TANYA DOKTER

Bagaimana mengatasi bau akibat luka kanker payudara?

Team SehatQ

Dijawab oleh: Tim Dokter Sehatq

Selamat pagi, TM

       Bau tidak sedap yang sering di jumpai pada pasien dengan kanker payudara merupakan masalah yang paling tidak menyenangkan bagi pasien dan lingkungan. Pasien akan merasa tidak nyaman, malu, bahkan sampai depresi. Bau luka kanker nyaris seperti bangkai/ikan busuk.

      Pada kanker payudara, sel kanker akan tumbuh terus-menerus dan sulit untuk dikendalikan. Sel kanker dapat menyebar melalui aliran darah dan permeabilitas kapiler akan terganggu sehingga sel kanker dapat berkembang pada jaringan kulit. Sel kanker tersebut akan terus menginfiltrasi jaringan kulit, menghambat dan merusak pembuluh darah kapiler yang mensuplai darah ke jaringan kulit. Akibatnya jaringan dan lapisan kulit akan mati (nekrosis) kemudian timbul luka kanker.


      Jaringan nekrosis merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri, baik anaerob (Bacteroides spp, Provetella spp, Clostridium perfringens) maupun aerob (Pseudomonas dan Klebsiella). Bakteri anaerob berkolinisasi pada luka kanker dan melepaskan volate fatty acid sebagai sisa metabolik yang bertanggung jawab terhadap malador (bau) dan pembentuan eksudat pada luka kanker.

      Prinsip penanganan bau tidak sedap pada pasien dengan luka akibat kanker :

- Penggunaan balutan pengontrol bau yang menggunakan charcoal dapat menurunkan malador/bau  seperti actisorb silver 220, CarboFlex, Lyofoam C.
- Antibiotik untuk membunuh bakteri yang menghasilkan malador/bau.
- Luka kanker direkomendasikan untuk di cuci menggunakan irigasi lembut dengan NaCl 0.9% atau air yang hangat. Irigasi dingin dengan tekanan tinggi dihindari karena dapat menyebabkan nyeri atau ketidaknyamanan bagi pasien. Penggunaan antiseptik topikal, misalnya: chlorhexidine, povidone-iodine, hydrogen peroxide dan sodium hypochlorite juga dihindari karena dapat merusak jaringan dan menimbulkan nyeri
- Madu juga telah digunakan sejak beberapa abad yang lalu dan semakin populer penggunaannya saat ini, karena mampu melawan bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Madu yang memberikan lingkungan hiperosmotik pada luka mampu menghambat pertumbuhan bakteri dan membantu debridemen luka. Madu juga dapat melepaskan hidrogen peroksida secara perlahan pada luka sebagai agen antibakteri.

Namun perlu di ingat bahwa penanganan suatu kanker bukan hanya mengendalikan infeksi sekunder saja, namun harus di obati juga kanker itu sendiri oleh dokter yang ahli di bidangnya karena penyebab dari malador/bau tersebut, akibat adanya sel kanker di dalam tubuh. 

Sedangkan terkait dengan benalu kopi merupakan obat kanker, sampai saat ini belum ada bukti ilmiah yang mendukung hal tersebut.

Semoga bermanfaat

Salam sehat

dr. Supiah S.D Sangadji

 

0 Komentar

Diskusi Pengalaman Anda

Kirim
Back to Top