mukolitik atau mengencerkan dahak

  • Dewasa: 200 mg sebanyak 3 kali/hari atau 600 mg untuk sediaan effervescent sebanyak sekali sehari. Dosis maksimal 600 mg/hari.
  • Anak-anak usia 2–6 tahun: 100 mg, sebanyak 2–4 kali/hari
  • Anak-anak usia >6 tahun: 200 mg, sebanyak 2–3 kali/hari

Keracunan paracetamol

  • Dewasa: Untuk mengobati keracunan paracetamol, bentuk obat yang digunakan adalah tablet effervescent dengan dosis awal 140 mg/kgBB. Diikuti dengan 17 kali dosis pemeliharaan sebanyak 70 mg/kgBB, diberikan tiap 4 jam.

Larutan inhalasi
Mukolitik atau mengencerkan dahak

  • Dewasa:
    • Sebagai larutan 10%: 6–10 ml sebanyak 3–4 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan menjadi 2–20 ml, setiap 2–6 jam sesuai kebutuhan.
    • Sebagai larutan 20%: 3–5 ml sebanyak 3–4 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan menjadi 1–10 ml, setiap 2–6 jam atau sesuai kebutuhan.

Aturan pakai obat

  • Oral: Sebaiknya dikonsumsi dengan makanan. Tablet terlebih dahulu dilarutkan dalam air
  • Injeksi: Dilakukan langsung oleh dokter atau tenaga medis di bawah pengawasan dokter
  • Larutan inhalasi: Dihirup melalui hidung

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya
    Jika masih dekat dengan jadwal minum atau penggunaan obat sebelumnya, segera konsumsi atau gunakan obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutkan mengonsumsi atau menggunakan obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat
    Jangan mengonsumsi atau menggunakan total dosis yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali atas anjuran dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi atau menggunakan obat
    Jika sering lupa menggunakan atau mengonsumsi obat, cobalah menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal penggunaan atau minum obat atau mintalah bantuan orang lain mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian sesuai kebutuhan Anda.

Efek samping obat

Efek samping belum tentu terjadi di setiap pemakaian obat. Namun, jika terjadi efek samping yang mengganggu atau memburuk, segeralah cari bantuan medis.

Beberapa efek samping yang dapat terjadi setelah penggunaan acetylcysteine adalah:

  • Mual
    Hindari makanan yang sulit dicerna. Jangan berbaring setelah makan. Beristirahatlah dengan posisi kepala lebih tinggi dari kaki Anda. Jika Anda merasa mual saat bangun di pagi hari, makanlah daging tanpa lemak atau keju sebelum tidur.
    Anda juga bisa menyediakan biskuit di samping tempat tidur dan makanlah sedikit sesaat setelah bangun tidur. Minumlah setidaknya enam gelas air sehari.
  • Muntah
  • Sakit perut
  • Ruam
  • Pilek
  • Demam

Perhatian Khusus

Beri tahu dokter mengenai riwayat penyakit Anda sebelumnya. Hati-hati menggunakan acetylcysteine pada kondisi:

  • Sakit maag
  • Perdarahan pada perut atau kerongkongan
  • Diet rendah garam
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Gagal jantung kongestif
  • Penyakit ginjal

Penyimpanan

Simpan pada suhu antara 20-25°C.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

Hindari penggunaan acetylcysteine pada pasien dengan kondisi, seperti:

  • Memiliki alergi terhadap acetylcysteine
  • Berusia di bawah 2 tahun

Kategori kehamilan & menyusui

Kategori B: Penelitian tidak menemukan efek malformasi atau efek yang mengganggu perkembangan janin pada trimester pertama dan selanjutnya. Studi pada reproduksi hewan telah membuktikan tingkat keamanan obat ini.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Segera hubungi dokter jika Anda mengalami:

  • Muntah parah
  • Batuk darah atau muntah yang terlihat seperti bubuk kopi
  • Tanda-tanda obat tidak bekerja, seperti, sakit pada perut bagian atas, kehilangan nafsu makan, urine berwarna gelap, feses berwarna tanah liat, dan penyakit kuning (kulit atau mata menguning)

Interaksi obat (jangan digunakan bersamaan dengan)

Interaksi obat mungkin terjadi jika Anda menggunakan atau mengonsumsi beberapa obat bersamaan. Pastikan selalu berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum menggunakannya. Bila perlu, dokter mungkin akan mengurangi dosis atau mengganti obat dengan alternatif obat lainnya.

Mengonsumsi acetylcysteine dengan obat lain bersamaan dapat menyebabkan beberapa interaksi, meliputi:

  • Obat untuk batuk kering atau antitusif, seperti codeine
    Penggunaan bersama obat di atas akan menyebabkan risiko penumpukan dahak.
  • Arang aktif
    Arang aktif dapat menurunkan efektivitas acetylcysteine dalam mengencerkan dahak.
  • Nitrogliserin
    Penggunaan bersama nitrogliserin dapat menyebabkan peningkatan efek pelebaran pembuluh darah atau vasodilator.
  • Antibiotik
    Acetylcysteine dapat menurunkan efektivitas antibiotik dalam mengatasi infeksi bakteri.

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis langsung dengan dokter, atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus dengan resep dokter. Ketersediaan obat tergantung pada indikasi yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/acetylcysteine?mtype=generic
Diakses pada 16 April 2021

Drugs. https://www.drugs.com/cdi/acetylcysteine-solution.html
Diakses pada 16 April 2021

Drugs. https://www.drugs.com/mtm/acetylcysteine.html
Diakses pada 16 April 2021

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a615021.html
Diakses pada 16 April 2021

Healthline. https://www.healthline.com/health/acetylcysteine-inhalation-solution#side-effects
Diakses pada 16 April 2021

Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email