Bagaimana penanganan otot terpelintir?

D Info Penanya: D, Wanita, 2019 Tahun
Halo Dok,Ibu saya usia 46 tahun. Setelah dari dokter syaraf (ibu saya diduga ototnya melintir) sedangkan dokter fisioterapi mengatakan ibu mengalami osteoporosis tahap aatara 2-3.Selain harus terapi dengan sinar infrared, apa saja yang bisa ibu lakukan agar bisa kembali sedia kala? Perlukah minum susu khusus kalsium tinggi? Atau bagaimana?
Forum Jawab Doctor
Dijawab oleh

Selamat pagi D,

Ada banyak faktor yang dapat menimbulkan nyeri pada daerah tulang belakang seperti :

  1. HNP. Adanya saraf di tulang belakang yang terjepit dapat mengakibatkan nyeri.
  2. Osteoporosis. Adanya pengeroposan tulang belakang menyebabkan tulang belakang menjadi retak dan menimbulkan keluhan nyeri terutama ketika posisi duduk dan berdiri karena tulang belakang dipaksa untuk menopang tubuh.
  3. Kelainan bentuk tulang seperti skoliosis dimana posisi tulang belakang berbentuk S sehingga tubuh akan membebani tulang belakang.

Penanganan akan bergantung pada apa penyebab yang menimbulkan nyeri tersebut. Bila disebabkan oleh tulang yang keropos maka minum susu tinggi kalsium hanya membantu agar tulang tidak semakin keropos, namun tidak dapat menyembuhkan tulang yang sudah terlanjur keropos. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri adalah dengan cara :

  1. Menggunakan korset tulang belakang sesuai dengan ukuran ibu Anda.
  2. Hindari posisi duduk terlalu lama.
  3. Jaga berat badan seideal mungkin untuk mengurangi beban tubuh.
  4. Berjemur di pagi hari untuk merangsang pembentukan vitamin D.
  5. Hindari makanan yang terlalu asin, minuman berkafein, dan perbanyak konsumsi sayur dan buah.

Bila nyeri semakin memberat, segera lakukan konsultasi dengan dokter tulang untuk penanganan lebih lanjut.

Salam sehat,

dr. Vina

(maks. 500 karakter)

Artikel Terkait

Kifosis terjadi ketika tulang belakang membungkuk hingga 50 derajat

Penyebab Kifosis Bisa Beragam, Simak Cerita Kasus Ekstrem Kifosis

Penyebab kifosis sangat beragam termasuk gejala yang dirasakan penderitanya. Beberapa kasus ekstrem bisa terjadi pada bayi dalam janin hingga lansia.