Alfabet
# A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

Acetazolamide (Alias: Asetazolamid)

Ditulis oleh Olivia
Terakhir ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri
Acetazolamide adalah obat yang dapat mengurangi gejala penyakit ketinggian pada pendaki
Penyakit ketinggian disebabkan pendakian yang terlalu cepat

Merk dagang yang beredar:

Acetazolamid, Glauseta.

Acetazolamide digunakan untuk mengurangi sakit kepala, kelelahan, mual, pusing dan sesak napas ketika seseorang melakukan pendakian diatas 10.000 kaki atau sekitar 3.000 meter. Pada ketinggian tersebut, biasanya tubuh tidak bisa menyesuaikan diri karena kadar oksigen rendah sehingga menyebabkan penyakit ketinggian. Obat ini juga digunakan bersama obat lain untuk mengobati masalah mata seperti glaukoma.

Kegunaan dari obat Acetazolamide adalah untuk mengurangi cairan yang tersebar ke seluruh tubuh dan menumpuk akibat mendaki terlalu cepat. Cara terbaik agar tidak terkena penyakit ketinggian adalah dengan mendaki perlahan dan istirahat yang cukup agar tubuh dapat menyesuaikan diri dengan ketinggian.

Acetazolamide (Asetazolamid)
Golongan

Diuretik

Kategori Obat

Obat resep

Bentuk Obat

Tablet, Kapsul

Dikonsumsi oleh

Dewasa

Kategori Kehamilan dan Menyusui

Kategori C: Penelitian pada hewan percobaan menunjukkan efek buruk terhadap janin dan tidak ditemukan studi yang memadai pada manusia. Namun, mengingat efektivitasnya, penggunaannya dapat dipertimbangkan pada wanita hamil sekalipun berisiko.

Dosis

Dosis bersifat individual. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat.

Diuresis

  • Dewasa: 250-375 mg/hari.

Epilepsi

  • Dewasa: 250-100 mg/hari, dibagi untuk beberapa kali konsumsi.
  • Anak: 8-30 mg/kgBB/hari, dibagi untuk beberapa kali konsumsi. (Maksimal 750 mg/hari).

Gangguan ketinggian

  • Dewasa: 500-1000 mg/hari, dibagi untuk beberapa kali konsumsi. Mulai dikonsumsi 24-48 jam sebelum mendaki dan lanjutkan selama 48 jam saat berada diketinggian sesuai kebutuhan.

Aturan pakai Acetazolamide dengan benar

Obat ini sebaiknya dikonsumsi bersamaan saat makan untuk mengurangi kemungkinan sakit perut. Untuk mencegah penyakit ketinggian, konsumsilah acetazolamide 1-2 hari sebelum mulai mendaki. Kemudian mengonsumsinya 48 jam setelah mencapai ketinggian akhir Anda. Selama berada di ketinggian, Anda mungkin harus tetap menggunakan obat ini untuk mengurangi gejalanya. Jika Anda memiliki penyakit ketinggian yang parah, jangan terlalu lama berada di ketinggian karena acetazolamide tidak dapat melindungi Anda dari efek serius dari efek ketinggian yang parah.

Efek Samping

Efek samping seperti pusing, kepala terasa ringan, atau peningkatan buang air kecil dapat terjadi. Jika beberapa efek tersebut memburuk, segera konsultasikan dengan dokter.

Segera mencari pertolongan medis jika merasakan efek samping yang serius seperti:

  • Kehilangan pendengaran
  • Telinga berdengung
  • Sakit perut yang parah
  • Mual/muntah secara terus menerus
  • Mudah lelah
  • Menguningnya mata/kulit
  • Memar/perdarahan
  • Detak jantung tidak teratur
  • Tanda-tanda infeksi (demam, sakit tenggorokan)
  • Perubahan suasana hati
  • Nyeri/kesemutan pada kaki dan tangan
  • Urine gelap
  • Buang air kecil terasa sakit

Peringatan

Konsultasi dengan dokter terlebih dahulu jika Anda memiliki kondisi medis seperti:

  • Pasien diabetes insipidus (gejala berkemih berlebihan)
  • Menurunnya pH darah (asidosis respiratorik)

Obat ini dapat membuat Anda pusing, mengantuk, dan mengaburkan penglihatan Anda. Hindari minuman yang mengandung alkohol setelah meminum acetazolamide.  Obat ini juga dapat mengurangi kadar gula darah di dalam darah. Selain itu, acetazolamide juga membuat Anda lebih sensitif terhadap matahari, jadi kurangi waktu Anda di bawah sinar matahari. Gunakan tabir surya dan gunakan pakaian pelindung saat berada di luar ruangan.

Anak-anak kurang dari 12 tahun tidak boleh mengonsumsi acetazolamide karena dapat mempengaruhi pertumbuhan normal. Acetazolamide harus digunakan secara hati-hati pada orang tua karena mereka mungkin akan lebih sensitif dengan efek sampingnya, terutama kadar kalium atau natrium rendah. Sedangkan untuk kehamilan obat ini digunakan jika hanya benar-benar diperlukan dengan mendiskusikan manfaat dan risikonya dengan dokter.

Jangan mengonsumsi obat ini jika mempunyai kondisi medis seperti:

  • Hipersensitivitas terhadap acetazolamide
  • Gangguan ginjal
  • Gangguan hati
  • Kerusakan natrium atau kalium

Informasi lebih lengkap bisa dilihat melalui kemasan.

Interaksi

Menggunakan obat Acetazolamide dengan obat lain dapat menyebabkan terjadinya interaksi seperti:

  • Aspirin dosis tinggi: Anoreksia, Takipnea, lesu, gangguan metabolisme, koma hingga kematian.
  • Meningkatkan kadar phenytoin dan risiko osteomalasia.
  • Meningkatkan risiko pembentukan batu ginjal.
  • Meningkatkan kadar ciclosporin.

Informasi yang diberikan bukan sebagai pengganti konsultasi medis langsung dengan dokter atau mengarahkan pemakaian obat dengan merek tertentu. Pemakaian obat harus sesuai dengan resep dokter. Ketersediaan obat tergantung pada indikasi yang disetujui BPOM.

Penyakit
Referensi

BPOM. http://pionas.pom.go.id/monografi/asetazolamid
Diakses pada 14 Oktober 2018

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/carbonic-anhydrase-inhibitor-oral-route-parenteral-route/description/drg-20069373
Diakses pada 14 Oktober 2018

MIMS. http://www.mims.com/indonesia/drug/info/acetazolamide
Diakses pada 14 Oktober 2018

Web MD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-6755/acetazolamide-oral/details
Diakses pada 14 Oktober 2018

Back to Top