Kenapa seseorang suka berbicara sendiri?

UA Info Penanya: UA, Wanita, 19 Tahun
Dok, sy mao nanya... Ketika seseorang suka berbicara sendri, tanpa mengeluarkan suara... Kdang itu sdar, kadang gak sadar. Secara fisik sehat, bs berbaur atau bersosialisasi dgn org byk. Sebelum'y org ini sudah mengalami gejala psikisomatik... Apakah ini bagian dr psikisomatik juga?
Forum Jawab Doctor
Dijawab oleh

Selamat siang UA,

Mungkin yang Anda maksudkan adalah gejala psikotik atau atau kondisi dimana seseorang tidak bisa membedakan realita dan halusinasi. Bisa ditandai dengan gejala awal seperti suasana perasaan yang berubah-ubah atau sulit ditebak, menarik diri dari pergaulan, berperilaku yang dianggap aneh, sulit tidur, dan lainnya. Gejala psikotik lain yang bisa timbul adalah halusinasi, dimana bisa seperti melihat sesuatu, mendengar sesuatu, merasakan seusatu ataupun gangguan yang berkaitan dengan panca indera. Selain itu juga bisa timbul keluhan lain seperti waham atau merasa dirinya seperti apa yang dia pikirkan atau dia katakan padahal kenyataannya tidak.

Berbeda dengan psikosomatik, dimana psikosomatik adalah seseorang mengalami gangguan pikiran yang memicu keluhan fisik. Tetapi jika dilakukan pemeriksaan bisa tidak didapatkan adanya gangguan apa-apa ataupun bahkan psikosomatik bisa berpengaruh menimbulkan beragam gangguan pada tubuh.

Jika mengenal seseorang dengan tanda gejala keluhan psikotik maka ada baiknya menyarankan dia atau keluarganya untuk berkonsultasi pada profesional seperti dokter spesialis jiwa untuk dilakukan evaluasi dan penanganan untuk mengatasi kondisi tersebut salah satunya dengan pemberian obat antipsikotik agar orang itu bisa kembali beraktivitas dengan normal. Semoga bermanfaat.

Salam sehat,

dr. Adhi P.

Postingan membutuhkan waktu beberapa saat untuk tampil
(maks. 500 karakter)

Artikel Terkait

Salah satu perbedaan psikolog dan psikiater adalah dalam cara menangani pasien

Sudah Tahu Perbedaan Psikolog dan Psikiater?

Gangguan psikologis perlu untuk segera ditangani karena berdampak pada kehidupan sehari-hari penderitanya. Salah satu caranya adalah dengan mengunjungi psikolog atau psikiater. Namun, perbedaan psikolog dan psikiater tidak hanya sekedar dari wewenang pemberian resep obat saja.